Langit pagi ini tampak begitu
bersahabat. Matahri dengan ramahnya melebarkan senyum kepada seluruh penghuni
daratan. Tak kala yang tertidur terbangun saking silaunya cahaya mentari.
Begitu pula Nis, makin hari anak ini tidurnya makin menjadi-jadi. Jika saja di
kamarnya tidak ada ventilasi tempat keluar masuknya cahaya mungkin dia bisa
tidur hingga matahari benar-benar terik. Dengan malas Leanis meraih ponsel
samsungnya, melihat jam. Disana terlihat 05.43 am, Leanis kembali menaruhnya.
Tak lama ponsel dia simpan di sampingnya alarm dari ponsel satunya berdering
keras.
Kembali dengan malas Leanis
membuka pelan matanya, melihat jam lalu mematikan alarmnya. Begitu alarm
dimatikan, kembali alarm dari ponsel yang lain berdering. Kali ini Leanis
benar-benar membuka matanya. melihat dengan jelas jam yang terpasang di
ponselnya. Masih jam segini, tidur 10 menit lagi - batinnya. Leanis
kembali menutup matanya setelah menambah waktu tidurnya 10 menit. Matanya
terpejam, namun pikirannya melayang entah kemana. Dia masih terkejut dengan apa
yang di bacanya di twitter semalam. Walaupun pada kenyataannya dia tidak berhak
sama sekali protes.
Kembali Leanis membenamkan
kepalanya di bawah bantal kesayangannya, satu-satunya bantal yang tidak pernah
dia cuci, dan bantal yang harus selalu ada ketika dia tertidur. Leanis kembali
mencerna tweet Adit semalam, pikirannya benar-benar tertuju pada Adit. Dia
punya pacar. Gak! ini gak boleh. Gak boleh suka lagi. cukup Leanis! Cukup! -
Batinnya lagi. Mata Leanis masih terpejam namum pikiran-pikiran aneh kembali
melayang di kepalanya. Perkataan temannya, memory kelam, juga orang tuanya. Apa
saya harus bilang iya sekarang ke mama Tuhan?.
Alarm di ponsel Leanis kembali
berbunyi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Di biarkannya ponsel itu
berbunyi hingga nada yang digunakan sebagai penanda alarm berhenti dengan
sendirinya. Leanis mengintip dari bantal Nil-nya, kembali melihat jam lalu
dengan rasa malas sambil berbisik menyemangati dirinya sendiri, Leanis bangkit
dari tempat tidurnya. Mencari ikat rambutnya, menggunakan sarung balinya
sebagai penutup kepala lalu keluar mengambil handuk.
Cuaca dingin menerpa tubuh
kurusnya, sesekali Leanis mendekap dirinya, menggosok tangannya untuk
menghangatkan tubuhnya. Pagi hari memang selalu dingin, apalagi di tambah
dengan harus mandi dengan menggunakan air yang tak kalah dingin. Namun karena
kondisi yang memaksanya untuk bangun sepagi ini juga mandi dengan air dingin
maka Leanis rela melakukannya, demi sesuap nasi katanya menyemangati perutnya
yang mulai keroncongan.
***
Selesai
melakukan ritual paginya Leanis bergegas membungkus badannya dengan beberapa
helai kain. Rasa dingin itu kian menusuk, sesekali Leanis tampak menggigil.
Cepat-cepat Leanis menggunakan pakaian, takutnya makin lama dia membungkus
badannya dengan handuk yang ada malah makin dingin saja. Ketika hendak
berangkat ke kantor, Leanis tidak pernah mempersiapkan pakaian kerjanya. Apa
yang di hadapannya langsung saja dia tarik dan digunakan. Seperti sekarang,
kemeja putih dengan rok batik berwarna hijau dengan campuran merah adalah
pilihannya, tak lupa jilbab hijaunya.
Leanis
berdiri di hadapan cermin, dia lama menatap dirinya yang kian hari makin kurus
saja terlihat. Baru kali ini Leanis begitu senang menatap setidap detail dari
tubuhnya. Dan baru kali ini juga Leanis merasa dia kurang memperhatikan dirinya
sendiri. Makan tidak pernah teratur, tidurpun demikian. Asupan makanan juga
kadang sangat kurang akan gizi.
“Apa
yang salah dari diri lo? Lo lumayan menurut gue, cuma lo agak bego.
