Agustus 27, 2012

FORGET, FORGIVE...


            Langkah-langkah kecil Ardi adik Nis membuat Nis sangat sulit mengikutinya. Beberapa kali Nis berteriak berusaha menahan Ardi agar menunggunya namun Ardi terus berlari kecil meninggalkannya sendiri. Samar Ardi berucap padanya “Nanti ketemu disini lagi, saya boncengin kamu pulang.” Nis hanya mengangguk lalu menghentikan langkahnya. Dia mengamati  sebuah bangunan yang kini tempatnya berdiri. Dari kejauhan dia melihat segerombol orang sedanng duduk dalam sebuah forum. Nis mempertajam penglihatnya, “Adit” ucapnya pelan. Nis hendak melangkah maju, melihat lebih jelas sosok Adit yang tengah duduk dalam forum itu. Kemeja putih, itulah yang digunakan Adit. Baru beberapa langkah Nis berjalan, Ardi kembali mengagetkannya dan menariknya menjauh. Namun karena suara keras Ardi orang-orang dalam forum itu sontak berbalik dan melihat Nis.
            Pemandangan kembali berganti, kali ini Nis mendapati dirinya tengah sibuk dengan ponselnya. Dia menatap satu pemberitahuan dalam ponselnya, pesan singkat dari Adit “Kenapa cewek lebih suka ngobrol atau curhat dengan cowok?” sebuah pertanyaan, langsung saja dijawab Nis, “Karena dia merasa nyaman mungkin.” Ada jeda diantara chattingan mereka, untuk beberapa menit Nis masih memikirkan pertanyaan Adit. Semenit ponsel Nis berdering, satu telepon dari Adit. Buru-buru Nis mengangkatnya, tidak ada obrolan penting yang terjadi hingga Adit berkata, “Saya suka mantannya, bukan kamu Nis.”
            Nis terbangun saking terkejutnya, mimpi barusan benar-benar terasa nyata. Dia melihat jam di ponselnya 10.30 AM, waktu tidurnya masih kurang terasa. Baru saja dia menutup matanya begitu Fajar terbit kini harus terbangun karena mimpi buruk. Nis kembali merebahkan tubuhnya, tatapannya kini mengarah ke langit-langit kamarnya. Disana tertempel bintang-tintang kecil yang setiap bangun pagi dapat dia nikmati. Tempelan bintang itu kerjaan pacar adik Nis.
            Nis sekamar dengan Ardi adik keempatnya, ketika Ardi berulang tahun pacarnya meminta Nis untuk menempeli langit-langit kamarnya tempat dimana posisi tidur adiknya. Awalnya Nis tidak mau melakukannya, jujur saja itu membuatnya itu karena itu dia enggan melakukannya tapi karena mengingat dia juga suka dengan bintang mungkin dia bisa melepaskan rindunya untuk melihat bintang dengan melihat bintang pemberian orang lain untuk adiknya.
            Matanya Nis masih menatap bintang-bintang kecil itu. Jumlahnya ada 18, satu-satunya cara menghilangkan pikiran tentang mimpi buruk tadi. Apa lagi yang kamu pikirkan, sudah jelas kan dia tidak menyukaimu. Apa kamu bodoh terus-terus berharap dia suka denganmu? Jelas-jelas dia menyukai orang lain Leanis, suara-suara di kepala Nis mulai berkomentar. Nis menutup matanya, tidak ingin mendengarkan suara-suara itu. Namun makin dia menutup dirinya makin keras suara-suara itu mengingatkannya. Lupakan Leanis. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Ingat bagaimana Rendi memperlakukanmu, bahkan ketika secara jelas dia tahu kamu menyukainya. Apa itu belum cukup jadi pelajaran buat kamu?
            “CUKUP! BERHENTILAH MENGATAKAN HAL-HAL YANG TIDAK BEGITU PENTING! SAYA TAHU APA HARUS SAYA LAKUKAN.” Kali ini Leanis berteriak sendiri. Dia menatap dirinya dari pantulan cermin, rambutnya masih kusut. Mukanya masih terlihat mengantuk, bahkan kantung matanya makin bertambah. Wajah kelelahan itu muncul, membuatnya tampak seperti zombie.
            Kembali melemparkan tubuhnya dan berbaring, di sisi kanannya dia mengambil dua lembar kertas yang kini sudah terisi dengan gambar Adit. Semalaman dia menggambar itu, tanpa merasa kantuk. Baru kali ini Leanis melakukan sesuatu dan menginginkan kesempurnaan. Leanis menggambar wajah Adit semirip mungkin. Bahkan di ponselnya foto gambar itu sudah banyak dia ambil. Lumayan mirip, batinnya.
***
            Siang hari Leanis masih merasakan pusing, tidurnya hanya beberapa jam dan itu yang membuatnya benar-benar malas beranjak lagi dari tempat tidurnya. Di ambil ponselnya lalu mencari satu nama, Wiwi. Satu nama yang menjadi tempatnya menumpahkan segala kekesalan hatinya.
            PING.
            Nis lama menunggu balasan Wiwi. Baru sekitar sepuluh menit kemudian ada balasnya dengan satu kata tanya, “Ada apa?”
            Buru-buru Nis kembali melontarkan pertanyaan, “Wi, bagaimana caranya agar saya bisa lupa dengan orang yang saya suka?”. Nis menatap ponselnya, disana tertera huruf D diatas tanda centang tanda Wiwi belum memabac pesan darinya. Begitu tanda itu berubah menjadi huruf R Leanis tersenyum puas.
            “Kamu bisa mulai dengan menghapusnya. Menghapus segala kenangan tentangnya. Atau sebisa mungkin kamu tidak melihatnya, entah itu kamu melihatnya di jejaring sosial atau dimanapun. Fokusin pikiran kamu sama Allah saja, tiap kali ingat dzikir. Insya Allah nanti akan terbiasa juga.”
            Kali ini Nis yang bingung harus membalas pesan itu dengan perkataan apa. Dia pernah melakukannya, Nis pernah menghapus Adit dari akun Facebooknya itu semata-mata agar Nis tidak lagi melihat Adit. Agar ia tidak tergoda untuk membuka profil Adit. Agar rasa sukanya tidak lagi bertambah. Bahkan pernah Nis berniat memblokirnya dari twitter namun mengingat apa yang Pia katakan Nis mengurungkan niatnya.
            Di tatapnya aplikasi whatsapp di ponselnya berkali-kali seraya berbisik pada dirinya “ini juga harus di hapus.” Tapi jemarinya enggan menekan tombol delete. Lalu dia kembali melihat daftar contact di ponselnya. Deretan pertama dia melihat nama Adit kembali dia seolah berbisik pada dirinya, “Harusnya yang ini yang dihapus, bukan aplikasinya.” Namun kemballi lagi jemarinya enggan menekan delete. Ia mengingat pekataan Pia ketika menceritakan kalau dia baru saja menghapus Adit dari FB-nya, dengan Pia berkomentar “Kamu mau mutusin tali silaturahim gara-gara kamu mau lupain dia? Gak gitu Nis caranya, kamu itu terlalu kekanak-kanakan sekali.”
            Lalu saya harus bagaimana Tuhan? Batin Nis lagi. Kali ini Nis tidak mampu menahan air matanya, siang itu hingga dzuhur tiba Nis menangis sejadi-jadinya. Menyesali dirinya yang dengan mudahnya jatuh cinta pada orang yang lagi-lagi tidak tepat.
***
You did it again
You did hurt my heart
I don’t know how many times

You... I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
and now you let me down

You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side

You.. You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
You.. Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you

You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying

You.. I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
            Lagu Ten2Five spontan terputar dari ponselnya begitu dia menekan tombol shuffle. Memori tentang Arya kembali mampir. Air matanya kembali menetes ketika suara nyanyian itu berkata You said you’d never lie again...
            Seandainya Arya jujur, tidak berbohong waktu itu mungkin kami bisa bersama. Seandainya dia tidak menghamili wanita lain, mungkin aku bisa memaafkannya, seandainya Arya percaya bahwa aku benar-benar menyayanginya mungkin sekarang kami masih bersama, batin Nis lagi. Memori tentang Arya entah kenapa selalu muncul ketika mendengarkan lagu ini, rasa sakit karena pengkhianatan membuat Nis membenci dirinya. 3 Tahun bukanlah waktu yang singkat, 3 tahun Nis mati-matian menjaga hatinya selama Arya pergi, namun dalam waktu singkat Arya menghancurkan semuanya.
            Jangan memikirkan suami orang lagi Nis, apa kamu sebodoh itu berharap punya mesin waktu dan memperbaiki segalanya? Suara itu kembali muncul dan membuat tangisnya makin kencang.
            “Kenapa harus Adit yang membuat saya merasa nyaman ketika melihatnya? Kenapa harus Adit yang membuat saya yakin kalau dialah penyembuh saja? Padahal jelas-jelas Tuhanlah yang menyembuhkan saya juga diri saya.” Nis memukul keras kepalanya seolah baru saja dia kembali melakukan hal tolol.
            Malam ini menjadi malam yang begitu memilukan bagi Nis. Malam ini dia juga berjanji akan membuat semuanya kembali normal, membuat dirinya kembali menjadi Leanis yang Nerd yang hanya mencintai belajar juga buku-buku. Leanis yang selalu tersenyum walau kehidupan selalu membuatnya menangis, kali ini Leanis akan berusaha melupakan semuanya, semua tentang Arya.
            Tuhan mungkin memberikan semua ini karena saya pernah mengatakan “Hanya orang bodoh yang menganggap masalah tentang cinta adalah yang tersulit” dan sekarang Tuhan membuat saya sadar memang sulit jika kita tidak punya pertahanan yang kuat. Ini bukan tentang bagaimana rasa sakit ketika di kecewakan, tetapi tentang bagaimana memaafkan dengan ikhlas juga meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Orang memang terlampau sering memaafkan, namun hanya segelintir orang yang memaafkan dan meminta maaf dengan ikhlas. Saya tidak akan melupakan Adit, bukan karena tidak bisa. Hanya saya terkadang dengan mengingatnya saya bisa menjadi lebih kuat. Suatu saat nanti Tuhan akan menunjukkan dimana saya harus melabuhkan hati saya.
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar