Pukul empat subuh Leanis sudah duduk
manis dengan kostum mukenah sehabis sholat Lail sambari memegang sepiring mie
goreng yang diracik sendiri. Puasa Syawalnya harus segera diselesaikan sebelum
waktu untuk berpuasa tidak ada lagi. Leanis memang suka menggunakan sarung
berwarna biru tuanya dengan jilbab besar warna putih ketika selesai sholat, dia
tidak ingin melepasnya bahkan ketika dia telah melaksanakan kewajibannya. Leanis
selalu menganggap dirinya bak serang putri kerajaan ketika menggunakan kostum
itu.
Selesai makan Leanis tidak lupa
untuk meneguk sebotol air mineral sembari berniat dan memohon kekuatan pada
Penciptanya. Untuk menghabiskan sisa waktu yang masih lumayan panjang cara terampuh
adalah baca buku. Atau jika semua buku di lemarinya sudah dia baca, maka
pilihannya jatuh pada Al-Quran.
Buku Menjadi Wanita yang Selalu di
Tolong Allah menemani Leanis di subuh hari itu hingga adzan subuh berkumandang.
Sehabis sholat subuh, jika mata Leanis tak mampu menutup lagi maka bacaan yang
dia sukai adalah Al-Quran. Karena menurutnya, ketika subuh hari telah lewat
Malaikat akan turun dan membagi rezki kepada setiap umat di dunia-Nya.
***
Hal pertama yang Leanis lakukan
ketika selesai melaksanakan ritual pagi yang begitu membuat tubuh menggigil
adalah stalking di twitter Adit. Baginya semangat pagi itu ketika membaca
tweetnya, walaupun terkadang Leanis cemburu setiap kali melihat Adit begitu
akrab membalas mention teman wanitanya sementara pada Leanis sendiri Adit
dingin.
“Bahkan untuk cemburupun saya tidak
punya hak,” batinnya seraya tersenyum hambar. Leanis meletakkan ponselnya
kembali di tempat tidur dan mulai menarik pakaian yang akan dikenakannya ke kantor.
Seperti biasa Leanis selalu memilih pakaian yang pertama kali dia lihat di
lemarinya, dan parahnya lagi ada kalanya dia sangat malas menyetrika
pakaiannya. Katanya jika sudah nempel di badan disetrika atau tidak tidak akan
ada yang tahu, kecuali dia membocorkannya sendiri.
Lagi-lagi Leanis berdiam diri
menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Lama dia menatap dirinya sendirinya,
melihat wajah yang dari SMA hingga sekarang tidak berubah sama sekali. Melihat
dirinya yang sekarang ini sudah sangat tidak pernah terlihat marah, melihat
dirinya yang kian lama terlihat sangat kurus. Hanya pipi bakpaonya yang
membuatnya terlihat gemuk. Itu juga karena dia sangat senang tertawa.
“Kalau idul Adha nanti mama datang,
pasti saya diomelin kalau makin kurus kayak gini.” Ucapnya setengah berbisik.
Bosan ia menatap dirinya di depan
cermin, Leanis bergegas menggunakan jilbabnya. Menggunakan bedak baby
secukupnya, memasang headset di telinganya, lalu menyetel lagu cukup keras.
Lagu pertama yang terputar adalah Price Tag – Maddi Jane, suara cempreng Leanis
tiba-tiba membahana diseluruh ruangan. Kebiasaan Leanis ketika berangkat ke
kantor adalah mengemudi sambil dengerin lagu, cukup bahaya sih soalnya ada
kalanya dia gak dengar kalau di klaksonin sama mobil. Tapi mau gimana lagi,
tiap kali di tanya Leanis hanya menjawab dengan santainya “Daripada saya tidur
di motor.”
Setiap hari beginilah rutinitas
Leanis, berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat. Seperti anak SMU yang
setiap pagi kebut-kebutan di jalan biar gak terlambat. Mencari uang itu memang
sudah, jika saja dulu Leanis tetap ngotot mempertahankan mimpinya untuk menjadi
penulis mungkin sekarang dia sudah menjadi satu dari seribu rakyat indonesia yang
masih minta uang sama orang tua mereka. Mimpi untuk menjadi penulis pun Leanis
kubur dalam-dalam, baginya melihat orang tua senyum dan bahagia adalah hal yang
terpenting sekarang.
***
Jam istirahat akhirnya menghampiri,
tumpukan kertas kerja di meja Leanis di rapikan, beberapa karyawan sudah
meninggalkan tempat masing-masing menuju kantin kantor. Hanya beberapa yang
masih duduk di depan komputer masing-masing sembari mengerjakan kembali
pekerjaan yang masih begitu banyak. Leanis sendiri justru menggunakan waktu ini
untuk beristirahat, dia senderan di kursi seraya membuka aplikasi twitter dari
ponselnya. Seperti kebiasaannya pagi ini, setiap kali buka twitter yang dia
search pasti twitternya Adit. Entah apa yang merasukinya sehingga dia selalu
ingin melihat orang ini.
“Kamu tidak makan Leanis?” tanya Bu
Anha salah satu karyawan di kantor Leanis.
“Lagi shaum bu.” Leanis tersenyum
ramah.
“Syawal ya?” tanyanya lagi.
“Iya bu. Heheheh...”
“Sudah berapa syawalnya?” Bu Anha
kembali melontarkan pertanyaan.
“Dengan hari ini Insya Allah tiga
Bu.” Balas Leanis lagi.
“Hmm... kalau begitu kamu jaga
kantor ya... daaaa” Bu Anha melambaikan tangan ke arah Leanis.
Bu Anha memang senang bercanda
dengan siapa saja. Bahkan ketika suasana kantor begitu suram Bu Anha akan
dengan lincahnya kembali menghidupkan kondisi kantor yang mati suri. Tawa pun
tak jarang terdengar terbahak jika Bu Anha sudah bertindak jahil kepada semua
karyawan. Ini yang membuat Leanis tampak begitu nyaman di kantornya.
Begitu suasana kantor sunyi, Leanis
kembali sibuk dengan ponselnya. Kali ini Leanis sibuk BBMan dengan Beni,
mengatur jadwal pertemuannya besok. Dan mungkin juga mengatur bagaimana Leanis
harus meminta tolong pada temannya yang satu ini. Harapan satu-satunya agar
Leanis batal di jodohkan adalah Beni. Jika Beni tidak juga mau menolongnya
mungkin Leanis bakalan kabur dan pura-pura keterima kerja di luar kota.
Satu-satunya jalan yang mungkin bisa
menolongnya, daripada dia ngotot beradu mulut dengan orang tuanya. Leanis tidak
akan lagi mengecewakan orang tuanya. Tapi entah kenapa untuk urusan yang satu
ini Leanis benar-benar tidak bisa untuk menuruti orang tuanya. Jika saja ayah
dan ibunya memintanya untuk melanjutkan study-nya lagi mungkin Leanis akan
langsung berkata iya, tapi ini menyangkut hati, menyangkut kehidupan Leanis
selanjutnya. Ini menyangkut hati dua manusia, yang mungkin tidak bisa menyatu.
Selama jam istirahat Leanis terus
memperhatikan ponselnya, menunggu balasan dari Beni. Entah kenapa kali ini
Leanis merasa jawaban Beni adalah jawaban yang paling dia nantikan di banding
menanti tweet dari Adit muncul di timelinenya.
***
Adzan magrib berkumandang kala
Leanis tiba di rubahnya, diambilnya botol minuman yang dia bawa dari kantor
lengkap dengan tiga buah kue tradisional. Buka puasa hari ini terlihat begitu
sederhana, Leanis sedang malas untuk mengunyah makanan berat. Bahkan untuk
melihat nasi pun Leanis malas. Malam ini nafsu makan Leanis hilang total,
walaupun maag sudah hendak menghampiri namun Leanis masih malas untuk makan.
Dia hanya menghabisi tiga buah kue yang dia bawa dan menghabisi setengah dari
air mineralnya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian menghadap pada
Penciptanya.
Leanis berkali-kali menatap
ponselnya, dia benar-benar menanti jawaban Beni. Dan malam ini Beni benar-benar
mengabaikannya. Sekarang dia tahu bahkan seorang temanpun bisa berkhianat.
Matanya kembali terfokus pada soal-soal di layar laptop putihnya. Besok pagi
adalah tes, lagi-lagi untuk menyenangkan hati orang tuanya.
Informasi mengenai penerimaan di
departemen keuangan dia dapatkan dari salah seorang teman. Awalnya Leanis hanya
iseng mendaftar, seperti biasa. Namun ketika ayahnya tahu keisengan itu berubah
menjadi sebuah keharusan. Leanis masih berusaha fokus pada apa yang dia
pelajari namun sesekali pikirannya melayang, entah itu memikirkan Adit, Beni,
atau bagaimana tes besok.
Sementara Nis asyik belajar sejarah
ponselnya tiba-tiba berdering. Telepon dari ayahnya, buru-buru Nis angkat
takutnya kalau dibiarkan lama ayahnya akan protes kembali.
“Assalamu’alaikum” sapanya dengan
suara yang datar.
“Walaikumsalam. Dimana nak?”
“Dirumah yah. Lagi belajar buat tes
besok.”
“Adek kamu sudah pulang belum?” Ayah
Leanis kembali bertanya. Kebiasaan lama ayah Leanis adalah mengabsen
anak-anaknya satu persatu. Dan jatah pertama jatuh ke Leanis malam ini.
“Belum yah, Ardi masih diluar. Saya sedirian
saja dirumah.” Ucap Leanis sembari membaca dan mencatat sejarah-sejarah yang di
bacanya.
“Kamu sendirian?? Kunci pintu
rumahnya ya, pintu di dapur juga. Kamu kalau sendiri di kamar saja.”
“Iya ayahku sayang....”
Leanis selalu merasa dirinya masih
dianggap anak umur 7 tahun yang harus selalu di perhatikan, diingatkan. Kadang
Leanis mau protes tapi mengingat ayahnya yang begitu menyayanginya Leanis hanya
tersenyum geli menanggapi setiap perhatian ayahnya yang berlebihan.
“Ya sudah belajar yang baik ya nak. Semoga
kamu bisa lulus.” Ucap ayah Leanis yang diaminkan Leanis sendiri.
Telepon akhirnya di tutup juga,
Leanis kembali fokus melihat soal-soal itu. Sesekali dia tampak seperti sedanng
menghafal sesuatu, sesekali ketika bosan dia kembali membuka twitter. Dan
sesekali ketika dia bosan dia malah nyanyi-nyanyi gak jelas. Semuanya hanya
untuk mengusir penat dan rasa jenuh.
Lima belas menit kemudian ponsel
Leanis kembali berdering. Kali ini bukan dari ayahnya melainkan dari Pia. Sahabat
dari kecil Leanis.
“Assalamu’alaikum, kenapa Pia
sayang? Tumben nelpon biasanya sms doang atau kalau nggak bbm doang.” Sahut Leanis
dengan nada ceria.
“Walaikum salam. Gak apa-apa gue
cuma pengen nelpon aja. Lagi ngapain lu?” tanya Pia dengan suara datar.
“Lagi belajar. Besok kan ada tes. Kamu?”
“Gak lagi ngapa-ngapain. Gue mau
curhat boleh gak? Gue gak ganggu kan?” Nada suara Pia tiba-tiba berubah serius.
Tidak biasanya Pia tidak bersemangat seperti ini.
“Boleh boleh, silahkan...”
“Gue udah putus sama si itam. Sumpah
dia ngecewain gue banget, dia gak nganggep gue pacarnya. Dia selingkuh Nis,
hati gue hancur.” Suara Pia kini terdengar seperti terisak.
“HAH? Kok bisa? Bukannya kemarin-kemarin
kalian baik-baik saja? Bukannya Fikri janji bakalan berubah demi kamu?” Leanis
tampak terkejut.
“Janji apa? Janji bullshit? Lo tahu
gak dia gak ngerhargaiin gue banget. Lo tahu, kemarin gue udah nyempetin buat
samperin dia ehh begitu gue tanya kapan dia main kerumah dia cuma bilang, nanti
abis makan. Gue nunggu dia sampai malem Nis, gue batalin semua janji gue karena
gue yakin dia mau berkunjung, tapi nyatanya dia gak datang dan malah asik
dengan teman-temannya tanpa ngasih kabar ke gue dia bisa datang apa tidak? Gue kecewa
banget sumpah! Malam itu gue langsung minta putus.” Suara Pia kini terdengar
seperti suara orang yang sedang menangis.
“Hmmm... kalau memang jalannya kayak
gini ya mau gimana lagi. Mungkin Tuhan sedang kasih lihat ke kamu kalau Fikri
itu bukan pria yang baik untuk kamu. Jangan nangis lagi ya, saya jadi pengen
ikutan nangis tahuuuu.” Nis mencoba menghibur, “Lagian sekarang kita senasib. Kamu
baru putus, saya abis di tolak. Jadi sesama orang yang lagi patah hati jangan
saling ngebuat nangis.”
“Lo tuh ya! Kasus kita beda Nis, lo
mah jelas-jelas di tolak karena lo gak pernah ketemu sama dia, bagaimana
caranya lo bisa ngebuat dia jatuh cinta sama lo bego!” Suara Pia kembali
normal.
“Walau ketemu juga gak mungkin dia
suka. Adit tuh punya wanita yang dia suka tahu.”
“Selama janur kuning belum berdiri
tegak lo masih punya kesempatan sayang. Coba deh ajak Adit ketemuan sekali, lo
ajak makan kek, ajak nonton kek. Atau lo ajak nemenin lo nyari buku, dia juga
suka baca kan?”
“HARGA DIRI PIAAAA!!! HARGA DIRI!!!”
Protes Nis. “Mana ada cewek yang ngajak cowok jalan duluan. Dimana-mana tuh ya,
cowok yang ngajak cewek keluar. Bukan sebaliknya nona yang baru saja patah
hati!”
“Kan sekarang lagi jaman tuh
emansipasi wanita. Ini kan juga emansipasi cemong!!”
“Tapi gak kayak gini juga. Tapi btw,
saya juga gak berteman lagi di twitter sama dia lho.”
“Kok bisa? Lo blokir orang lagi ya?”
Tuduh Pia.
“Gak gitu ibu negara. Maksud saya,
Saya tetap jadi followers setia Adit sementara Adit gak lagi jadi followers
gue. Artinya saya bebas berekpresi tentang dia tanpa perlu dia tahu kan” Ada
rasa senang yang Leanis rasakan.
“Dan lo bakalan jadi cemburu gak
penting ketika tweet dia muncul di TL lo bego!” balas Pia cepat. “Kenapa sih lo
gak bilang langsung sama dia kalau lo suka banget sama dia. Lagian gue heran
sama lo, apa yang lo suka dari makhluk asing di twitter itu?”
“Bilang langsung? Mending kamu bunuh
saya sekarang deh!” Protes Nis lagi. “Hmmm... apa ya? Gak tahu juga sih, saya
cuma suka. Apalagi kalau dia tersenyum, aduhhhh lumerrrr deh. Makin suka sama
dia.”
“Dasar manusia drama. Lebay lo! Udah ah, lo belajar
gih, thanks ya. Gue sedikit lega sekarang.” Pia mengakhiri pembicaraan.
***
Suasana CCC terlihat begitu padat, puluhan orang
telah memenuhi gedung satu ini. Ternyata banyak
yang hendak jadi PNS batin Leanis.
Hari ini memang hari tes CPNS departemen keuangan, sekaligus mungkin hari
reunian Leanis dengan teman-teman kampusnya yang entah sudah berapa lama ia
tidak bertemu. Begitu motor terparkir rapi, Leanis langsung saja bertemu dengan
seorang teman. Namnya Zulfa, anaknya ramah namun Leanis lumayan lupa bagaimana
dia bisa kenal dan dekat dengan Zulfa dulu. Lalu tampak dari kejauhan dia
melihan Israq seorang teman kelas ketika semester empat kalau Leanis tidak
salah ingat.
Ketika berjalan sambil bercerita bersama Israq
Leanis kembali bertemu Tanty, teman yang lumayan dekat dengannya dulu. Hari ini
memang seperti ajang reuni bagi leanis, semua temannya berkumpul. Namun ada
satu orang yang sampai sekarang tidak disukai Leanis, namanya Amelia. Namun bagaimanapun
buruknya Amelia memperlakukan Leanis, Leanis tetap menganggap Amelia adalah
seorang teman yang baik.
Melepas rindu menjadi acara pembuka sebelum tes di
lakukan. Banyak cerita yang keluar dari mulut masing-masing. Bahkan Leanis
cukup heran, disaat dia telah menetapkan hatinya untuk berjilbab syar’i justru
beberapa temannya datang tanpa menggunakan jilbab. Dimana rasa tanggung jawab
seorang muslimah atas tubuhnya? Mempertontonkan aurat di khalayak ramai adalah
sebuah hal yang benar-benar tidak baik bagi seorang muslim. Leanis ingin sekali
mengingatkan temannya, namun Leanis takut ketika dia berkata demikian yang ada
justru cacian yang keluar dari mulut temannya itu. Hari ini Leanis menikmati
setiap moment ketika dia bertemu dengan teman yang telah lama tidak dia jumpai.
***
Sore hari sudah menghampiri sebentar lagi adzan
magrib berkumandang yang artinya puasa Leanis kali ini sukses lagi. Namun kabar
dari Beni belum juga mampir di hapenya. Inginr rasanya Leanis yang bertanya
tapi dia urungkan takutnya Beni bakalan mengira Leanis benar-benar menyukainya
dan mempermainkan orang seperti itu adalah perbuatan kejam yang tidak akan
pernah Leanis lakukan.
“Gagal total. Kayaknya
saya memang harus nurut aja kali ya!!” ucap leanis
dalam hati.
Kembali Leanis merebahkan tubuhnya di kasurnya,
melihat kembali bintang-bintang yang menempel di langit-langit kamarnya.
Bintang membuat Leanis sedikit tenang, menghitung jumlahnya yang selalu sama
membuat pikirannya sedikit terbagi. Leanis kembali meraih ponselnya, disana
tidak ada apa-apa. Beni tampaknya tahu apa yang akan Leanis biacarakan, atau
Beni tiba-tiba ilfeel ketika tahu Leanis itu pengkhayal nomer satu sejagad
raya.
Leanis kembali membuka twitter, bosan dia memandangi
timelinenya dia stalking ke profile Pia. Begitu dia bosan kembali dia stalking
ke profil Adit. Belum juga muncul, kemana
kamu? Batin Nis lagi. Dua menit Nis masih bertahan di profile Adit, menit
berikutnya dia membuka foto profile Adit.
“Senyum ini bakalan selalu saya ingat. Senyum yang
begitu tulus, terima kasih Adit. Terima kasih cinta.” Ucap Leanis setengah
berbisik. Di dekapnya erat Nil, hatinya berdoa ketika Adzan mulai berkumadang.
[ ]
Canggung. Saya
tidak suka kecanggungan di antara kita, bisa kita lupakan hal itu saja. Anggap
saja saya tidak lagi menyukai kamu, oh tidak saya akan berusaha melupakan kamu.
Saya akan berhenti menyukai kamu, mulai dari sekarang. Jadi bisa kita kembali
seperti dulu, ketika pertama kali bertemu. Ngobrol dengan santainya seolah kita
telah bertemu sejak lama, tidak seperti sekarang. Kita kembali ke asing, kamu dingin,
kamu bahkan menjauh. Saya sadar, hati itu bukan untuk mencari tapi di temukan.
Semakin saya mencari semakin saya tidak bisa menemukan apa-apa. Seperti barang
yang hilang, ketika kita mencarinya kita akan susah menemukannya, namun begitu
tidak di cari lagi dengan sendirinya dia muncul di hadapan kita. Jika Tuhan mau
suatu saat dia pasti akan mepertemukan saya dengan kamu, kamu atau kamu. Saya hanya
perlu memantaskan diri. Untuk itu saya ucapkan terima kasih cinta, terima kasih
untuk setiap luka dan rasa kecewa yang kamu beri. Terima kasih untuk
kehadirannya yang singkat, suatu saat saya akan dengan bangga bercerita ke anak
cucuk saya. Saya bisa dengan bangga berkata, “Dulu saya pernah suka dengan
orang hebat seperti kamu.” Semoga Tuhan selalu menjagamu dimanapun kamu dan
memberi kebahagiaan dengan siapapun kamu. Saya akan terus menjagamu melalui
doaku, mungkin beginilah caraku mencintaimu.
_Leanis_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar