Langkah-langkah kecil Ardi adik Nis
membuat Nis sangat sulit mengikutinya. Beberapa kali Nis berteriak berusaha
menahan Ardi agar menunggunya namun Ardi terus berlari kecil meninggalkannya
sendiri. Samar Ardi berucap padanya “Nanti ketemu disini lagi, saya boncengin
kamu pulang.” Nis hanya mengangguk lalu menghentikan langkahnya. Dia
mengamati sebuah bangunan yang kini
tempatnya berdiri. Dari kejauhan dia melihat segerombol orang sedanng duduk
dalam sebuah forum. Nis mempertajam penglihatnya, “Adit” ucapnya pelan. Nis
hendak melangkah maju, melihat lebih jelas sosok Adit yang tengah duduk dalam
forum itu. Kemeja putih, itulah yang digunakan Adit. Baru beberapa langkah Nis
berjalan, Ardi kembali mengagetkannya dan menariknya menjauh. Namun karena
suara keras Ardi orang-orang dalam forum itu sontak berbalik dan melihat Nis.
Pemandangan kembali berganti, kali
ini Nis mendapati dirinya tengah sibuk dengan ponselnya. Dia menatap satu
pemberitahuan dalam ponselnya, pesan singkat dari Adit “Kenapa cewek lebih suka
ngobrol atau curhat dengan cowok?” sebuah pertanyaan, langsung saja dijawab
Nis, “Karena dia merasa nyaman mungkin.” Ada jeda diantara chattingan mereka,
untuk beberapa menit Nis masih memikirkan pertanyaan Adit. Semenit ponsel Nis
berdering, satu telepon dari Adit. Buru-buru Nis mengangkatnya, tidak ada
obrolan penting yang terjadi hingga Adit berkata, “Saya suka mantannya, bukan
kamu Nis.”
Nis terbangun saking terkejutnya,
mimpi barusan benar-benar terasa nyata. Dia melihat jam di ponselnya 10.30 AM,
waktu tidurnya masih kurang terasa. Baru saja dia menutup matanya begitu Fajar
terbit kini harus terbangun karena mimpi buruk. Nis kembali merebahkan
tubuhnya, tatapannya kini mengarah ke langit-langit kamarnya. Disana tertempel
bintang-tintang kecil yang setiap bangun pagi dapat dia nikmati. Tempelan
bintang itu kerjaan pacar adik Nis.
Nis sekamar dengan Ardi adik
keempatnya, ketika Ardi berulang tahun pacarnya meminta Nis untuk menempeli langit-langit
kamarnya tempat dimana posisi tidur adiknya. Awalnya Nis tidak mau
melakukannya, jujur saja itu membuatnya itu karena itu dia enggan melakukannya
tapi karena mengingat dia juga suka dengan bintang mungkin dia bisa melepaskan
rindunya untuk melihat bintang dengan melihat bintang pemberian orang lain
untuk adiknya.
Matanya Nis masih menatap
bintang-bintang kecil itu. Jumlahnya ada 18, satu-satunya cara menghilangkan
pikiran tentang mimpi buruk tadi. Apa
lagi yang kamu pikirkan, sudah jelas kan dia tidak menyukaimu. Apa kamu bodoh
terus-terus berharap dia suka denganmu? Jelas-jelas dia menyukai orang lain
Leanis, suara-suara di kepala Nis mulai berkomentar. Nis menutup matanya, tidak
ingin mendengarkan suara-suara itu. Namun makin dia menutup dirinya makin keras
suara-suara itu mengingatkannya. Lupakan
Leanis. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Ingat bagaimana Rendi
memperlakukanmu, bahkan ketika secara jelas dia tahu kamu menyukainya. Apa itu
belum cukup jadi pelajaran buat kamu?
“CUKUP! BERHENTILAH MENGATAKAN
HAL-HAL YANG TIDAK BEGITU PENTING! SAYA TAHU APA HARUS SAYA LAKUKAN.” Kali ini
Leanis berteriak sendiri. Dia menatap dirinya dari pantulan cermin, rambutnya
masih kusut. Mukanya masih terlihat mengantuk, bahkan kantung matanya makin
bertambah. Wajah kelelahan itu muncul, membuatnya tampak seperti zombie.
Kembali melemparkan tubuhnya dan
berbaring, di sisi kanannya dia mengambil dua lembar kertas yang kini sudah
terisi dengan gambar Adit. Semalaman dia menggambar itu, tanpa merasa kantuk.
Baru kali ini Leanis melakukan sesuatu dan menginginkan kesempurnaan. Leanis
menggambar wajah Adit semirip mungkin. Bahkan di ponselnya foto gambar itu
sudah banyak dia ambil. Lumayan mirip,
batinnya.
***
Siang hari Leanis masih merasakan
pusing, tidurnya hanya beberapa jam dan itu yang membuatnya benar-benar malas
beranjak lagi dari tempat tidurnya. Di ambil ponselnya lalu mencari satu nama,
Wiwi. Satu nama yang menjadi tempatnya menumpahkan segala kekesalan hatinya.
PING.
Nis lama menunggu balasan Wiwi. Baru
sekitar sepuluh menit kemudian ada balasnya dengan satu kata tanya, “Ada apa?”
