September 03, 2012

Yess Mom...


Langit pagi ini tampak begitu bersahabat. Matahri dengan ramahnya melebarkan senyum kepada seluruh penghuni daratan. Tak kala yang tertidur terbangun saking silaunya cahaya mentari. Begitu pula Nis, makin hari anak ini tidurnya makin menjadi-jadi. Jika saja di kamarnya tidak ada ventilasi tempat keluar masuknya cahaya mungkin dia bisa tidur hingga matahari benar-benar terik. Dengan malas Leanis meraih ponsel samsungnya, melihat jam. Disana terlihat 05.43 am, Leanis kembali menaruhnya. Tak lama ponsel dia simpan di sampingnya alarm dari ponsel satunya berdering keras.
Kembali dengan malas Leanis membuka pelan matanya, melihat jam lalu mematikan alarmnya. Begitu alarm dimatikan, kembali alarm dari ponsel yang lain berdering. Kali ini Leanis benar-benar membuka matanya. melihat dengan jelas jam yang terpasang di ponselnya. Masih jam segini, tidur 10 menit lagi - batinnya. Leanis kembali menutup matanya setelah menambah waktu tidurnya 10 menit. Matanya terpejam, namun pikirannya melayang entah kemana. Dia masih terkejut dengan apa yang di bacanya di twitter semalam. Walaupun pada kenyataannya dia tidak berhak sama sekali protes.
Kembali Leanis membenamkan kepalanya di bawah bantal kesayangannya, satu-satunya bantal yang tidak pernah dia cuci, dan bantal yang harus selalu ada ketika dia tertidur. Leanis kembali mencerna tweet Adit semalam, pikirannya benar-benar tertuju pada Adit. Dia punya pacar. Gak! ini gak boleh. Gak boleh suka lagi. cukup Leanis! Cukup! - Batinnya lagi. Mata Leanis masih terpejam namum pikiran-pikiran aneh kembali melayang di kepalanya. Perkataan temannya, memory kelam, juga orang tuanya. Apa saya harus bilang iya sekarang ke mama Tuhan?.
Alarm di ponsel Leanis kembali berbunyi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Di biarkannya ponsel itu berbunyi hingga nada yang digunakan sebagai penanda alarm berhenti dengan sendirinya. Leanis mengintip dari bantal Nil-nya, kembali melihat jam lalu dengan rasa malas sambil berbisik menyemangati dirinya sendiri, Leanis bangkit dari tempat tidurnya. Mencari ikat rambutnya, menggunakan sarung balinya sebagai penutup kepala lalu keluar mengambil handuk.
Cuaca dingin menerpa tubuh kurusnya, sesekali Leanis mendekap dirinya, menggosok tangannya untuk menghangatkan tubuhnya. Pagi hari memang selalu dingin, apalagi di tambah dengan harus mandi dengan menggunakan air yang tak kalah dingin. Namun karena kondisi yang memaksanya untuk bangun sepagi ini juga mandi dengan air dingin maka Leanis rela melakukannya, demi sesuap nasi katanya menyemangati perutnya yang mulai keroncongan.
***
            Selesai melakukan ritual paginya Leanis bergegas membungkus badannya dengan beberapa helai kain. Rasa dingin itu kian menusuk, sesekali Leanis tampak menggigil. Cepat-cepat Leanis menggunakan pakaian, takutnya makin lama dia membungkus badannya dengan handuk yang ada malah makin dingin saja. Ketika hendak berangkat ke kantor, Leanis tidak pernah mempersiapkan pakaian kerjanya. Apa yang di hadapannya langsung saja dia tarik dan digunakan. Seperti sekarang, kemeja putih dengan rok batik berwarna hijau dengan campuran merah adalah pilihannya, tak lupa jilbab hijaunya.
            Leanis berdiri di hadapan cermin, dia lama menatap dirinya yang kian hari makin kurus saja terlihat. Baru kali ini Leanis begitu senang menatap setidap detail dari tubuhnya. Dan baru kali ini juga Leanis merasa dia kurang memperhatikan dirinya sendiri. Makan tidak pernah teratur, tidurpun demikian. Asupan makanan juga kadang sangat kurang akan gizi.
            “Apa yang salah dari diri lo? Lo lumayan menurut gue, cuma lo agak bego. Bisa-bisanya lo suka sama orang yang lagi-lagi belum pernah lo liat. Lo gak kapok dengan kejadian beberapa bulan lalu? Lo gak kapok gitu di kibulin? Gue sih kapok banget ngeliat lo di begoin sana-sini. Lo mendingan rubah deh kebiasaan buruk lo yang gampang banget percaya sama orang lain. Oh iya lo rubah juga tuh sikap lo yang dengan mudahnya suka sama orang lain. Kenapa lo gak jadi Leanis yang dulu, Leanis yang cuek. Yang tidak tidak begitu suka jatuh cinta dengan pria selain buku-buku juga kartun. Kenapa lo gak kembali ke Leanis yang dulu, yang galak, yang orangnya keras kepala, dan terpenting Leanis yang tidak pernah gampang terluka kayak gini.” Sahut Leanis memarahi dirinya di depan cermin.
            Leanis mencerna omongan-omongan yang keluar dari mulutnya sendiri. Kali ini dia seolah berperang dengan logika. Hatinya selalu berkata lain, namun logikanya makin hari kian membuatnya sadar. Realita jauh lebih menyakitkan di banding dunia dongeng yang selalu dia ciptakan dalam imajinasinya.
            “Bagaimana caranya kamu dengan begitu cepat melupakan orang yang telah berjasa menyembuhkanmu? Saya akan mencobanya, jadi berhentilah berkata saya bodoh. Saya juga akan menerima perjodohan yang mama lakukan. Sekarang tidak ada lagi harapan, dulu saya berharap dengan dia saya bisa membatalkan perjodohan ini, namun sekarang tidak lagi. Mungkin dengan menuruti keinginan orang tua bisa membuat saya menjadi lebih baik di akhirat kelak, seperti yang selalu mereka lakukan ‘mengontrol kehidupan saya.’ Jadi saya harap kamu berhenti mengatakan hal-hal yang mungkin bisa membuat saya makin benci dengan hidup saya.” Ucap Leanis dalam hati.
            Jika saja abang Leanis tengah bangun di pagi ini mungkin dia akan menyangka adinya telah gila. Berbicara dengan dirinya sendiri di cermin, memang Leanis cukup tertutup jika ada masalah. Dia lebih senang menangis sendirian di kamar ketika terluka, dia lebih senang menasehati dirinya sendiri di banding meminta orang lain menasehatinya, dia bahkan tidak pernah berani mengatakan keinginannya di hadapan orang tuanya. Tiap kali Leanis diminta ini dan itu semua dia kerjakan semata-mata untuk membuat orang tuanya tersenyum dan puas. Sementara dirinya sendiri bahkan tidak pernah puas dengan apa yang dia jalani, hanya karena ikhlas dia bisa bertahan.
***
            Suasana kantor tempat Leanis mencari rezki sudah tampak begitu ramai. Beberapa karyawan sudah duduk di meja masing-masing, ada sibuk membuka yahoo, ada yang sibuk membaca koran, sibuk dengan BB mereka, dan sibuk dengan pekerjaan mereka. Leanis duduk di mejanya, meja yang lumayan berantakan. Disana hanya tertera satu foto, foto rekan-rekan kerja barunya. Bagi Leanis sekarang kantor adalah sebuah rumah baru baginya, teman-temannya di kantor adalah para penghibur hati.
            “Saya sudah bawa DVD eksternalnya.” Sahut Putra begitu melihat Leanis.
            “Kapan saya kembalikan?” tanya Leanis berusaha terlihat normal.
            “Ya, minimal besok lah.”
            “Pelit amat sih! Masa minjemin barang cuma sehari, teman macam apa kamu!” katanya sambil bercanda.
            “Ya, saya kan bilangnya minimal. Jadi maksimalnya terserah deh, hahahah” Putra tertawa disusul tawa Leanis. “Tapi kalau bisa dikembaliinnya cepat ya, soalnya saya pakai buat nonton juga.”
            “Iya pelit!”
            Waktu kembali mengambil alih semua kegiatan. Pagi-pagi yang tadinya semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing kini semuanya terasa di rumah. Jam istirahat membuat semua karyawan bisa saling berinteraksi satu sama lainnya. Tawa juga candaan yang membuat Leanis cukup terhibur hari ini. Padahal selama bekerja Leanis beberapa kali salah dan beberapi kali di tegur. Semua karena pikirannya yang kacau. Bahkan saking kacaunya tanpa pikir panjang Leanis langsung memblok twitter seseorang. Menurutnya dengan tidak pernah melihat tweetnya atau foto atau apalah yang muncul dari jejaring sosial Leanis bisa lupa, sama seperti yang disarankan temannya ketika Leanis putus dari Arya.
            Makan siang kali ini lagi-lagi berkah. Leanis mendapat traktiran dari seorang teman. Kembali lagi dia harus bersikap seolah tidak ada masalah yang sedang dipikirkannya, tersenyum dan menanggapi semua candaan teman-temannya. Sampai ketika salah satu status BBM nya di reply seorang teman.
            “Delete orang = membunuh orang.”
            “Iya kah?” Leanis mengetik satu pertanyaan itu.
            “Menghilangkan nyawa juga namanya, walaupun di dunia maya.”
            Dasar Leanis yang emang gampang di begoin langsung aja berfikir aneh, berarti saya pembunuh dong? Ahhh saya gak mau jadi pembunuh. Kalau nyawanya saya tarik kembali gimana? Bisa gak ya? – batin Leanis lagi. Buru – buru Leanis kembali meng-unblock orang yang di blokirnya, lalu kembali mem-follownya. Baru kali ini dia merasa benar-benar menjadi orang jahat. Tanpa pikir panjang, dia membuka salah satu aplikasi chat, mengirimkan satu pesan singkat dan menunggu orang yang diseberang sana membalasnya.
            “Maaf... karena sudah blokir kamu. Dan maaf karena....” Leanis berhenti menulis. Dalam hatinya dia berkata sudah suka dengan kamu, sangat suka. Lalu kembali Leanis mengetik beberapa kata “Pokoknya maaf.”
***
            “HUAAAAHHHH... BELUM ADA ORANG” teriak Leanis begitu tiba di rumahnya. Semenjak kakaknya yang telah menikah pindah, rumahnya makin menjadi sepi. Kadang Leanis tidak mau pulang karena malas memikirkan hal-hal yang membuatnya bisa mati kebosanan dirumah. Tapi mengingat aturan ayahnya “Pulang kantor langsung pulang” mau gak mau Leanis nurut saja.
            Di tatapnya tempelan bintang yang masih melekat di langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali melayang, satu nama membuatnya hari ini benar-benar tampak seperti kertas yang di remuk-remuk, di sobek lalu di buang. Jauh di dasar lubuk hati Leanis ingin sekali mengatakan pada orang tuanya “Dia lelah bekerja”, namun jika mengingat senyum ayah dan ibunya Leanis kembali menguatkan dirinya, menguatkan tubuhnya, dan kembali fokus untuk mengumpulkan uang.
            “Dia tidak suka sama saya Penguasa Langit. Kau dengar itu?” Leanis menunjuk ke arah bintang besar yang tertempel di langit-langit kamarnya. “Apa saya harus mengiyakan tawaran mama untuk perjodohan itu? Sepertinya iya.” Sambungnya lagi.
            Leanis mengambil ponselnya, menulis beberapa huruf “Saya mau Ma, mama atur saja semuanya. Begitu lulus kuliah mama bisa langsung menggelar acaranya.” Jemarinya kini tertahan di tombol SEND. Air matanya mengalir keluar tanpa ia minta sedikitpun, hatinya masih ragu-ragu untuk memencet tombol SEND.
“Apalagi yang lo tunggu. Kirim sekarang! Lo sudah gak mungkin sama si asing-asing itu. This is more better Nis, orang tua lo gak mungkin milih orang yang salah!”
“Gue tahu itu. Tapi gue juga ingin bisa sama-sama orang yang gue sayang.”
“Lo sayang? Dia gak tuh!” Logika Leanis makin menegaskan posisi Leanis.
Leanis kembali mengulang kata-kata yang dia lontarkan untuk dirinya sendiri, lalu dengan terpaksa menekan tombol SEND. Kali ini sudah cukup baginya melakukan hal-hal bodoh yang mungkin bisa membuatnya makin menjadi bego di depan keluarga juga teman-temannya. Dipeluknya Nil dengan erat, tangisannya makin menjadi. Malam ini dia habiskan dengan menangis, karena menurutnya perasaan bisa lega jika menangis. []
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Ya, setiap manusia boleh berharap namun jangan berharap terlalu berlebihan karena yang berlebihan itu tidak baik. Setiap manusia boleh merencanakan namun jangan merencanakan hal-hal yang mustahil terjadi karena keajaiban itu jarang muncul. Setiap manusia boleh berusaha namun balik lagi Allah yang menentukan semuanya. Tidak perlu ada alasan kenapa saya begitu suka kamu, yang saya tahu saya senang setiap kali melihat kamu tersenyum, seolah senyum itu untuk saya, untuk menguatkan saya. Terima kasih, Penguasa Langit. Terima kasih Sirius. Dengan ini saya resmi berhenti, mata-mata daratan tidak akan ada lagi. Terima kasih juga Adit, dengan ini saya tidak akan menggangu lagi. Ma, Nis tetap menjadi anak mama yang penurut bukan?
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar