September 09, 2012

TERIMA KASIH CINTA

Pukul empat subuh Leanis sudah duduk manis dengan kostum mukenah sehabis sholat Lail sambari memegang sepiring mie goreng yang diracik sendiri. Puasa Syawalnya harus segera diselesaikan sebelum waktu untuk berpuasa tidak ada lagi. Leanis memang suka menggunakan sarung berwarna biru tuanya dengan jilbab besar warna putih ketika selesai sholat, dia tidak ingin melepasnya bahkan ketika dia telah melaksanakan kewajibannya. Leanis selalu menganggap dirinya bak serang putri kerajaan ketika menggunakan kostum itu.
            Selesai makan Leanis tidak lupa untuk meneguk sebotol air mineral sembari berniat dan memohon kekuatan pada Penciptanya. Untuk menghabiskan sisa waktu yang masih lumayan panjang cara terampuh adalah baca buku. Atau jika semua buku di lemarinya sudah dia baca, maka pilihannya jatuh pada Al-Quran.
            Buku Menjadi Wanita yang Selalu di Tolong Allah menemani Leanis di subuh hari itu hingga adzan subuh berkumandang. Sehabis sholat subuh, jika mata Leanis tak mampu menutup lagi maka bacaan yang dia sukai adalah Al-Quran. Karena menurutnya, ketika subuh hari telah lewat Malaikat akan turun dan membagi rezki kepada setiap umat di dunia-Nya.
***
            Hal pertama yang Leanis lakukan ketika selesai melaksanakan ritual pagi yang begitu membuat tubuh menggigil adalah stalking di twitter Adit. Baginya semangat pagi itu ketika membaca tweetnya, walaupun terkadang Leanis cemburu setiap kali melihat Adit begitu akrab membalas mention teman wanitanya sementara pada Leanis sendiri Adit dingin.
            “Bahkan untuk cemburupun saya tidak punya hak,” batinnya seraya tersenyum hambar. Leanis meletakkan ponselnya kembali di tempat tidur dan mulai menarik pakaian yang akan dikenakannya ke kantor. Seperti biasa Leanis selalu memilih pakaian yang pertama kali dia lihat di lemarinya, dan parahnya lagi ada kalanya dia sangat malas menyetrika pakaiannya. Katanya jika sudah nempel di badan disetrika atau tidak tidak akan ada yang tahu, kecuali dia membocorkannya sendiri.
            Lagi-lagi Leanis berdiam diri menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Lama dia menatap dirinya sendirinya, melihat wajah yang dari SMA hingga sekarang tidak berubah sama sekali. Melihat dirinya yang sekarang ini sudah sangat tidak pernah terlihat marah, melihat dirinya yang kian lama terlihat sangat kurus. Hanya pipi bakpaonya yang membuatnya terlihat gemuk. Itu juga karena dia sangat senang tertawa.
            “Kalau idul Adha nanti mama datang, pasti saya diomelin kalau makin kurus kayak gini.” Ucapnya setengah berbisik.
            Bosan ia menatap dirinya di depan cermin, Leanis bergegas menggunakan jilbabnya. Menggunakan bedak baby secukupnya, memasang headset di telinganya, lalu menyetel lagu cukup keras. Lagu pertama yang terputar adalah Price Tag – Maddi Jane, suara cempreng Leanis tiba-tiba membahana diseluruh ruangan. Kebiasaan Leanis ketika berangkat ke kantor adalah mengemudi sambil dengerin lagu, cukup bahaya sih soalnya ada kalanya dia gak dengar kalau di klaksonin sama mobil. Tapi mau gimana lagi, tiap kali di tanya Leanis hanya menjawab dengan santainya “Daripada saya tidur di motor.”
            Setiap hari beginilah rutinitas Leanis, berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat. Seperti anak SMU yang setiap pagi kebut-kebutan di jalan biar gak terlambat. Mencari uang itu memang sudah, jika saja dulu Leanis tetap ngotot mempertahankan mimpinya untuk menjadi penulis mungkin sekarang dia sudah menjadi satu dari seribu rakyat indonesia yang masih minta uang sama orang tua mereka. Mimpi untuk menjadi penulis pun Leanis kubur dalam-dalam, baginya melihat orang tua senyum dan bahagia adalah hal yang terpenting sekarang.