Buru-buru Nis kembali melontarkan
pertanyaan, “Wi, bagaimana caranya agar saya bisa lupa dengan orang yang saya
suka?”. Nis menatap ponselnya, disana tertera huruf D diatas tanda centang
tanda Wiwi belum memabac pesan darinya. Begitu tanda itu berubah menjadi huruf
R Leanis tersenyum puas.
“Kamu bisa mulai dengan
menghapusnya. Menghapus segala kenangan tentangnya. Atau sebisa mungkin kamu
tidak melihatnya, entah itu kamu melihatnya di jejaring sosial atau dimanapun.
Fokusin pikiran kamu sama Allah saja, tiap kali ingat dzikir. Insya Allah nanti
akan terbiasa juga.”
Kali ini Nis yang bingung harus
membalas pesan itu dengan perkataan apa. Dia pernah melakukannya, Nis pernah
menghapus Adit dari akun Facebooknya itu semata-mata agar Nis tidak lagi
melihat Adit. Agar ia tidak tergoda untuk membuka profil Adit. Agar rasa
sukanya tidak lagi bertambah. Bahkan pernah Nis berniat memblokirnya dari
twitter namun mengingat apa yang Pia katakan Nis mengurungkan niatnya.
Di tatapnya aplikasi whatsapp di
ponselnya berkali-kali seraya berbisik pada dirinya “ini juga harus di hapus.”
Tapi jemarinya enggan menekan tombol delete. Lalu dia kembali melihat daftar
contact di ponselnya. Deretan pertama dia melihat nama Adit kembali dia seolah
berbisik pada dirinya, “Harusnya yang ini yang dihapus, bukan aplikasinya.” Namun
kemballi lagi jemarinya enggan menekan delete. Ia mengingat pekataan Pia ketika
menceritakan kalau dia baru saja menghapus Adit dari FB-nya, dengan Pia
berkomentar “Kamu mau mutusin tali silaturahim gara-gara kamu mau lupain dia? Gak
gitu Nis caranya, kamu itu terlalu kekanak-kanakan sekali.”
Lalu
saya harus bagaimana Tuhan? Batin Nis lagi. Kali ini Nis tidak mampu
menahan air matanya, siang itu hingga dzuhur tiba Nis menangis sejadi-jadinya. Menyesali
dirinya yang dengan mudahnya jatuh cinta pada orang yang lagi-lagi tidak tepat.
***
You did it again
You did hurt my heart
I don’t know how many times
You... I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
and now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
You.. You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
You.. Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying
You.. I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
You did hurt my heart
I don’t know how many times
You... I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
and now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
You.. You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
You.. Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying
You.. I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
Lagu Ten2Five spontan terputar dari
ponselnya begitu dia menekan tombol shuffle. Memori tentang Arya kembali
mampir. Air matanya kembali menetes ketika suara nyanyian itu berkata You said you’d never lie again...
Seandainya
Arya jujur, tidak berbohong waktu itu mungkin kami bisa bersama. Seandainya dia
tidak menghamili wanita lain, mungkin aku bisa memaafkannya, seandainya Arya
percaya bahwa aku benar-benar menyayanginya mungkin sekarang kami masih bersama,
batin Nis lagi. Memori tentang Arya entah kenapa selalu muncul ketika
mendengarkan lagu ini, rasa sakit karena pengkhianatan membuat Nis membenci
dirinya. 3 Tahun bukanlah waktu yang singkat, 3 tahun Nis mati-matian menjaga
hatinya selama Arya pergi, namun dalam waktu singkat Arya menghancurkan
semuanya.
Jangan
memikirkan suami orang lagi Nis, apa kamu sebodoh itu berharap punya mesin
waktu dan memperbaiki segalanya? Suara itu kembali muncul dan membuat
tangisnya makin kencang.
“Kenapa
harus Adit yang membuat saya merasa nyaman ketika melihatnya? Kenapa harus Adit
yang membuat saya yakin kalau dialah penyembuh saja? Padahal jelas-jelas
Tuhanlah yang menyembuhkan saya juga diri saya.” Nis memukul keras kepalanya
seolah baru saja dia kembali melakukan hal tolol.
Malam ini menjadi malam yang begitu
memilukan bagi Nis. Malam ini dia juga berjanji akan membuat semuanya kembali
normal, membuat dirinya kembali menjadi Leanis yang Nerd yang hanya mencintai
belajar juga buku-buku. Leanis yang selalu tersenyum walau kehidupan selalu
membuatnya menangis, kali ini Leanis akan berusaha melupakan semuanya, semua tentang Arya.
Tuhan
mungkin memberikan semua ini karena saya pernah mengatakan “Hanya orang bodoh
yang menganggap masalah tentang cinta adalah yang tersulit” dan sekarang Tuhan
membuat saya sadar memang sulit jika kita tidak punya pertahanan yang kuat. Ini
bukan tentang bagaimana rasa sakit ketika di kecewakan, tetapi tentang
bagaimana memaafkan dengan ikhlas juga meminta maaf atas kesalahan yang
terjadi. Orang memang terlampau sering memaafkan, namun hanya segelintir orang
yang memaafkan dan meminta maaf dengan ikhlas. Saya tidak akan melupakan Adit,
bukan karena tidak bisa. Hanya saya terkadang dengan mengingatnya saya bisa
menjadi lebih kuat. Suatu saat nanti Tuhan akan menunjukkan dimana saya harus
melabuhkan hati saya.
_Leanis_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar