Januari 01, 2014

SERAMBI CURHAT

Kondisi cuaca diawal tahun ini sama saja seperti tahun yang lalu. Masih juga hujan menyapa, masih juga hujan senang bermain dikala teduh memperhatikannya. Hujan dan Teduh kini makin berjarak. Teduh masih sering melihat hujan dari kejauhan, tapi kali ini hujan makin jauh. Tidak lagi mampu teduh meraihnya. Bahkan hanya untuk menyapa teduh takut, takut jika hujan tidak lagi sebaik dulu, takut jika hujan tidak lagi mau berbalik dan melihat teduh. Bahkan melihat dari jauh pun teduh senang.
Sampai sekarang teduh masih sangat menyukai hujan. Bahkan ketika hujan tidak lagi menyukainya. Itu sedikit cerita tentang teduh dan hujan. Tentang dua anak manusia yang menyukai namun tidak bisa berbuat apa-apa. Tentang sebuah kehidupan yang mengharuskan mereka bertemu, lalu berpisah sebelum saling memiliki.
Malam ini saya hanya bercerita sedikit tentang hujan. Tentangnya yang selalu membuatku kagum, tentangnya yang membuatku selalu tersenyum sendiri dan kadang menangis sendiri. Tentang hujan, yang tak akan pernah habis jika saya bercerita.
-----
Sisa tangis semalam masih ada, masih melekat di pelupuk mata. Bentakan-bentakan yang telah lama hilang kini terdengar lagi. Justru lebih kasar di banding sebelumnya, apa yang bisa saya perbuat. Sebagai seorang anak saya hanya diam, mendengarkan semua hinaan yang keluar tanpa di filter. Pembelaan pun tak bisa saya keluarkan, karena sekalipun saya membela diri akhirnya bisa di tebak, si anak akan kabur meninggalkan rumah.
Siapa sangka kehidupan saya hampir mirip dengan sinetron-sinetron di TV. Bukan-bukan, bukan cerita seorang gadis miskin yang disukai pria kaya (Di duniaku, saya hanya jatuh cinta pada seorang pria yang berhati besar. Seorang pria yang biasa-biasa saja). Kehidupan yang diatur sedemikian rupa, masa depan yang ditentukan sedemikian rupa, dan mimpi juga cita-cita yang telah diprogramkan sedemikian rupa. Padahal yang saya inginkan simple, saya ingin mengerjakan hal-hal yang menurutku bisa merubah keadaan, seperti mendidik. Atau menikah dengan orang yang saya sukai yang juga menyukai saya. Atau sebuah mimpi sederhana “Penulis” yang merangkap sebagai seorang “Dosen”.
Perihal Gaji yang tinggi saya tidak begitu peduli, selama saya senang melakukannya. Saya akan menikmati setiap hasilnya. Dibanding mengerjakan sesuatu dengan tekanan yang luar biasa. Sayangnya sang Diktator itu tidak mengerti apa yang saya inginkan. Dia hanya terus, terus, dan terus memikirkan soal uang, menjadi kaya raya (Saya pun ingin, namun bukan dengan cara yang instan), menjadi seorang politikus (Ohh, this is so Bullshit for me), atau berpacaran dengan yang pria yang menggunakan mobil (Padahal naik motor lebih seru, apalagi pakai vespa, romantis). Semuanya selalu dia rencanakan seperti itu, selalu hal yang bertentangan dengan keinginanku.
       Bukannya saya tidak sayang, jika di Tanya sebesar apa rasa sayang itu maka saya tidak akan mampu menjelaskannya. Maafkan saya jika dalam tiga hari ini bersikap marah Tuhan, saya terlalu marah mendengarkan makiannya tempo hari, mengatakan anaknya yang pulang tengah malam adalah perempuan yang seperti itu. Padahal saya mengerjakan hal yang baik. Kalaupun demikian janganlah suatu pekerjaan seseorang menjadi suatu hal yang patut di kecam. Mereka mungkin tidak punya pilihan hingga melakukan pekerjaan itu, sebagai manusia tugas kitalah mendoakan saudara kita sendiri menuju kebaikan bukan justru menjadikannya sebagai suatu penyamaan wanita baik-baik dan wanita tidak baik-baik. Dikatator yang saya sayangi itu masih belum bijaksana dalam beberapa hal. Dia yang ku sebut ayah, seharusnya bertindak sebagai seorang pahlawan justru menunjukkan sisi lainnya.
      Tidak pernahkah ayah membaca kisah seorang tukang becak yang bahkan untuk makan dia kurang namun masih mau menafkahi anak-anak yang yatim yang memerlukan. Ketika di Tanya, jawabannya “kalau saya meninggal siapa yang akan menghidupi mereka?” (Jika saya tidak salah ingat) Lihat, bahkan tukang becak yang telah berumur pun jauh lebih bijaksana dalam beberapa hal, jauh lebih bersikap bak seorang pahlawan. Kita bahkan belum punya apa-apa ayah, lantas apa yang harus disombongkan?
       Tahukah kamu kenapa saya senang dipanggil dengan nama “Arini Aris” tanpa memakai nama tengahku? Itu karena saya ingin dikenal sebagai anakmu, anakmu yang terus menjaga nama baikmu dengan caraku sendiri. Demi Allah, saya bahkan tidak pernah memegang tangan seorang pria diluar sana. Saya mengajar, membagikan ilmu agar mereka tidak menuju kekafiran. Saya berusaha menjaga nama baikmu. Dengan caraku sendiri, bukan cara yang kamu tunjukkan.
            Sikapmu yang sekarang ini benar-benar membuatku ingin menyelesaikan satu hal lantas pergi, jauh. Sangat jauh. Kelak ketika mampu saya buktikan sebuah buku saya terbit, saya akan pulang dan menujukkan padamu inilah yang saya cita-citakan sejak lama. Saya akan menuruti semuanya sekarang, sampai ketika apa yang sama mulai selesai. Hanya itu.

            Dan perihal menikah sesuai saran adik saya dan kamu, biarkan jadi solusi terakhir saya. Bukankah kamu bilang belum mapan hati dan uang? Jadi bisakah saya menunggu sampai ketika kamu sendiri telah mapan, sampai saat itu tiba (Jika kamu masih memiliki rasa yang sama denganku) saya janji tidak akan melirik yang lain. Hanya jika kamu mau. Dan lagi, bisakah kamu tetap memberikan semangat, atau tetaplah berdiri di tempat yang bisa saya lihat. Itu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar