Pagi-pagi buta mata Leanis kembali
terbuka, rasanya baru sekitar jam dua malam dia menutup matanya. Entah kenapa
malah terbangun di jam 3 subuh. Tubuhnya masih terasa malas beranjak keluar
dari dalam selimutnya. Rasa dingin yang membuatnya menggigil juga menambah rasa
malasnya. Namun mengingat hari ini dia harus mandi wajib guna membersihkan diri
setelah tamu bulanan pergi, Leanis berusaha membuat seolah kamarnya benar-benar
panas.
“HUAAAAHHHH...
panas-panas-panas-panas-panas-panas-panas-panas” ucapnya seolah melafalkan
mantra. Sepuluh menit Leanis bertindak layaknya anak idiot di kamarnya yang
kini mulai terang karena cahaya lampu mengucap berkali-kali mantranya, akhirnya
dia merasa tubuhnya mulai berkeringat. “BERHASIL” sambungnya dengan senyum
sumringah.
Buru-buru Leanis menyambar handuknya
di keranjang pakaian, mengisi bak mandinya dengan hingga penuh. Sebelum
menyentuh air Leanis kembali mengucapkan mantra, “Hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat-hangat...”
kemudian menyentuh air di dalam bak mandi spontan dia berkata, “Tetep aja
dingin! Mantranya salah nih.”
Sebelum mandi, Leanis kembali
melihat pantulan wajahnya di cermin yang tergantung tepat di depan kamar
abangnya. Di tatapnya wajahnya lama, senyumnya belum juga muncul. Padahal Leanis
sangat suka tersenyum ke dirinya sendiri seraya berkata “Lo emang manis!”.
Leanis masih menatap wajahnya, kali ini dia melihat ke arah matanya yang
terlihat bengkak. Masih terasa panas juga. Mungkin karena tangisannya semalam
yang membuatnya terlihat lebih mirip Panda di banding Leanis.
***
Jam setengah empat, Leanis
melaksanakan sholat Lail. Sebagaimana yang pernah di katakan ustadnya ketika
mengikuti pesantren di kampusnya, “Jika kamu ingin dekat dengan Tuhanmu,
kerjakan sholat malam secara rutin. Dia akan terus mendengarkan keluh kesahmu.”
Tangisnya kembali pecah begitu
rakaat pertama dia kerjakan. Seminggu tidak bersujud di hadapan Sang Pencipta
membuatnya sangat rindu akan sujudnya. Wanita memang selalu terbatas dalam
beribadah, setiap bulan akan ada hari dimana wanita di haramkan melaksanakan
ibadah bahkan ketika hati begitu ingin.
Selesai sholat Leanis merebahkan
tubuhnya di tempat tidur kembali, rasa pusing yang teramat membuatnya tidak
mampu untuk berdiri ataupun duduk. Mungkin karena kurang tidur dan di tambah
dengan menyiram kepalanya. Pandangannya kembali menatap tempelan bintang di
langit-langit kamarnya. Dia menunjuknya satu persatu berucap pelan seperti berbisik,
“Sirius, saya, adit, rendi, arya, mama, papa, ardi, abang, teteh, si bungsu,
adit lagi, adit lagi, adit lagi...” Leanis memukul pelan kepalanya tiba-tiba
begitu adit terus mengganggu pikirannya. “PENGUASA LANGIT!!” teriaknya spontan.
Leanis kembali meraih ponselnya,
bukan blackberry namun si kuning. Ponsel samsung pemberian abangnya, dibukanya
message. Di bagian Inbox dia belum menghapus sms dari Adit, di situ tertulis “Hidup
terlalu indah untuk di buat sedih. Semangat Nis!!” Leanis kembali tersenyum,
dalam hati ia berucap Iya, hidup terlalu
indah untuk di buat melankolis kayak gini. SEMANGAT NIS!! Penguasa langit
sedang menguji mata-mata hebatnya.
***
Pagi hari sebelum berangkat kerja
Leanis selalu memasang headset dan memutar lagu sekeras mungkin. Dia selalu
melakukan ini semata-mata biar dia tidur di atas motor atau biar dia tidak
mengkhayal selama berkendara. Satu lagu dari super junior Mr. Simple menemani
beberapa menit perjalanannya menuju kantor. Suara cempreng bak kaleng rombeng
menggelegar, sesekali orang yang berhenti disamping Leanis berbalik untuk
menatap Leanis. Yang ditatap bukannya berhenti menyanyi malah makin keras
suaranya.
Suaranya benar-benar hilang begitu
lagu Ten2Five – You terputar. Memory masa lalu selalu mampir ketika dia
mendengar lagu. Memory yang selalu berusaha Nis lupakan, yang selalu membuatnya
mengingat sosok si pemuda bandel itu. Mungkin bisa di sebut sekarang seorang
ayah yang bandel. Leanis kembali tersenyum ketika mengingat betapa bodohnya dia
dulu, juga betapa Tuhan menyayanginya.
Lagu kini terganti, kini lagu Bruno
Mars – Who Is yang Leanis dengarkan. Suaranya makin menjadi-jadi. Begitu tiba
di parkiran kantor Leanis diam seribu bahasa, baginya tidak lucu mempermalukan
dirinya sendiri di depan orang-orang kantor.
Suasana ruangan kantor Leanis sudah
tampak ramai, jam menunjukkan pukul 7.53 am yang artinya sudah sepantasnya
kantor terlihat ramai sekarang. Baru saja Leanis menyalakan komputer tiba-tiba
ponselnya berbunyi. Di lihatnya sebuah pesan singkat dari seorang teman.
“Semalam sudah tidur ya?”
“Iya. Pending mulu tahu bbm kamu. Pakai
kartu apa emang?” balas Leanis.
“Simpati doong.” Balasnya bangga.
“Ganti! Sekarang! Jaringanya sumpah
jelek abis!”
Sepuluh menit pertama di kantor
Leanis asyik chatting dengan temannya, senyumnya juga terus ngembang. Namun ekspresinya
berubah hingga temannya berkata, “Boleh saya minta tempat di hati kamu?”
“Apaan??? Kamu kira hati saya tempat
penitipan barang.” Leanis membalasnya dengan bercanda. Leanis juga pernah
mengalami hal seperti ini sebelumnya ini bukan pertama kalinya seseorang
menyatakan perasaannya secara tidak langsung kepadanya.
“Gue serius nyet!” balas teman Nis.
“Saya lebih suka Noah. Dan terjadi
lagi~ kisah lama yang terulang kembali~” Leanis kembali membalas dengan
candaan.
“Tau ah... kerja sana!”
Pikirannya kembali tertuju ke
twitter, dari pagi ia bangun belum pernah dia membuka twitternya. Belum juga
dia stalking ria di timeline Adit, rasa penasaran kian membuatnya ingin membuka
twitternya. Leanis melihat daftar followingnya lalu di bukannya profile Adit,
ada rasa sesak tiba-tiba yang Leanis rasakan. Ahh bego, udah di bilang gak usah dibuka! Batinnya. Buru-buru
Leanis menutup twitternya kembali. Lalu kembali fokus bekerja walaupun
kepalanya begitu sakit saking kurangnya dia tidur.
***
Jam istirahat, Leanis kembali
memikirkan kata-kata Zalia, “Kakak kalau cari pacar cari yang sayang sama
kakak. Jangan cuma kakak doang yang sayang sama dia.” Tiba-tiba hatinya ikut
melontarkan pertanyaan, “Emang ada gitu
ya yang sayang sama saya?”. Leanis kembali mengingat chattingannya dengan
teman lamanya itu.
Begitu kembali dari makan siang,
Leanis dan Zalia kembali ngobrol. Masih seputar Leanis, kali ini Zalia yang
memegang kendali atas obrolan mereka.
“Kakak dulu pernah punya pacar ya?”
Tanyanya sambil berbisik. Leanis hanya mengangguk tanpa ekspresi sedikitpun.
“Kenapa bisa putus?” sambungnya
lagi. Kali ini Leanis diam, tidak ada kata-kata yang terlintas di pikirannya.
Semenit kemudian, Leanis kembali tersenyum. Dia menatap Zalia lalu berucap, “Karena
Allah belum meridhoi kami bersama.”
“Yee, standar amat jawabannya.”
Zalia manyun. “Lebih baik kakak sekarang cari pacar yang sayang kakak, jangan
yang kakak teramat sayang sama dia.”
“Sekarang bukan lagi waktunya saya
pacar-pacaran seperti katamu. Kalau nanti ketemu seseorang yang sayang sama
saya juga saya sayang sama dia mungkin gak perlu pakai status, jalani saja.”
Leanis kembali tersenyum. “Sudah kerja sana, nanti dimarahin lagi kita.”
***
Sampai rumah Leanis menatap
burung-burung bangau buatannya. Jumlahnya ada 12, setiap bangau mewakili setiap
doa untuk orang yang berbeda. Leanis lalu cepat menyambar ponselnya
dikirimkannya sebuah pesan singkat kepada temannya, “Sabtu nanti temanin saya
ke pantai ya. Cari balon gas.”
Gak cukup semenit pesannya dibalas, “buat
apa?”
“Mau nerbangin ini...” Leanis
mengirimkan gambar burung dari kertas origami buatannya.
“Kamu juga mau ikutan terbang?”
Balas teman Leanis bercanda.
“Saya terbangnya nanti, ketika
malaikat maut menjemput. Jadi penghuni langit deh.”
“Kamu ini kebanyakan nonton film
dongeng deh. Yang ada begitu kita terbangin kita disangka orang gila.”
“Emang saya sudah gila. Pokoknya
kabari aja kalau kamu gak bisa nemenin, siang hari kasih saya kabar. Udah mau
sholat dulu.”
Ponsel dia matikan segera, lalu
Leanis bergegas mengambil air wudhu. Mengerjakan sholat magrib dan menunggu
hingga adzan sholat isha datang. Begitu selesai melaksanakan kewajibannya
Leanis kembali tiduran sambil menghadap ke arah langit-langit kamarnya.
Bintang-bintang itu kembali dia perhatikan. Otaknya berputar keras.
“Kenapa saya gak minta tolong ya
sama Beni. Beni bisa nolong saya biar perjodohan yang mama atur gak jadi.”
Leanis spontan bangkit dari posisi tidurnya. Leanis mengambil ponselnya
menelpon Pia untuk dimintai saran.
“Kenapa?” Sahut wanita di seberang
telepon.
“Menurut kamu, kalau saya bohong
biar gak jadi dijodohin dosa gak?”
“Ya dosa dong. Apapun itu mau baik
kek kalau bohong ya tetap dosa.”
“Tapi ini demi masa depan saya. Saya
gak mau dijodohin piaaa....”
“Lah terus kenapa kemarin kamu
bilang kalau kamu sudah setuju?”
“Itu karena Adit. Dia nolak saya,
tapi sekarang beda. Saya tetap gak mau. Please bantu alibi saya.” Leanis
memelas.
“Iya. Iya gue bantu. Buruan bilang
gue mesti ngapain?”
Leanis lalu memberitahu setiap detail apa yang harus
Pia kerjakan, Pia hanya berkata “hmmm” atau “oke” atau “iya” selama Leanis
menerangkan tugasnya. Sesekali Pia juga membalasnya dengan bercanda yang
membuat Leanis benar-benar gemes sama sahabatnya yang satu ini.
“Kenapa lo gak coba nyari kerja di luar kota? Ini
justru alasan yang paling masuk akan Nis, daripada lo bohong.” Saran Pia.
“Iya, itu juga udah saya usahakan. Tapi biar mama
benar-benar yakin harus pakai cara yang satu itu dulu. Begitu mama membatalkan
semuanya, saya akan berusaha keras untuk keluar dari kota ini. Kemanapun asal
tidak satu kota dengan si Adit.”
“Hahahaha, sumpah lo itu drama abis.” Pia tertawa
keras. “Ya sudah kapan kita jalankan rencana spektakuler ini?”
“Nanti saya bakalan nelpon mama. Begitu mama ke sini
saya akan bawa Beni sebagai tersangka utamanya.”
“Kalau Beni bener-bener suka sama lo gimana?”
“Hmmm” Leanis berfikir sejenak. “Gak bakalan. Saya
manusia paling aneh sepanjang abad. Saya bakalan bicara dulu sama Beni, minta
tolong sama dia baik-baik jadi tenang saja.” Leanis sedikit lega.
Obrolan singkat itu di tutup dengan Pia yang
ketiduran di ujung telepon. Leanis mengunci kamarnya, baru kali ini Leanis
merasa tenang. Tidak perlu khawatir lagi tentang masalah perjodohan. Kali ini
Leanis akan berusaha, berusaha agar dia tidak perlu menikah dengan pria yang
tidak pernah dia temui bahkan tidak pernah dia suka sedikitpun. Akan ada
saatnya Tuhan mempertemukan dia dengan seseorang. Walaupun pada kenyataannya,
Leanis masih susah melupakan Mr. A.[ ]
Orang mungkin
menganggap saya bodoh, bego atau apalah. Tapi mereka tidak begitu tahu saya. Harapan
memang lebih besar dari rasa takut. Kekuatan harapan memang tidak ada batasnya.
Sampai detik ini saya masih berharap tidak ada lagi sitti nurbaya, tidak juga
itu terjadi pada saya. Melupakan orang itu tidak instan, terkadang dia datang
seperti hantu tanpa diminta. Suatu hari nanti pasti bisa. Hanya tinggal
menunggu waktu yang pas. Untuk Penguasa Langit, tolong perhatikan penghuni
daratan yang satu itu. Namanya Adit, dia anak yang baik. Bantu dia ketika dia
kesulitan sama seperti Kau selalu membantuku mata-mata terhebatmu.
_Leanis_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar