Oktober 27, 2015

Tulisan : Semoga



Entah kapan doaku mampu menembus langitNya. Entah butuh berapa banyak waktu agar doaku sampai ke Arsy-Nya. Aku tidak pernah tahu mana yang lebih dulu menghampiriku, diijabahnya doaku atau malaikatul maut. Selama ini aku tidak benar-benar tahu apakah doaku telah melewati pintu langit atau hanya menggantung bebas di langit, menunggu giliran masuk oleh doa-doa shaleh dan shalehah lainnya.

Pahamku selama ini aku terus meminta padaNya sesuatu yang aku cintai, padahal tidak pernah sekalipun ku minta hal yang DIA senangi. Semisal, meminta agar kelak ketika ajal menghampiri ku, kamu, kalian, kita, Malaikat maut datang dengan mengetuk pintu. Atau Arsy Allah bergetar hebat saking bahagianya menyambut kita. 

Oktober 23, 2015

Cerpen : Ingin

"Ayah, aku ingin mati." Ucap seorang anak perempuan yang menangis dengan boneka di tangannya.

Oktober 19, 2015

Cerpen : Hati, Gika, Dan Dego

"Sebut saja aku bodoh." Kata Hati memulai obrolan sore dengan Gika.

"Memang kamu bodoh." Timpal Gika.

Hati tertunduk, rasanya ingin menangis namun dia tahan sebisa mungkin agar tidak terlihat lemah di hadapan Gika. Sejak kecil Hati selalu menampilkan sosok dirinya yang kuat di depan Gika, bahkan saat patah tulang sekalipun Hati gak nangis dulu, dia hanya mengerang kesakitan lalu bergegas ke rumah. Dan sekarang kenapa justru bagian lain yang patah dia begitu ingin menangis, tidak mampu menahan pedihnya.

"Kalau mau nangis, nangis saja Ti. Aku bukan orang yang akan menertawakan kebodohanmu atau menertawakan luka mu. Aku kenal kamu sudah lama, dan aku tahu bagaimana kamu saat jatuh cinta." Gika tidak menoleh sedikit pun, pandangannya masih tertuju ke arah anak-anak yang sedang bermain layangan di taman kota.

"Apa Dego begitu berharga buat kamu?" Tanya Gika kemudian yang membuat Hati berbalik dan menatap wajah sahabatnya itu. Hati hanya mengangguk pelan, tanda mengiyakan.

"Berarti mana dia dibandingkan aku?" Gika tersenyum jahil.

"Kamu ngetes aku nih?"

"Bukan ngetes cuma ingin mencari tahu." Lagi-lagi Gika tersenyum.

"Kalian berdua berarti banget, cuma Dego jauh lebih berarti sedikit banyak di bandingkan kamu." Jelas Hati jujur.

"Dan kamu masih terus mencari tahu apa yang Dego kerjakan? Kamu masih mencari tahu apa yang dia buat? Kenapa kamu tidak mencari kebahagiaanmu sendiri Ti?" Lanjut Gika lagi.




"Bahagia itu di rasa Gika, bukan di cari. Aku cukup merasa bahagia hanya dengan mencari tahu Dego baik-baik saja melalui segala hal. Doa, dunia maya, atau sekedar missed called- missed called gak pentingku." Hati tersenyum kecil menjawab pertanyaan Gika.

"Jangan mencari tahu lagi Ti. Jika kamu sudah tahu saat mencari kamu akan terluka, kenapa masih mencari tahu?" Lanjut Gika.

"Karena kadang kala aku khawatir dengannya, aku masih bermimpi buruk tentangnya, dan aku masih menyukainya."

"Jika kamu ingin terus melakukannya, lakukan saja. Dan jangan komplain lagi kenapa hatimu merasa perih saat kamu mencari."

"Iya. Aku gak pernah komplain kok. Kamu tahu sendiri kan, bahagianya masih menjadi bagian dari bahagiaku juga. Maaf, Ka. Aku benar-benar bodoh kan!"

Gika tidak menjawab lagi. Dia tahu sekali Hati, sahabatnya memang bodoh dalam mencintai. Namun, soal ketulusan Hati tidak pernah sebodoh ini. Kadang kadang, menyukai seseorang yang telah membenci kita adalah hal yang paling bodoh yang bisa orang yang sedang menyukai lakukan. Termasuk menunggu, menunggu untuk sesuatu yang mungkin kita tahu bahwa kesempatan yang kita tunggu kembali hanya 0,00000001 %.

Oktober 16, 2015

Cerpen : Menunggu Dan Di tunggu

Ada yang ku tunggu di tengah indahnya senja.
Dia yang lebih indah dibandingkan senja.
Dia yang sebening embun.
Dia yang lebih menyejukkan dibanding hujan.

Suara sorak perempuan memenuhi ruangan begitu Gika selesai membacakan puisinya yang berjudul "Kamu Ku Tunggu". Beberapa peserta yang ikut hadir dalam bedah buku miliknya terlihat terhipnotis. Beberapa bulan memang buku Gika laris manis di pasaran, tak heran dia memiliki banyak pengagum perempuan.

Moderator memberikan kesempatan untuk tiga penanya di sesi pertama ini. Gika yang kebetulan juga sedang mencari, sibuk memperhatikan wajah peserta satu per satu. Ia ingin melihat kalau-kalau orang yang dia tunggu muncul di acara bedah bukunya.

"Terima kasih untuk kesempatannya. Pertanyaan saya, berapa lama waktu yang kak Gika habiskan untuk menulis buku kakak? Hm juga, apa ada kendala selama penulisan hingga terbitnya buku kak Gika?" Tanya penanya pertama yang secara kebetulan seorang perempuan.

Oktober 01, 2015

Cerpen : Rumah

Dua pasang mata sedang menatap langit di sore hari, memandang keindahan senja yang selalu mereka sukai sejak lama. Lebih lama dibandingkan waktu mereka yang di persatukan waktu. Dua pasang mata itu, sedang sibuk. Sibuk mengagumi senja, sementara sepasang mata lainnya sibuk mengagumi senja yang lain. Keduanya terlarut dalam keindahan lainnya.

"Senang ya jadi perempuannya Ego." Kata Hati memulai pembicaraan.

"Apa enaknya? Kamu masih cemburu?" Sambung Gika memalingkan wajahnya.

"Ya senang saja. Salah ya kalau aku cemburu?" Hati menatap wajah Gika, wajah seseorang yang cukup lama menemani masa kecil.

"Aku lebih senang kamu dibanding yang lain." Komentar Gika membuat Hati menatapnya kembali, kali ini cukup lama.

"Maksud kamu?" 

September 23, 2015

Menulis Untukku

Tinta penaku tidak akan pernah habis.
Walau ribuan kalimat ku tulis bak buih.
Rinduku untukmu tidak pernah terkikis.
Walau cintamu kini melangkah menjauh.

Aku menulis...
Bukan untuk mendapatkan apa yang orang-orang cari. Tulisanku ku buat untukku, agar aku bisa keluar dari dunia yang ku buat sejak lama. Menulisku bukan untuk mendapatkan pujian dari orang lain, sebab aku bagian dari kehidupan yang sangat tidak pantas di puji. Menulisku juga bukan untuk ketenaran, sebab aku takut jika suatu hari nanti orang-orang menemukan sisi burukku, mereka akan menjauhiku, sama seperti dia menjauhiku.

September 14, 2015

Manis Di Ujung Pahit

"Bagaimana rasa kopimu hari ini?" Tanyanya dengan mata melotot pada cangkir putih yang ku pegang.

"Manis." Ucapku singkat.

"Bagaimana rasa tehmu hari ini?" Giliran aku yang bertanya.

"Pahit. Namun berujung manis." Ucapnya dengan hati-hati.

"Maksudmu?"

"Hmm... Sama seperti kopimu. Rasanya manis di awal, namun semakin kamu merasainya ada rasa pahit diujungnya. Tehku kebalikan dari kopimu, rasa pekatnya membuatnya pahit namun manis di ujung."