Bisa-bisanya lo suka sama orang yang lagi-lagi belum pernah lo liat. Lo gak
kapok dengan kejadian beberapa bulan lalu? Lo gak kapok gitu di kibulin? Gue sih
kapok banget ngeliat lo di begoin sana-sini. Lo mendingan rubah deh kebiasaan
buruk lo yang gampang banget percaya sama orang lain. Oh iya lo rubah juga tuh
sikap lo yang dengan mudahnya suka sama orang lain. Kenapa lo gak jadi Leanis
yang dulu, Leanis yang cuek. Yang tidak tidak begitu suka jatuh cinta dengan
pria selain buku-buku juga kartun. Kenapa lo gak kembali ke Leanis yang dulu,
yang galak, yang orangnya keras kepala, dan terpenting Leanis yang tidak pernah
gampang terluka kayak gini.” Sahut Leanis memarahi dirinya di depan cermin.
Leanis
mencerna omongan-omongan yang keluar dari mulutnya sendiri. Kali ini dia seolah
berperang dengan logika. Hatinya selalu berkata lain, namun logikanya makin
hari kian membuatnya sadar. Realita jauh lebih menyakitkan di banding dunia
dongeng yang selalu dia ciptakan dalam imajinasinya.
“Bagaimana caranya kamu dengan begitu cepat
melupakan orang yang telah berjasa menyembuhkanmu? Saya akan mencobanya, jadi
berhentilah berkata saya bodoh. Saya juga akan menerima perjodohan yang mama
lakukan. Sekarang tidak ada lagi harapan, dulu saya berharap dengan dia saya
bisa membatalkan perjodohan ini, namun sekarang tidak lagi. Mungkin dengan menuruti
keinginan orang tua bisa membuat saya menjadi lebih baik di akhirat kelak,
seperti yang selalu mereka lakukan ‘mengontrol kehidupan saya.’ Jadi saya harap
kamu berhenti mengatakan hal-hal yang mungkin bisa membuat saya makin benci
dengan hidup saya.” Ucap Leanis dalam hati.
Jika
saja abang Leanis tengah bangun di pagi ini mungkin dia akan menyangka adinya
telah gila. Berbicara dengan dirinya sendiri di cermin, memang Leanis cukup
tertutup jika ada masalah. Dia lebih senang menangis sendirian di kamar ketika
terluka, dia lebih senang menasehati dirinya sendiri di banding meminta orang
lain menasehatinya, dia bahkan tidak pernah berani mengatakan keinginannya di
hadapan orang tuanya. Tiap kali Leanis diminta ini dan itu semua dia kerjakan semata-mata
untuk membuat orang tuanya tersenyum dan puas. Sementara dirinya sendiri bahkan
tidak pernah puas dengan apa yang dia jalani, hanya karena ikhlas dia bisa
bertahan.
***
Suasana
kantor tempat Leanis mencari rezki sudah tampak begitu ramai. Beberapa karyawan
sudah duduk di meja masing-masing, ada sibuk membuka yahoo, ada yang sibuk
membaca koran, sibuk dengan BB mereka, dan sibuk dengan pekerjaan mereka.
Leanis duduk di mejanya, meja yang lumayan berantakan. Disana hanya tertera
satu foto, foto rekan-rekan kerja barunya. Bagi Leanis sekarang kantor adalah
sebuah rumah baru baginya, teman-temannya di kantor adalah para penghibur hati.
“Saya
sudah bawa DVD eksternalnya.” Sahut Putra begitu melihat Leanis.
“Kapan
saya kembalikan?” tanya Leanis berusaha terlihat normal.
“Ya,
minimal besok lah.”
“Pelit
amat sih! Masa minjemin barang cuma sehari, teman macam apa kamu!” katanya
sambil bercanda.
“Ya,
saya kan bilangnya minimal. Jadi maksimalnya terserah deh, hahahah” Putra
tertawa disusul tawa Leanis. “Tapi kalau bisa dikembaliinnya cepat ya, soalnya
saya pakai buat nonton juga.”
“Iya
pelit!”
Waktu
kembali mengambil alih semua kegiatan. Pagi-pagi yang tadinya semua orang sibuk
dengan pekerjaan masing-masing kini semuanya terasa di rumah. Jam istirahat
membuat semua karyawan bisa saling berinteraksi satu sama lainnya. Tawa juga
candaan yang membuat Leanis cukup terhibur hari ini. Padahal selama bekerja
Leanis beberapa kali salah dan beberapi kali di tegur. Semua karena pikirannya
yang kacau. Bahkan saking kacaunya tanpa pikir panjang Leanis langsung memblok
twitter seseorang. Menurutnya dengan tidak pernah melihat tweetnya atau foto
atau apalah yang muncul dari jejaring sosial Leanis bisa lupa, sama seperti
yang disarankan temannya ketika Leanis putus dari Arya.
Makan
siang kali ini lagi-lagi berkah. Leanis mendapat traktiran dari seorang teman.
Kembali lagi dia harus bersikap seolah tidak ada masalah yang sedang
dipikirkannya, tersenyum dan menanggapi semua candaan teman-temannya. Sampai
ketika salah satu status BBM nya di reply seorang teman.
“Delete
orang = membunuh orang.”
“Iya
kah?” Leanis mengetik satu pertanyaan itu.
“Menghilangkan
nyawa juga namanya, walaupun di dunia maya.”
Dasar
Leanis yang emang gampang di begoin langsung aja berfikir aneh, berarti saya pembunuh dong? Ahhh saya gak
mau jadi pembunuh. Kalau nyawanya saya tarik kembali gimana? Bisa gak ya? –
batin Leanis lagi. Buru – buru Leanis kembali meng-unblock orang yang di
blokirnya, lalu kembali mem-follownya. Baru kali ini dia merasa benar-benar
menjadi orang jahat. Tanpa pikir panjang, dia membuka salah satu aplikasi chat,
mengirimkan satu pesan singkat dan menunggu orang yang diseberang sana
membalasnya.
“Maaf...
karena sudah blokir kamu. Dan maaf karena....” Leanis berhenti menulis. Dalam
hatinya dia berkata sudah suka dengan
kamu, sangat suka. Lalu kembali Leanis mengetik beberapa kata “Pokoknya
maaf.”
***
“HUAAAAHHHH...
BELUM ADA ORANG” teriak Leanis begitu tiba di rumahnya. Semenjak kakaknya yang
telah menikah pindah, rumahnya makin menjadi sepi. Kadang Leanis tidak mau
pulang karena malas memikirkan hal-hal yang membuatnya bisa mati kebosanan
dirumah. Tapi mengingat aturan ayahnya “Pulang kantor langsung pulang” mau gak
mau Leanis nurut saja.
Di
tatapnya tempelan bintang yang masih melekat di langit-langit kamarnya.
Pikirannya kembali melayang, satu nama membuatnya hari ini benar-benar tampak
seperti kertas yang di remuk-remuk, di sobek lalu di buang. Jauh di dasar lubuk
hati Leanis ingin sekali mengatakan pada orang tuanya “Dia lelah bekerja”,
namun jika mengingat senyum ayah dan ibunya Leanis kembali menguatkan dirinya,
menguatkan tubuhnya, dan kembali fokus untuk mengumpulkan uang.
“Dia
tidak suka sama saya Penguasa Langit. Kau dengar itu?” Leanis menunjuk ke arah
bintang besar yang tertempel di langit-langit kamarnya. “Apa saya harus
mengiyakan tawaran mama untuk perjodohan itu? Sepertinya iya.” Sambungnya lagi.
Leanis
mengambil ponselnya, menulis beberapa huruf “Saya mau Ma, mama atur saja
semuanya. Begitu lulus kuliah mama bisa langsung menggelar acaranya.” Jemarinya
kini tertahan di tombol SEND. Air matanya mengalir keluar tanpa ia minta
sedikitpun, hatinya masih ragu-ragu untuk memencet tombol SEND.
“Apalagi yang lo tunggu. Kirim sekarang! Lo sudah gak mungkin sama si
asing-asing itu. This is more better Nis, orang tua lo gak mungkin milih orang
yang salah!”
“Gue tahu itu. Tapi gue juga
ingin bisa sama-sama orang yang gue sayang.”
“Lo sayang? Dia gak tuh!” Logika Leanis makin menegaskan posisi Leanis.
Leanis kembali mengulang
kata-kata yang dia lontarkan untuk dirinya sendiri, lalu dengan terpaksa
menekan tombol SEND. Kali ini sudah cukup baginya melakukan hal-hal bodoh yang
mungkin bisa membuatnya makin menjadi bego di depan keluarga juga
teman-temannya. Dipeluknya Nil dengan erat, tangisannya makin menjadi. Malam
ini dia habiskan dengan menangis, karena menurutnya perasaan bisa lega jika
menangis. []
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih menyadari dan menerima
bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Ya, setiap manusia boleh berharap
namun jangan berharap terlalu berlebihan karena yang berlebihan itu tidak baik.
Setiap manusia boleh merencanakan namun jangan merencanakan hal-hal yang
mustahil terjadi karena keajaiban itu jarang muncul. Setiap manusia boleh berusaha
namun balik lagi Allah yang menentukan semuanya. Tidak perlu ada alasan kenapa
saya begitu suka kamu, yang saya tahu saya senang setiap kali melihat kamu
tersenyum, seolah senyum itu untuk saya, untuk menguatkan saya. Terima kasih,
Penguasa Langit. Terima kasih Sirius. Dengan ini saya resmi berhenti, mata-mata
daratan tidak akan ada lagi. Terima kasih juga Adit, dengan ini saya tidak akan
menggangu lagi. Ma, Nis tetap menjadi anak mama yang penurut bukan?
_Leanis_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar