September 04, 2012

SIMPLE PLAN


            Pagi-pagi buta mata Leanis kembali terbuka, rasanya baru sekitar jam dua malam dia menutup matanya. Entah kenapa malah terbangun di jam 3 subuh. Tubuhnya masih terasa malas beranjak keluar dari dalam selimutnya. Rasa dingin yang membuatnya menggigil juga menambah rasa malasnya. Namun mengingat hari ini dia harus mandi wajib guna membersihkan diri setelah tamu bulanan pergi, Leanis berusaha membuat seolah kamarnya benar-benar panas.
            “HUAAAAHHHH... panas-panas-panas-panas-panas-panas-panas-panas” ucapnya seolah melafalkan mantra. Sepuluh menit Leanis bertindak layaknya anak idiot di kamarnya yang kini mulai terang karena cahaya lampu mengucap berkali-kali mantranya, akhirnya dia merasa tubuhnya mulai berkeringat. “BERHASIL” sambungnya dengan senyum sumringah.
            Buru-buru Leanis menyambar handuknya di keranjang pakaian, mengisi bak mandinya dengan hingga penuh. Sebelum menyentuh air Leanis kembali mengucapkan mantra, “Hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat...” kemudian menyentuh air di dalam bak mandi spontan dia berkata, “Tetep aja dingin! Mantranya salah nih.”
            Sebelum mandi, Leanis kembali melihat pantulan wajahnya di cermin yang tergantung tepat di depan kamar abangnya. Di tatapnya wajahnya lama, senyumnya belum juga muncul. Padahal Leanis sangat suka tersenyum ke dirinya sendiri seraya berkata “Lo emang manis!”. Leanis masih menatap wajahnya, kali ini dia melihat ke arah matanya yang terlihat bengkak. Masih terasa panas juga. Mungkin karena tangisannya semalam yang membuatnya terlihat lebih mirip Panda di banding Leanis.
***
            Jam setengah empat, Leanis melaksanakan sholat Lail. Sebagaimana yang pernah di katakan ustadnya ketika mengikuti pesantren di kampusnya, “Jika kamu ingin dekat dengan Tuhanmu, kerjakan sholat malam secara rutin. Dia akan terus mendengarkan keluh kesahmu.”
            Tangisnya kembali pecah begitu rakaat pertama dia kerjakan. Seminggu tidak bersujud di hadapan Sang Pencipta membuatnya sangat rindu akan sujudnya. Wanita memang selalu terbatas dalam beribadah, setiap bulan akan ada hari dimana wanita di haramkan melaksanakan ibadah bahkan ketika hati begitu ingin.
            Selesai sholat Leanis merebahkan tubuhnya di tempat tidur kembali, rasa pusing yang teramat membuatnya tidak mampu untuk berdiri ataupun duduk. Mungkin karena kurang tidur dan di tambah dengan menyiram kepalanya. Pandangannya kembali menatap tempelan bintang di langit-langit kamarnya. Dia menunjuknya satu persatu berucap pelan seperti berbisik, “Sirius, saya, adit, rendi, arya, mama, papa, ardi, abang, teteh, si bungsu, adit lagi, adit lagi, adit lagi...” Leanis memukul pelan kepalanya tiba-tiba begitu adit terus mengganggu pikirannya. “PENGUASA LANGIT!!” teriaknya spontan.
            Leanis kembali meraih ponselnya, bukan blackberry namun si kuning. Ponsel samsung pemberian abangnya, dibukanya message. Di bagian Inbox dia belum menghapus sms dari Adit, di situ tertulis “Hidup terlalu indah untuk di buat sedih. Semangat Nis!!” Leanis kembali tersenyum, dalam hati ia berucap Iya, hidup terlalu indah untuk di buat melankolis kayak gini. SEMANGAT NIS!! Penguasa langit sedang menguji mata-mata hebatnya.
***
            Pagi hari sebelum berangkat kerja Leanis selalu memasang headset dan memutar lagu sekeras mungkin. Dia selalu melakukan ini semata-mata biar dia tidur di atas motor atau biar dia tidak mengkhayal selama berkendara. Satu lagu dari super junior Mr. Simple menemani beberapa menit perjalanannya menuju kantor. Suara cempreng bak kaleng rombeng menggelegar, sesekali orang yang berhenti disamping Leanis berbalik untuk menatap Leanis. Yang ditatap bukannya berhenti menyanyi malah makin keras suaranya.
            Suaranya benar-benar hilang begitu lagu Ten2Five – You terputar. Memory masa lalu selalu mampir ketika dia mendengar lagu. Memory yang selalu berusaha Nis lupakan, yang selalu membuatnya mengingat sosok si pemuda bandel itu. Mungkin bisa di sebut sekarang seorang ayah yang bandel. Leanis kembali tersenyum ketika mengingat betapa bodohnya dia dulu, juga betapa Tuhan menyayanginya.
            Lagu kini terganti, kini lagu Bruno Mars – Who Is yang Leanis dengarkan. Suaranya makin menjadi-jadi. Begitu tiba di parkiran kantor Leanis diam seribu bahasa, baginya tidak lucu mempermalukan dirinya sendiri di depan orang-orang kantor.
            Suasana ruangan kantor Leanis sudah tampak ramai, jam menunjukkan pukul 7.53 am yang artinya sudah sepantasnya kantor terlihat ramai sekarang. Baru saja Leanis menyalakan komputer tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di lihatnya sebuah pesan singkat dari seorang teman.
            “Semalam sudah tidur ya?”
            “Iya. Pending mulu tahu bbm kamu. Pakai kartu apa emang?” balas Leanis.
            “Simpati doong.” Balasnya bangga.
            “Ganti! Sekarang! Jaringanya sumpah jelek abis!”
            Sepuluh menit pertama di kantor Leanis asyik chatting dengan temannya, senyumnya juga terus ngembang. Namun ekspresinya berubah hingga temannya berkata, “Boleh saya minta tempat di hati kamu?”
            “Apaan??? Kamu kira hati saya tempat penitipan barang.” Leanis membalasnya dengan bercanda. Leanis juga pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya ini bukan pertama kalinya seseorang menyatakan perasaannya secara tidak langsung kepadanya.    
            “Gue serius nyet!” balas teman Nis.
            “Saya lebih suka Noah. Dan terjadi lagi~ kisah lama yang terulang kembali~” Leanis kembali membalas dengan candaan.
            “Tau ah... kerja sana!”
            Pikirannya kembali tertuju ke twitter, dari pagi ia bangun belum pernah dia membuka twitternya. Belum juga dia stalking ria di timeline Adit, rasa penasaran kian membuatnya ingin membuka twitternya. Leanis melihat daftar followingnya lalu di bukannya profile Adit, ada rasa sesak tiba-tiba yang Leanis rasakan. Ahh bego, udah di bilang gak usah dibuka! Batinnya. Buru-buru Leanis menutup twitternya kembali. Lalu kembali fokus bekerja walaupun kepalanya begitu sakit saking kurangnya dia tidur.
***
            Jam istirahat, Leanis kembali memikirkan kata-kata Zalia, “Kakak kalau cari pacar cari yang sayang sama kakak. Jangan cuma kakak doang yang sayang sama dia.” Tiba-tiba hatinya ikut melontarkan pertanyaan, “Emang ada gitu ya yang sayang sama saya?”. Leanis kembali mengingat chattingannya dengan teman lamanya itu.
            Begitu kembali dari makan siang, Leanis dan Zalia kembali ngobrol. Masih seputar Leanis, kali ini Zalia yang memegang kendali atas obrolan mereka.
            “Kakak dulu pernah punya pacar ya?” Tanyanya sambil berbisik. Leanis hanya mengangguk tanpa ekspresi sedikitpun.
            “Kenapa bisa putus?” sambungnya lagi. Kali ini Leanis diam, tidak ada kata-kata yang terlintas di pikirannya. Semenit kemudian, Leanis kembali tersenyum. Dia menatap Zalia lalu berucap, “Karena Allah belum meridhoi kami bersama.”
            “Yee, standar amat jawabannya.” Zalia manyun. “Lebih baik kakak sekarang cari pacar yang sayang kakak, jangan yang kakak teramat sayang sama dia.”
            “Sekarang bukan lagi waktunya saya pacar-pacaran seperti katamu. Kalau nanti ketemu seseorang yang sayang sama saya juga saya sayang sama dia mungkin gak perlu pakai status, jalani saja.” Leanis kembali tersenyum. “Sudah kerja sana, nanti dimarahin lagi kita.”
***
            Sampai rumah Leanis menatap burung-burung bangau buatannya. Jumlahnya ada 12, setiap bangau mewakili setiap doa untuk orang yang berbeda. Leanis lalu cepat menyambar ponselnya dikirimkannya sebuah pesan singkat kepada temannya, “Sabtu nanti temanin saya ke pantai ya. Cari balon gas.”
            Gak cukup semenit pesannya dibalas, “buat apa?”
            “Mau nerbangin ini...” Leanis mengirimkan gambar burung dari kertas origami buatannya.
            “Kamu juga mau ikutan terbang?” Balas teman Leanis bercanda.
            “Saya terbangnya nanti, ketika malaikat maut menjemput. Jadi penghuni langit deh.”
            “Kamu ini kebanyakan nonton film dongeng deh. Yang ada begitu kita terbangin kita disangka orang gila.”
            “Emang saya sudah gila. Pokoknya kabari aja kalau kamu gak bisa nemenin, siang hari kasih saya kabar. Udah mau sholat dulu.”
            Ponsel dia matikan segera, lalu Leanis bergegas mengambil air wudhu. Mengerjakan sholat magrib dan menunggu hingga adzan sholat isha datang. Begitu selesai melaksanakan kewajibannya Leanis kembali tiduran sambil menghadap ke arah langit-langit kamarnya. Bintang-bintang itu kembali dia perhatikan. Otaknya berputar keras.
            “Kenapa saya gak minta tolong ya sama Beni. Beni bisa nolong saya biar perjodohan yang mama atur gak jadi.” Leanis spontan bangkit dari posisi tidurnya. Leanis mengambil ponselnya menelpon Pia untuk dimintai saran.
            “Kenapa?” Sahut wanita di seberang telepon.
            “Menurut kamu, kalau saya bohong biar gak jadi dijodohin dosa gak?”
            “Ya dosa dong. Apapun itu mau baik kek kalau bohong ya tetap dosa.”
            “Tapi ini demi masa depan saya. Saya gak mau dijodohin piaaa....”
            “Lah terus kenapa kemarin kamu bilang kalau kamu sudah setuju?”
            “Itu karena Adit. Dia nolak saya, tapi sekarang beda. Saya tetap gak mau. Please bantu alibi saya.” Leanis memelas.
            “Iya. Iya gue bantu. Buruan bilang gue mesti ngapain?”      
Leanis lalu memberitahu setiap detail apa yang harus Pia kerjakan, Pia hanya berkata “hmmm” atau “oke” atau “iya” selama Leanis menerangkan tugasnya. Sesekali Pia juga membalasnya dengan bercanda yang membuat Leanis benar-benar gemes sama sahabatnya yang satu ini.
“Kenapa lo gak coba nyari kerja di luar kota? Ini justru alasan yang paling masuk akan Nis, daripada lo bohong.” Saran Pia.
“Iya, itu juga udah saya usahakan. Tapi biar mama benar-benar yakin harus pakai cara yang satu itu dulu. Begitu mama membatalkan semuanya, saya akan berusaha keras untuk keluar dari kota ini. Kemanapun asal tidak satu kota dengan si Adit.”
“Hahahaha, sumpah lo itu drama abis.” Pia tertawa keras. “Ya sudah kapan kita jalankan rencana spektakuler ini?”
“Nanti saya bakalan nelpon mama. Begitu mama ke sini saya akan bawa Beni sebagai tersangka utamanya.”
“Kalau Beni bener-bener suka sama lo gimana?”
“Hmmm” Leanis berfikir sejenak. “Gak bakalan. Saya manusia paling aneh sepanjang abad. Saya bakalan bicara dulu sama Beni, minta tolong sama dia baik-baik jadi tenang saja.” Leanis sedikit lega.
Obrolan singkat itu di tutup dengan Pia yang ketiduran di ujung telepon. Leanis mengunci kamarnya, baru kali ini Leanis merasa tenang. Tidak perlu khawatir lagi tentang masalah perjodohan. Kali ini Leanis akan berusaha, berusaha agar dia tidak perlu menikah dengan pria yang tidak pernah dia temui bahkan tidak pernah dia suka sedikitpun. Akan ada saatnya Tuhan mempertemukan dia dengan seseorang. Walaupun pada kenyataannya, Leanis masih susah melupakan Mr. A.[ ]
Orang mungkin menganggap saya bodoh, bego atau apalah. Tapi mereka tidak begitu tahu saya. Harapan memang lebih besar dari rasa takut. Kekuatan harapan memang tidak ada batasnya. Sampai detik ini saya masih berharap tidak ada lagi sitti nurbaya, tidak juga itu terjadi pada saya. Melupakan orang itu tidak instan, terkadang dia datang seperti hantu tanpa diminta. Suatu hari nanti pasti bisa. Hanya tinggal menunggu waktu yang pas. Untuk Penguasa Langit, tolong perhatikan penghuni daratan yang satu itu. Namanya Adit, dia anak yang baik. Bantu dia ketika dia kesulitan sama seperti Kau selalu membantuku mata-mata terhebatmu.
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar