Kondisi
cuaca diawal tahun ini sama saja seperti tahun yang lalu. Masih juga hujan
menyapa, masih juga hujan senang bermain dikala teduh memperhatikannya. Hujan
dan Teduh kini makin berjarak. Teduh masih sering melihat hujan dari kejauhan,
tapi kali ini hujan makin jauh. Tidak lagi mampu teduh meraihnya. Bahkan hanya
untuk menyapa teduh takut, takut jika hujan tidak lagi sebaik dulu, takut jika
hujan tidak lagi mau berbalik dan melihat teduh. Bahkan melihat dari jauh pun
teduh senang.
Sampai
sekarang teduh masih sangat menyukai hujan. Bahkan ketika hujan tidak lagi
menyukainya. Itu sedikit cerita tentang teduh dan hujan. Tentang dua anak
manusia yang menyukai namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tentang sebuah
kehidupan yang mengharuskan mereka bertemu, lalu berpisah sebelum saling
memiliki.
Malam
ini saya hanya bercerita sedikit tentang hujan. Tentangnya yang selalu
membuatku kagum, tentangnya yang membuatku selalu tersenyum sendiri dan kadang
menangis sendiri. Tentang hujan, yang tak akan pernah habis jika saya
bercerita.
-----
Sisa
tangis semalam masih ada, masih melekat di pelupuk mata. Bentakan-bentakan yang
telah lama hilang kini terdengar lagi. Justru lebih kasar di banding
sebelumnya, apa yang bisa saya perbuat. Sebagai seorang anak saya hanya diam,
mendengarkan semua hinaan yang keluar tanpa di filter. Pembelaan pun tak bisa
saya keluarkan, karena sekalipun saya membela diri akhirnya bisa di tebak, si
anak akan kabur meninggalkan rumah.
Siapa
sangka kehidupan saya hampir mirip dengan sinetron-sinetron di TV. Bukan-bukan,
bukan cerita seorang gadis miskin yang disukai pria kaya (Di duniaku, saya
hanya jatuh cinta pada seorang pria yang berhati besar. Seorang pria yang
biasa-biasa saja). Kehidupan yang diatur sedemikian rupa, masa depan yang
ditentukan sedemikian rupa, dan mimpi juga cita-cita yang telah diprogramkan
sedemikian rupa. Padahal yang saya inginkan simple, saya ingin mengerjakan
hal-hal yang menurutku bisa merubah keadaan, seperti mendidik. Atau menikah
dengan orang yang saya sukai yang juga menyukai saya. Atau sebuah mimpi
sederhana “Penulis” yang merangkap sebagai seorang “Dosen”.
Perihal
Gaji yang tinggi saya tidak begitu peduli, selama saya senang melakukannya.
Saya akan menikmati setiap hasilnya. Dibanding mengerjakan sesuatu dengan
tekanan yang luar biasa. Sayangnya sang Diktator itu tidak mengerti apa yang
saya inginkan. Dia hanya terus, terus, dan terus memikirkan soal uang, menjadi
kaya raya (Saya pun ingin, namun bukan dengan cara yang instan), menjadi
seorang politikus (Ohh, this is so Bullshit for me), atau berpacaran dengan
yang pria yang menggunakan mobil (Padahal naik motor lebih seru, apalagi pakai
vespa, romantis). Semuanya selalu dia rencanakan seperti itu, selalu hal yang
bertentangan dengan keinginanku.
Bukannya saya tidak sayang, jika di Tanya
sebesar apa rasa sayang itu maka saya tidak akan mampu menjelaskannya. Maafkan
saya jika dalam tiga hari ini bersikap marah Tuhan, saya terlalu marah
mendengarkan makiannya tempo hari, mengatakan anaknya yang pulang tengah malam
adalah perempuan yang seperti itu. Padahal saya mengerjakan hal yang baik.
Kalaupun demikian janganlah suatu pekerjaan seseorang menjadi suatu hal yang
patut di kecam. Mereka mungkin tidak punya pilihan hingga melakukan pekerjaan
itu, sebagai manusia tugas kitalah mendoakan saudara kita sendiri menuju
kebaikan bukan justru menjadikannya sebagai suatu penyamaan wanita baik-baik
dan wanita tidak baik-baik. Dikatator yang saya sayangi itu masih belum
bijaksana dalam beberapa hal. Dia yang ku sebut ayah, seharusnya bertindak
sebagai seorang pahlawan justru menunjukkan sisi lainnya.
Tidak pernahkah ayah membaca kisah
seorang tukang becak yang bahkan untuk makan dia kurang namun masih mau
menafkahi anak-anak yang yatim yang memerlukan. Ketika di Tanya, jawabannya “kalau
saya meninggal siapa yang akan menghidupi mereka?” (Jika saya tidak salah
ingat) Lihat, bahkan tukang becak yang telah berumur pun jauh lebih bijaksana
dalam beberapa hal, jauh lebih bersikap bak seorang pahlawan. Kita bahkan belum
punya apa-apa ayah, lantas apa yang harus disombongkan?
Tahukah kamu kenapa saya senang
dipanggil dengan nama “Arini Aris” tanpa memakai nama tengahku? Itu karena saya
ingin dikenal sebagai anakmu, anakmu yang terus menjaga nama baikmu dengan
caraku sendiri. Demi Allah, saya bahkan tidak pernah memegang tangan seorang
pria diluar sana. Saya mengajar, membagikan ilmu agar mereka tidak menuju kekafiran.
Saya berusaha menjaga nama baikmu. Dengan caraku sendiri, bukan cara yang kamu
tunjukkan.
Sikapmu yang sekarang ini
benar-benar membuatku ingin menyelesaikan satu hal lantas pergi, jauh. Sangat
jauh. Kelak ketika mampu saya buktikan sebuah buku saya terbit, saya akan
pulang dan menujukkan padamu inilah yang saya cita-citakan sejak lama. Saya
akan menuruti semuanya sekarang, sampai ketika apa yang sama mulai selesai. Hanya
itu.
Dan perihal menikah sesuai saran
adik saya dan kamu, biarkan jadi solusi terakhir saya. Bukankah kamu bilang
belum mapan hati dan uang? Jadi bisakah saya menunggu sampai ketika kamu
sendiri telah mapan, sampai saat itu tiba (Jika kamu masih memiliki rasa yang
sama denganku) saya janji tidak akan melirik yang lain. Hanya jika kamu mau.
Dan lagi, bisakah kamu tetap memberikan semangat, atau tetaplah berdiri di
tempat yang bisa saya lihat. Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar