First of all izinkan gue menyapa
kalian...
I’M BACK *Gaya terminator sambil
pegang sapu ijuk*.
Malam ini gue gak bakalan nulis
cerita tentang Leanis dan Adit atau lebih tepatnya kisah Leanis si anak penurut
yang kurang beruntung. Gue lagi malas, malas banget buat mengingat kejadian
tidak mengenakan sore ini. Mungkin kelanjutan drama LeDit bakalan gue posting
besok. Malam hari ini gue bakalan nulis tentang sebuah dongeng juga sebuah
harapan.
Oke gue mulai... *bunyi drum*
Kalian pernah dengar dongeng Senbazuru gak? Dari negeri Jepang itu
lho... Masa gak tahu sih? Senbazuru atau
lebih dikenal dengan seribu bangau kertas.
Adalah suatu kepercayaan rakyat Jepang yang dimana katanya jika berhasil
membuah 1000 bangau kertas maka satu permohonannya akan di kabulkan. Karena
dongeng dan sebuah kejadian nyata yang menimpa seorang anak di Jepang yang
bernama Sadako maka Seribu Bangau Kertas ini juga ikutan populer.
Sadako ini bukan hantu yang sering
muncul di film – film horor Jepang ya. Sadako disini adalah seorang gadis cilik
yang terkena Radiasi Bom Atom yang mana mengakibatkan Sadako menderita penyakit
Leukimia. Dokter memvonisnya hanya dapat bertahan hidup selama setahun. Kalau
gue yang di vonis macam itu gue bakalan langsung ngomong, “Meennn... hidup mati
gue bukan lo yang tentuin!” dengan sangat cool. Padahal begitu sendirian di
kamar langsung nangis kejer saking shocknya!
Oke lanjut lagi dengan kisah Sadako
ini. Ketika di rumah sakit Sadako dikunjungi oleh seorang sahabatnya bernama
Chizuko, ketika di rumah sakit Chizuko menggunting sebuah kertas berwarna emas
berbentuk bujur sangkar dan membuat sebuah origami sebuah burung bangau kertas.
Chizuko lalu menceritakan legenda alias kepercayaan nenek moyang rakyat Jepang
tentang bangau kertas ini, dia berkata bahwa jika dapat melipat 1000 bangau
kertas, maka semua permintaan akan terkabul.
Sejak saat itu Sadako mulai membuat
sedikit demi sedikit bangau kertas untuk meminta kesembuhan dirinya. Sadako
berniat akan membuat 1000 bangau kertas, namun kenyataan berkata lain. Sadako
hanya mampu melipat 664 bangau kertas sebelum ajal menjemputnya. Ketika kondisi
Sadako mulai kritis, ia meminta untuk pulang. Sadako juga memiliki seorang teman
yang bernama Kenji yang juga bernasib sama dengannya. Sadako menceritakan
dongeng tentang 1000 bangau kertas pada Kenji, tapi Kenji sadar akan kenyataan
bahwa waktunya sudah dekat.
Oktober 25, 1955 Sadako
menghembuskan nafas terakhirnya. Seribu bangau tetap di lanjutkan oleh
teman-teman Sadako. Begitu bangau kertas yang di lipat mencapai seribu, Sadako
di makamkan bersama dengan seribu bangau kertas itu. Kisah Sadako ini menjadi
simbol perdamaian dunia. Bahkan untuk mengenang Sadako di buat sebuah tugu untuk
tetap membawa spirit perdamaian dunia.
| “This is our cry. This is our prayer. Peace on Earth.” |
Entah kenapa dari kisah ini gue juga
sibuk membuat bangau. Lebih tepatnya seribu bangau. Walaupun pada kenyataannya
semua hanya mitos namun ada kesenangan tersendiri ketika gue bisa membuat satu
atau dua atau tiga setiap harinya. Bedanya bangau buatan gue sama bangau buatan
Sadako hanya terletak pada isi kertasnya. Gue membuat bangau kertas sembari
menulis doa, bukan cuma untuk gue tapi untuk orang-orang yang mungkin baru gue
kenal, udah gue kenal, udah temenan sama gue, dan orang yang menganggap gue
musuh sekalipun.
Gue menganggap Tuhan adalah Penguasa
Langit yang senantiasa mengawasi daratan dan penghuni daratannya. Ini yang
membuat gue setiap kali menulis di kertas, seolah gue meminta sama Allah bukan
makhluk yang orang Jepang percaya. Jadi dalam hal keyakinan jelas gue dan
Sadako berbeda sangat jauh. Wajah kami pun berbeda.
![]() |
| Saya dan Penguasa Langit |
Tiga bangau pertama itu mewakili
perkenalan gue dengan Penguasa Langit. Yang besar sebagai hadiah, dan dua itu
sebuah doa yang gue kirim untuk di baca Penguasa Langit.
![]() |
| Setiap hari makin sering berdoa |
Keinginan gue untuk membuat harapan
menjadi nyata membuat gue kian melanjutkan tindakan konyol gue. Setiap malam
gue bakalan melipat satu atau dua bangau kertas yang bertuliskan doa untuk
setiap orang yang berbeda. Dalam penulisan itu ada niat, ada harapan agar di
lihat oleh Penguasa Langit.
![]() |
| Didalam setiap kertas ada nama mereka, yg selalu ada buat saya |
Makin hari logika gue menentang,
dongeng tetap akan jadi dongeng. Jika impian ingin terwujud salah satu yang
harus dilakukan ya berusaha sembari berdoa dan meminta pada-Nya. Namun, gue
percaya. Karena setiap bangau kertas mewakili satu penghuni daratan.
![]() |
| Tuhan ngeliat niat kita, walau dongeng tetep aja dikerjain -___-" |
Hasil Akhir yang bisa gue posting malam ini. 12
bangau kertas mewakili kesungguhan gue untuk tetap menjadi penghuni daratan
yang bisa menolong penghuni daratan lainnya. Gue juga berminat buat melipat
bangau kertas hingga angka 1000 tercapai. Begitu bangau ke seribu jadi dan
harapan gue terwujud itu artinya Allah sudah menjawab kesungguhan dan niat gue.
Just wait, sampai kapan gue sanggup kelarin kerjaan yang benar-benar kurang kerjaan ini... [ ]
Tambahan dari gue :
Harapan hanya akan menjadi kuat jika diimbangi
dengan kemauan untuk berusaha. Jika hanya berharap, mana mungkin sebuah harapan
akan terwujud. Harapan juga harus seimbang dengan ikhtiar, jika hanya berharap
tanpa ikhtiar harapan hanya jadi sampah. Kalian tahu, dibutuhkan dongeng untuk
menumbuhkan harapan. Dan di butuhkan usaha serta doa untuk mewujudkan harapan.
Sampai sini dulu, takutnya begitu gue lanjutin yang
ada malah jadi cerita fiksi LeDit. Apa harapan dan Action kalian? Bisa share di
komen box yaaa :D




Tidak ada komentar:
Posting Komentar