***
            Jam istirahat akhirnya menghampiri, tumpukan kertas kerja di meja Leanis di rapikan, beberapa karyawan sudah meninggalkan tempat masing-masing menuju kantin kantor. Hanya beberapa yang masih duduk di depan komputer masing-masing sembari mengerjakan kembali pekerjaan yang masih begitu banyak. Leanis sendiri justru menggunakan waktu ini untuk beristirahat, dia senderan di kursi seraya membuka aplikasi twitter dari ponselnya. Seperti kebiasaannya pagi ini, setiap kali buka twitter yang dia search pasti twitternya Adit. Entah apa yang merasukinya sehingga dia selalu ingin melihat orang ini.
            “Kamu tidak makan Leanis?” tanya Bu Anha salah satu karyawan di kantor Leanis.
            “Lagi shaum bu.” Leanis tersenyum ramah.
            “Syawal ya?” tanyanya lagi.
            “Iya bu. Heheheh...”
            “Sudah berapa syawalnya?” Bu Anha kembali melontarkan pertanyaan.
            “Dengan hari ini Insya Allah tiga Bu.” Balas Leanis lagi.
            “Hmm... kalau begitu kamu jaga kantor ya... daaaa” Bu Anha melambaikan tangan ke arah Leanis.
            Bu Anha memang senang bercanda dengan siapa saja. Bahkan ketika suasana kantor begitu suram Bu Anha akan dengan lincahnya kembali menghidupkan kondisi kantor yang mati suri. Tawa pun tak jarang terdengar terbahak jika Bu Anha sudah bertindak jahil kepada semua karyawan. Ini yang membuat Leanis tampak begitu nyaman di kantornya.
            Begitu suasana kantor sunyi, Leanis kembali sibuk dengan ponselnya. Kali ini Leanis sibuk BBMan dengan Beni, mengatur jadwal pertemuannya besok. Dan mungkin juga mengatur bagaimana Leanis harus meminta tolong pada temannya yang satu ini. Harapan satu-satunya agar Leanis batal di jodohkan adalah Beni. Jika Beni tidak juga mau menolongnya mungkin Leanis bakalan kabur dan pura-pura keterima kerja di luar kota.
            Satu-satunya jalan yang mungkin bisa menolongnya, daripada dia ngotot beradu mulut dengan orang tuanya. Leanis tidak akan lagi mengecewakan orang tuanya. Tapi entah kenapa untuk urusan yang satu ini Leanis benar-benar tidak bisa untuk menuruti orang tuanya. Jika saja ayah dan ibunya memintanya untuk melanjutkan study-nya lagi mungkin Leanis akan langsung berkata iya, tapi ini menyangkut hati, menyangkut kehidupan Leanis selanjutnya. Ini menyangkut hati dua manusia, yang mungkin tidak bisa menyatu.
            Selama jam istirahat Leanis terus memperhatikan ponselnya, menunggu balasan dari Beni. Entah kenapa kali ini Leanis merasa jawaban Beni adalah jawaban yang paling dia nantikan di banding menanti tweet dari Adit muncul di timelinenya.
***
            Adzan magrib berkumandang kala Leanis tiba di rubahnya, diambilnya botol minuman yang dia bawa dari kantor lengkap dengan tiga buah kue tradisional. Buka puasa hari ini terlihat begitu sederhana, Leanis sedang malas untuk mengunyah makanan berat. Bahkan untuk melihat nasi pun Leanis malas. Malam ini nafsu makan Leanis hilang total, walaupun maag sudah hendak menghampiri namun Leanis masih malas untuk makan. Dia hanya menghabisi tiga buah kue yang dia bawa dan menghabisi setengah dari air mineralnya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian menghadap pada Penciptanya.
            Leanis berkali-kali menatap ponselnya, dia benar-benar menanti jawaban Beni. Dan malam ini Beni benar-benar mengabaikannya. Sekarang dia tahu bahkan seorang temanpun bisa berkhianat. Matanya kembali terfokus pada soal-soal di layar laptop putihnya. Besok pagi adalah tes, lagi-lagi untuk menyenangkan hati orang tuanya.
            Informasi mengenai penerimaan di departemen keuangan dia dapatkan dari salah seorang teman. Awalnya Leanis hanya iseng mendaftar, seperti biasa. Namun ketika ayahnya tahu keisengan itu berubah menjadi sebuah keharusan. Leanis masih berusaha fokus pada apa yang dia pelajari namun sesekali pikirannya melayang, entah itu memikirkan Adit, Beni, atau bagaimana tes besok.
            Sementara Nis asyik belajar sejarah ponselnya tiba-tiba berdering. Telepon dari ayahnya, buru-buru Nis angkat takutnya kalau dibiarkan lama ayahnya akan protes kembali.
            “Assalamu’alaikum” sapanya dengan suara yang datar.
            “Walaikumsalam. Dimana nak?”
            “Dirumah yah. Lagi belajar buat tes besok.”
            “Adek kamu sudah pulang belum?” Ayah Leanis kembali bertanya. Kebiasaan lama ayah Leanis adalah mengabsen anak-anaknya satu persatu. Dan jatah pertama jatuh ke Leanis malam ini.
            “Belum yah, Ardi masih diluar. Saya sedirian saja dirumah.” Ucap Leanis sembari membaca dan mencatat sejarah-sejarah yang di bacanya.
            “Kamu sendirian?? Kunci pintu rumahnya ya, pintu di dapur juga. Kamu kalau sendiri di kamar saja.”
            “Iya ayahku sayang....”
            Leanis selalu merasa dirinya masih dianggap anak umur 7 tahun yang harus selalu di perhatikan, diingatkan. Kadang Leanis mau protes tapi mengingat ayahnya yang begitu menyayanginya Leanis hanya tersenyum geli menanggapi setiap perhatian ayahnya yang berlebihan.
            “Ya sudah belajar yang baik ya nak. Semoga kamu bisa lulus.” Ucap ayah Leanis yang diaminkan Leanis sendiri.
            Telepon akhirnya di tutup juga, Leanis kembali fokus melihat soal-soal itu. Sesekali dia tampak seperti sedanng menghafal sesuatu, sesekali ketika bosan dia kembali membuka twitter. Dan sesekali ketika dia bosan dia malah nyanyi-nyanyi gak jelas. Semuanya hanya untuk mengusir penat dan rasa jenuh.
            Lima belas menit kemudian ponsel Leanis kembali berdering. Kali ini bukan dari ayahnya melainkan dari Pia. Sahabat dari kecil Leanis.
            “Assalamu’alaikum, kenapa Pia sayang? Tumben nelpon biasanya sms doang atau kalau nggak bbm doang.” Sahut Leanis dengan nada ceria.
            “Walaikum salam. Gak apa-apa gue cuma pengen nelpon aja. Lagi ngapain lu?” tanya Pia dengan suara datar.
            “Lagi belajar. Besok kan ada tes. Kamu?”
            “Gak lagi ngapa-ngapain. Gue mau curhat boleh gak? Gue gak ganggu kan?” Nada suara Pia tiba-tiba berubah serius. Tidak biasanya Pia tidak bersemangat seperti ini.
            “Boleh boleh, silahkan...”
            “Gue udah putus sama si itam. Sumpah dia ngecewain gue banget, dia gak nganggep gue pacarnya. Dia selingkuh Nis, hati gue hancur.” Suara Pia kini terdengar seperti terisak.
            “HAH? Kok bisa? Bukannya kemarin-kemarin kalian baik-baik saja? Bukannya Fikri janji bakalan berubah demi kamu?” Leanis tampak terkejut.
            “Janji apa? Janji bullshit? Lo tahu gak dia gak ngerhargaiin gue banget. Lo tahu, kemarin gue udah nyempetin buat samperin dia ehh begitu gue tanya kapan dia main kerumah dia cuma bilang, nanti abis makan. Gue nunggu dia sampai malem Nis, gue batalin semua janji gue karena gue yakin dia mau berkunjung, tapi nyatanya dia gak datang dan malah asik dengan teman-temannya tanpa ngasih kabar ke gue dia bisa datang apa tidak? Gue kecewa banget sumpah! Malam itu gue langsung minta putus.” Suara Pia kini terdengar seperti suara orang yang sedang menangis.
            “Hmmm... kalau memang jalannya kayak gini ya mau gimana lagi. Mungkin Tuhan sedang kasih lihat ke kamu kalau Fikri itu bukan pria yang baik untuk kamu. Jangan nangis lagi ya, saya jadi pengen ikutan nangis tahuuuu.” Nis mencoba menghibur, “Lagian sekarang kita senasib. Kamu baru putus, saya abis di tolak. Jadi sesama orang yang lagi patah hati jangan saling ngebuat nangis.”
            “Lo tuh ya! Kasus kita beda Nis, lo mah jelas-jelas di tolak karena lo gak pernah ketemu sama dia, bagaimana caranya lo bisa ngebuat dia jatuh cinta sama lo bego!” Suara Pia kembali normal.
            “Walau ketemu juga gak mungkin dia suka. Adit tuh punya wanita yang dia suka tahu.”
            “Selama janur kuning belum berdiri tegak lo masih punya kesempatan sayang. Coba deh ajak Adit ketemuan sekali, lo ajak makan kek, ajak nonton kek. Atau lo ajak nemenin lo nyari buku, dia juga suka baca kan?”
            “HARGA DIRI PIAAAA!!! HARGA DIRI!!!” Protes Nis. “Mana ada cewek yang ngajak cowok jalan duluan. Dimana-mana tuh ya, cowok yang ngajak cewek keluar. Bukan sebaliknya nona yang baru saja patah hati!”
            “Kan sekarang lagi jaman tuh emansipasi wanita. Ini kan juga emansipasi cemong!!”
            “Tapi gak kayak gini juga. Tapi btw, saya juga gak berteman lagi di twitter sama dia lho.”
            “Kok bisa? Lo blokir orang lagi ya?” Tuduh Pia.
            “Gak gitu ibu negara. Maksud saya, Saya tetap jadi followers setia Adit sementara Adit gak lagi jadi followers gue. Artinya saya bebas berekpresi tentang dia tanpa perlu dia tahu kan” Ada rasa senang yang Leanis rasakan.
            “Dan lo bakalan jadi cemburu gak penting ketika tweet dia muncul di TL lo bego!” balas Pia cepat. “Kenapa sih lo gak bilang langsung sama dia kalau lo suka banget sama dia. Lagian gue heran sama lo, apa yang lo suka dari makhluk asing di twitter itu?”
            “Bilang langsung? Mending kamu bunuh saya sekarang deh!” Protes Nis lagi. “Hmmm... apa ya? Gak tahu juga sih, saya cuma suka. Apalagi kalau dia tersenyum, aduhhhh lumerrrr deh. Makin suka sama dia.”
“Dasar manusia drama. Lebay lo! Udah ah, lo belajar gih, thanks ya. Gue sedikit lega sekarang.” Pia mengakhiri pembicaraan.
***
Suasana CCC terlihat begitu padat, puluhan orang telah memenuhi gedung satu ini. Ternyata banyak yang hendak jadi PNS  batin Leanis. Hari ini memang hari tes CPNS departemen keuangan, sekaligus mungkin hari reunian Leanis dengan teman-teman kampusnya yang entah sudah berapa lama ia tidak bertemu. Begitu motor terparkir rapi, Leanis langsung saja bertemu dengan seorang teman. Namnya Zulfa, anaknya ramah namun Leanis lumayan lupa bagaimana dia bisa kenal dan dekat dengan Zulfa dulu. Lalu tampak dari kejauhan dia melihan Israq seorang teman kelas ketika semester empat kalau Leanis tidak salah ingat.
Ketika berjalan sambil bercerita bersama Israq Leanis kembali bertemu Tanty, teman yang lumayan dekat dengannya dulu. Hari ini memang seperti ajang reuni bagi leanis, semua temannya berkumpul. Namun ada satu orang yang sampai sekarang tidak disukai Leanis, namanya Amelia. Namun bagaimanapun buruknya Amelia memperlakukan Leanis, Leanis tetap menganggap Amelia adalah seorang teman yang baik.
Melepas rindu menjadi acara pembuka sebelum tes di lakukan. Banyak cerita yang keluar dari mulut masing-masing. Bahkan Leanis cukup heran, disaat dia telah menetapkan hatinya untuk berjilbab syar’i justru beberapa temannya datang tanpa menggunakan jilbab. Dimana rasa tanggung jawab seorang muslimah atas tubuhnya? Mempertontonkan aurat di khalayak ramai adalah sebuah hal yang benar-benar tidak baik bagi seorang muslim. Leanis ingin sekali mengingatkan temannya, namun Leanis takut ketika dia berkata demikian yang ada justru cacian yang keluar dari mulut temannya itu. Hari ini Leanis menikmati setiap moment ketika dia bertemu dengan teman yang telah lama tidak dia jumpai.
***
Sore hari sudah menghampiri sebentar lagi adzan magrib berkumandang yang artinya puasa Leanis kali ini sukses lagi. Namun kabar dari Beni belum juga mampir di hapenya. Inginr rasanya Leanis yang bertanya tapi dia urungkan takutnya Beni bakalan mengira Leanis benar-benar menyukainya dan mempermainkan orang seperti itu adalah perbuatan kejam yang tidak akan pernah Leanis lakukan.
“Gagal total. Kayaknya saya memang harus nurut aja kali ya!!” ucap leanis dalam hati.
Kembali Leanis merebahkan tubuhnya di kasurnya, melihat kembali bintang-bintang yang menempel di langit-langit kamarnya. Bintang membuat Leanis sedikit tenang, menghitung jumlahnya yang selalu sama membuat pikirannya sedikit terbagi. Leanis kembali meraih ponselnya, disana tidak ada apa-apa. Beni tampaknya tahu apa yang akan Leanis biacarakan, atau Beni tiba-tiba ilfeel ketika tahu Leanis itu pengkhayal nomer satu sejagad raya.
Leanis kembali membuka twitter, bosan dia memandangi timelinenya dia stalking ke profile Pia. Begitu dia bosan kembali dia stalking ke profil Adit. Belum juga muncul, kemana kamu? Batin Nis lagi. Dua menit Nis masih bertahan di profile Adit, menit berikutnya dia membuka foto profile Adit.
“Senyum ini bakalan selalu saya ingat. Senyum yang begitu tulus, terima kasih Adit. Terima kasih cinta.” Ucap Leanis setengah berbisik. Di dekapnya erat Nil, hatinya berdoa ketika Adzan mulai berkumadang. [ ]
Canggung. Saya tidak suka kecanggungan di antara kita, bisa kita lupakan hal itu saja. Anggap saja saya tidak lagi menyukai kamu, oh tidak saya akan berusaha melupakan kamu. Saya akan berhenti menyukai kamu, mulai dari sekarang. Jadi bisa kita kembali seperti dulu, ketika pertama kali bertemu. Ngobrol dengan santainya seolah kita telah bertemu sejak lama, tidak seperti sekarang. Kita kembali ke asing, kamu dingin, kamu bahkan menjauh. Saya sadar, hati itu bukan untuk mencari tapi di temukan. Semakin saya mencari semakin saya tidak bisa menemukan apa-apa. Seperti barang yang hilang, ketika kita mencarinya kita akan susah menemukannya, namun begitu tidak di cari lagi dengan sendirinya dia muncul di hadapan kita. Jika Tuhan mau suatu saat dia pasti akan mepertemukan saya dengan kamu, kamu atau kamu. Saya hanya perlu memantaskan diri. Untuk itu saya ucapkan terima kasih cinta, terima kasih untuk setiap luka dan rasa kecewa yang kamu beri. Terima kasih untuk kehadirannya yang singkat, suatu saat saya akan dengan bangga bercerita ke anak cucuk saya. Saya bisa dengan bangga berkata, “Dulu saya pernah suka dengan orang hebat seperti kamu.” Semoga Tuhan selalu menjagamu dimanapun kamu dan memberi kebahagiaan dengan siapapun kamu. Saya akan terus menjagamu melalui doaku, mungkin beginilah caraku mencintaimu.
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar