Senja tak pernah lagi nampak. Dia menghilang jauh, tepat sebelum aku mengucapkan selamat tinggal dan sukseslah. Dia pergi tanpa pamit, meninggalkan beberapa tanya yang masih bersarang di hati. Makin lama makin besar saja sarang itu, dan mulai bercabang hingga membuat menjadi penat pikiran-pikiran ini. Senja yang selalu setiap sore aku tunggu adalah dia yang telah berhasil membuatku jatuh hati pada sosok hati dermawan nan baik budi. Dia senja yang selalu membuatku ingin menunggunya, menunggunya muncul lantas berkata "Terima kasih telah mampir".
Langkah-langkah besar sedang ku usahakan, berlari di tengah hujan lebat sebenarnya lebih terlihat aku sedang syuting adegan di film india. Lagi-lagi hujan, entah hujan yang keberapa bulan ini. Aku tidak lagi menghitungnya, malas rasanya menghitung hujan. Sebuah toko kecil tempat aku berteduh begitu sesak, banyak yang ikutan berdiri disana, memandangi hujan yang jatuh dengan riangnya. Seolah hujan hendak mengajak bermain. Ku tutup rapat-rapat ranselku dengan tanganku, di dalam sana barang penting yang tidak boleh basah terkena hujan.
Kami masih bertahan di bawah atap kecil itu, menunggu hujan yang tak kunjung reda. Beberapa bahkan memutuskan menggunakan jasa ojek payung, hanya tinggal beberapa diantara kami yang masih setia menunggu hujan sedikit reda. Dia seorang ibu paruh baya yang menggunakan pakaian yang lusuh, di lengannya terdapat sebuah luka yang entah darimana datangnya. Tak jauh dari si ibu itu ada seorang pemuda yang dengan cueknya duduk di sebuah bangku sambil bersenandung riang mendengarkan lantunan lagu. Heran saya, rasa hormat pada orang tua tampaknya telah punah jaman ini. Tidak lagi pernah saya lihat seseorang memberikan tempat duduk kepada seorang ibu atau bapak. Mereka justru memilih untuk menikmatinya tanpa sadar beberapa diantara orang tua itu berharap diberikan.
Tidak jauh di dekatku berdiri ada seorang yang tampaknya sangat senang dengan hujan. Dia menahan jatuhnya hujan dari atap dengan tangannya. Wajah yang bersemangat, tersenyum hampir selalu kala hujan mengenai tangannya. Di belakang punggungnya ku lihat dia menggunakan ransel, bisa ku tebak, mungkin dia seorang mahasiswa. Semester akhir mungkin. Karena hanya beberapa diantara mereka yang memang lebih senang membawa skripsi untuk di revisi lagi dengan menggunakan ransel.
Hujan berhenti juga akhirnya. Dua jam lebih, dan si pria tadi tidak juga memberikan tempat duduk pada si ibu. Aku kembali berjalan, menunggu angkutan kota yang akan membawaku pulang. Tempat dimana semua mimpi aku kumpulkan. Tempat dimana senja selalu menjadi bagian terindah di kamarku. Dia senja yang sampai sekarang masih sulit ku temukan jalan untuk menghubunginya.
Langkah-langkah besar sedang ku usahakan, berlari di tengah hujan lebat sebenarnya lebih terlihat aku sedang syuting adegan di film india. Lagi-lagi hujan, entah hujan yang keberapa bulan ini. Aku tidak lagi menghitungnya, malas rasanya menghitung hujan. Sebuah toko kecil tempat aku berteduh begitu sesak, banyak yang ikutan berdiri disana, memandangi hujan yang jatuh dengan riangnya. Seolah hujan hendak mengajak bermain. Ku tutup rapat-rapat ranselku dengan tanganku, di dalam sana barang penting yang tidak boleh basah terkena hujan.
Kami masih bertahan di bawah atap kecil itu, menunggu hujan yang tak kunjung reda. Beberapa bahkan memutuskan menggunakan jasa ojek payung, hanya tinggal beberapa diantara kami yang masih setia menunggu hujan sedikit reda. Dia seorang ibu paruh baya yang menggunakan pakaian yang lusuh, di lengannya terdapat sebuah luka yang entah darimana datangnya. Tak jauh dari si ibu itu ada seorang pemuda yang dengan cueknya duduk di sebuah bangku sambil bersenandung riang mendengarkan lantunan lagu. Heran saya, rasa hormat pada orang tua tampaknya telah punah jaman ini. Tidak lagi pernah saya lihat seseorang memberikan tempat duduk kepada seorang ibu atau bapak. Mereka justru memilih untuk menikmatinya tanpa sadar beberapa diantara orang tua itu berharap diberikan.
Tidak jauh di dekatku berdiri ada seorang yang tampaknya sangat senang dengan hujan. Dia menahan jatuhnya hujan dari atap dengan tangannya. Wajah yang bersemangat, tersenyum hampir selalu kala hujan mengenai tangannya. Di belakang punggungnya ku lihat dia menggunakan ransel, bisa ku tebak, mungkin dia seorang mahasiswa. Semester akhir mungkin. Karena hanya beberapa diantara mereka yang memang lebih senang membawa skripsi untuk di revisi lagi dengan menggunakan ransel.
Hujan berhenti juga akhirnya. Dua jam lebih, dan si pria tadi tidak juga memberikan tempat duduk pada si ibu. Aku kembali berjalan, menunggu angkutan kota yang akan membawaku pulang. Tempat dimana semua mimpi aku kumpulkan. Tempat dimana senja selalu menjadi bagian terindah di kamarku. Dia senja yang sampai sekarang masih sulit ku temukan jalan untuk menghubunginya.
Gambar-gambar itu tidak basah, dia tetap kering. Hampir penuh sepanjang dinding di depan meja belajarku gambar wajahnya. Yah, wajah senja yang selalu berhasil membuatku penasaran. Wajah senja juga yang selalu berhasil membuatku tersenyum atau menangis bersamaan. Wajah senja yang pertama kali aku perlihatkan padanya dan dia berkomentar lucu. Wajah-wajah itu berderet rapi, setiap hari jika senggang aku akan menghabiskan sore menunggu senja menggambar raut wajahnya. Dan hasilnya kini hampir satu buku sketsa milikku wajahnya dengan segala versi. Aku tidak begitu mahir menggambar namun ada beberapa diantara gambarku yang cukup mirip dengannya.
Jika ditanya sejak kapan, tidak lagi aku mengingat sejak kapan aku jatuh hati pada senja. Dia muncul dan datang tiba-tiba, seolah Tuhan menunjukkan bahwa akan datang seseorang padamu untuk membuatmu merasa baik. Aku selalu menganggap setiap pertemuan adalah takdir Tuhan, jadi bertemu dengan seseorang memang telah lama direncanakan-Nya. Hanya mungkin Dia terlalu sibuk. Tuhan tidak hanya mengurusi satu manusia kan. Jadi wajar jika kamu meminta lantas apa yang kamu minta datangnya lama.
Oh iya, kali terakhir yang aku tahu senjaku memiliki seseorang di belahan bumi lainnya. Aku tidak pernah tahu siapa itu. Mungkin sedikit banyak dia adalah wanita paling hebat dan cantik rupanya. Karena yang aku tahu, senja punya banyak teman wanita yang cantik. Yah, seperti kebanyakan pria pada umumnya kan. Kembali gambar-gambar itu ku rapikan satu per satu. Disana tertulis tanggal dan ada sebuah catatan yang tanpa sadar pernah aku tulis, "Tidak akan pernah saya lupa momen ini Tuhan. Aku menyukainya!!"
Puas aku menatap gambar-gambar itu segera aku sucikan diri, menghadap pada-Nya. Seperti biasa meminta petunjuk juga semangat. Tempat ternyaman untuk menangis tanpa harus mendengar komentar "Kamu itu cengeng banget sih!", juga tempat ternyaman untuk mengeluh tanpa harus mendengar komentar "Kamu itu kok jadi manusi tidak ada syukurnya sama sekali.". Ku gelar sajadah berwarna pink muda favoritku di rumah. 4 rakaat sebelum tidur...
Kami ngobrol lama, panjang. Sedikit yang aku kutip...
"Apa kabar dia Tuhan?"
"Baikkah? Dia sehat kan? Salahkah jika saat ini saya merindukannya?"
"Apa yang dia lakukan sekarang Tuhan? Kamu menjaganya dengan baik kan, seperti yang aku minta?"
"Oh iya, sampaikan salam rinduku padanya. Jangan lupa untuk menegurnya ketika dia nakal, mengingatkannya ketika dia lupa, membuatnya tersenyum ketika dia sedih."
Obrolan aku dan Tuhan selalu seperti ini. Bertanya untuk sebuah jawabanya yang hatiku sendiri yang menjawabnya. Sebuah pertanyaan yang mungkin sebenarnya tidak membutuhkan banyak jawaban. Dia Tuhanku, Allah SWT selalu menjaganya. Lalu kembali aku perhatikan sajadah tuaku ini, samar-samar aku tulis namanya dibawah nama Allah yang aku tulis di sajadah.
"Ya Allah, izinkan hamba menggelar sajadah bersamanya..."
Senja masih seperti dulu, masih berhati besar, masih memikirkan orang lain. Jika waktu menunggu senja lebih lama, tidak apa-apa. Karena menunggu senja masih menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Bukankah jingga selalu ada untuk senja. Sama seperti Tuhan, untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar