September 05, 2012

SEBUAH DONGENG, SEBUAH HARAPAN


            First of all izinkan gue menyapa kalian...
            I’M BACK *Gaya terminator sambil pegang sapu ijuk*.
            Malam ini gue gak bakalan nulis cerita tentang Leanis dan Adit atau lebih tepatnya kisah Leanis si anak penurut yang kurang beruntung. Gue lagi malas, malas banget buat mengingat kejadian tidak mengenakan sore ini. Mungkin kelanjutan drama LeDit bakalan gue posting besok. Malam hari ini gue bakalan nulis tentang sebuah dongeng juga sebuah harapan.
            Oke gue mulai... *bunyi drum*
            Kalian pernah dengar dongeng Senbazuru gak? Dari negeri Jepang itu lho... Masa gak tahu sih? Senbazuru atau lebih dikenal dengan seribu bangau kertas. Adalah suatu kepercayaan rakyat Jepang yang dimana katanya jika berhasil membuah 1000 bangau kertas maka satu permohonannya akan di kabulkan. Karena dongeng dan sebuah kejadian nyata yang menimpa seorang anak di Jepang yang bernama Sadako maka Seribu Bangau Kertas ini juga ikutan populer.
            Sadako ini bukan hantu yang sering muncul di film – film horor Jepang ya. Sadako disini adalah seorang gadis cilik yang terkena Radiasi Bom Atom yang mana mengakibatkan Sadako menderita penyakit Leukimia. Dokter memvonisnya hanya dapat bertahan hidup selama setahun. Kalau gue yang di vonis macam itu gue bakalan langsung ngomong, “Meennn... hidup mati gue bukan lo yang tentuin!” dengan sangat cool. Padahal begitu sendirian di kamar langsung nangis kejer saking shocknya!
            Oke lanjut lagi dengan kisah Sadako ini. Ketika di rumah sakit Sadako dikunjungi oleh seorang sahabatnya bernama Chizuko, ketika di rumah sakit Chizuko menggunting sebuah kertas berwarna emas berbentuk bujur sangkar dan membuat sebuah origami sebuah burung bangau kertas. Chizuko lalu menceritakan legenda alias kepercayaan nenek moyang rakyat Jepang tentang bangau kertas ini, dia berkata bahwa jika dapat melipat 1000 bangau kertas, maka semua permintaan akan terkabul.
            Sejak saat itu Sadako mulai membuat sedikit demi sedikit bangau kertas untuk meminta kesembuhan dirinya. Sadako berniat akan membuat 1000 bangau kertas, namun kenyataan berkata lain. Sadako hanya mampu melipat 664 bangau kertas sebelum ajal menjemputnya. Ketika kondisi Sadako mulai kritis, ia meminta untuk pulang. Sadako juga memiliki seorang teman yang bernama Kenji yang juga bernasib sama dengannya. Sadako menceritakan dongeng tentang 1000 bangau kertas pada Kenji, tapi Kenji sadar akan kenyataan bahwa waktunya sudah dekat.
            Oktober 25, 1955 Sadako menghembuskan nafas terakhirnya. Seribu bangau tetap di lanjutkan oleh teman-teman Sadako. Begitu bangau kertas yang di lipat mencapai seribu, Sadako di makamkan bersama dengan seribu bangau kertas itu. Kisah Sadako ini menjadi simbol perdamaian dunia. Bahkan untuk mengenang Sadako di buat sebuah tugu untuk tetap membawa spirit perdamaian dunia.

This is our cry. This is our prayer. Peace on Earth.”
            Entah kenapa dari kisah ini gue juga sibuk membuat bangau. Lebih tepatnya seribu bangau. Walaupun pada kenyataannya semua hanya mitos namun ada kesenangan tersendiri ketika gue bisa membuat satu atau dua atau tiga setiap harinya. Bedanya bangau buatan gue sama bangau buatan Sadako hanya terletak pada isi kertasnya. Gue membuat bangau kertas sembari menulis doa, bukan cuma untuk gue tapi untuk orang-orang yang mungkin baru gue kenal, udah gue kenal, udah temenan sama gue, dan orang yang menganggap gue musuh sekalipun.
            Gue menganggap Tuhan adalah Penguasa Langit yang senantiasa mengawasi daratan dan penghuni daratannya. Ini yang membuat gue setiap kali menulis di kertas, seolah gue meminta sama Allah bukan makhluk yang orang Jepang percaya. Jadi dalam hal keyakinan jelas gue dan Sadako berbeda sangat jauh. Wajah kami pun berbeda.

Saya dan Penguasa Langit
            Tiga bangau pertama itu mewakili perkenalan gue dengan Penguasa Langit. Yang besar sebagai hadiah, dan dua itu sebuah doa yang gue kirim untuk di baca Penguasa Langit.

Setiap hari makin sering berdoa
            Keinginan gue untuk membuat harapan menjadi nyata membuat gue kian melanjutkan tindakan konyol gue. Setiap malam gue bakalan melipat satu atau dua bangau kertas yang bertuliskan doa untuk setiap orang yang berbeda. Dalam penulisan itu ada niat, ada harapan agar di lihat oleh Penguasa Langit.

Didalam setiap kertas ada nama mereka, yg selalu ada buat saya
            Makin hari logika gue menentang, dongeng tetap akan jadi dongeng. Jika impian ingin terwujud salah satu yang harus dilakukan ya berusaha sembari berdoa dan meminta pada-Nya. Namun, gue percaya. Karena setiap bangau kertas mewakili satu penghuni daratan.

Tuhan ngeliat niat kita, walau dongeng tetep aja dikerjain -___-"
Hasil Akhir yang bisa gue posting malam ini. 12 bangau kertas mewakili kesungguhan gue untuk tetap menjadi penghuni daratan yang bisa menolong penghuni daratan lainnya. Gue juga berminat buat melipat bangau kertas hingga angka 1000 tercapai. Begitu bangau ke seribu jadi dan harapan gue terwujud itu artinya Allah sudah menjawab kesungguhan dan niat gue. Just wait, sampai kapan gue sanggup kelarin kerjaan yang benar-benar kurang kerjaan ini... [ ]
Tambahan dari gue :
Harapan hanya akan menjadi kuat jika diimbangi dengan kemauan untuk berusaha. Jika hanya berharap, mana mungkin sebuah harapan akan terwujud. Harapan juga harus seimbang dengan ikhtiar, jika hanya berharap tanpa ikhtiar harapan hanya jadi sampah. Kalian tahu, dibutuhkan dongeng untuk menumbuhkan harapan. Dan di butuhkan usaha serta doa untuk mewujudkan harapan.
Sampai sini dulu, takutnya begitu gue lanjutin yang ada malah jadi cerita fiksi LeDit. Apa harapan dan Action kalian? Bisa share di komen box yaaa :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar