September 11, 2012

KUPELUK KAU DALAM DOA

Hari ini Leanis bangun agak kesiangan, sholat pun terlambat. Semalaman dia habiskan waktunya untuk menulis. Menulis adalah kegiatan paling menyenangkan ketika hati sedang tidak dalam kondisi yang baik. Percaya atau tidak bagi Leanis, hanya ada dua cara untuk membuat hati tenang ketika gundah gulana. Cara yang pertama adalah baca buku dan yang kedua adalah nulis.
     Leanis suka menulis apapun itu. Entah itu cerpen, dongeng, atau mungkin sebuah tulisan di dalam diarynya. Kadang kala ketika bosan Leanis suka menggambar, walaupun faktanya gambarnya jauh lebih buruk di banding anak TK yang baru belajar gambar. Pernah sekali Leanis mencoba menggambar sebuah burung merpati yang sedang mampir untuk makan di pinggir jalan, yang ada burung merpatinya tampak seperti itik buruk rupa. Karena kemampuannya yang dibawah pas-pasan ini Leanis akhirnya memutuskan untuk lebih menekuni bidang tulis-menulis.
       Lagi-lagi hari senin, selesai sholat Leanis kembali membuka ponselnya. Dilihatnya status-status teman-temannya yang selalu mengeluh ketika senin menghampiri. Leanis menghela nafas panjang. Andai temen-temen saya tahu, ada orang-orang yang begitu merindukan hari senin datang. Mereka pasti tidak akan mengeluh seperti ini, batinnya.
      Baru lima menit Leanis menaruh ponselnya kembali ke tenpat tidur, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Satu pesan singkat, Leanis meraih ponselnya dilihatnya siapa yang mengirimkan pesan sepagi ini. Beni.
            From : Beni
            Maaf ya kemarin gak sempat nemenin, sumpah sibuk banget.
Kamu gak marah kan? 
Leanis buru-buru mengetik beberapa kalimat yang menunjukkan kalau dia tidak marah. Kemudian dia kirim, lalu kembali ponselnya di lempar ke atas tempat tidur. Beberapa menit kemudian Sms dari Beni kembali mampir. Kali ini ajakan makan siang, dan sangat kebetulan hari ini Leanis masih berpuasa syawal. Hari terakhir, jadi cukuplah alasan Leanis untuk tidak bertemu dengan makhluk yang satu ini.
***
Pagi ini suasana hati Leanis sedang dalam kondisi yang baik. Sejak bangun tidur Leanis selalu tersenyum, entah apa yang terjadi padanya semalam hingga pagi ini senyumnya tak juga lepas dari raut wajahnya. Selama mengendarai motor suara cemprengnya juga gak ilang, Leanis selalu bernyanyi seolah dunia adalah miliknya. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang sesekali melihatnya dengan tatapan “Berhenti lo!! Suara lo ngebuat kuping gue berdarah.”
“Pagi kak Anis....” Sapa Zalia yang datang lebih cepat di banding Leanis.
“Pagi cantik.” Balas Leanis dengan senyum ramahnya.
“Masih puasa kak?”
“Iya doong. Hari ini terakhir puasa syawalnya, besok saya lebaran deh. Hehehehe...” Leanis tertawa.
“Yaaa, saya belum selesai. Cepat amat selesainya kak. Tungguin saya kek!”
“Lebih cepat kan lebih baik. Saya ke mushollah dulu!”
Rutinitas pagi yang selalu Leanis lakukan adalah sholat duha. Sudah menjadi bagian dari kebiasaannya, kalau di pagi hari dia tidak melaksanakan sholat rasanya ada yang lain, asing, dan membuatnya tidak nyaman.
Hari ini Leanis begitu senang, puasa syawalnya akan komplit. Disamping itu dia senang karena ternyata dugaannya tentang Adit selama ini salah. Adit tetap menjadi adit yang baik hati, adit yang senang berteman dengan siapa aja, adit yang ramah, seperti biasa. Itulah Adit yang Leanis kenal. Disamping itu Leanis juga udah bertekad mulai hari ini dia akan melupakan perasaannya sama Adit, Leanis kangen ngobrol tanpa rasa canggung. Dan hari ini semoga bisa.
Selesai sholat, tumpukan pekerjaan sudah menunggu Leanis. Lagu untuk menemani dia sambil bekerja juga sudah dia siapkan. Mau kerjaan banyak atau tidak bukanlah masalah bagi Leanis. Prinsipnya selama dia ikhlas mengerjakan semuanya, sebanyak atau sesulit apapun kerjaan itu tidak akan membuatnya jenuh malah justru ia makin bersemangat.
Seperti sekarang. Justru saking semangatnya dia bekerja, jam istirahat mampir pun dia tak tahu. Mata sibuk memperhatikan program, sementara tangannya sibuk mencatat angka-angka. Leanis baru sadar ketika di tegur oleh atasannya, “Kamu tidak makan siang Nis?”
“Oh” Leanis berbalik, “Masih puasa pak” sahutnya.
“Syawal ya?” tanya atasannya pagi.
“Iya Pak. Insya Allah terakhir.”
“Besok lebaran doong!”
Leanis hanya tertawa menanggapi candaan atasannya itu. Leanis lalu melihat jam di komputernya, disana sudah menunjukkan waktu 12.15 pm, Leanis memperbaiki posisi duduknya. Kali ini dia senderan sejenak melepas pegal punggungnya yang dari pagi tegak. Ponselnya kembali dia raih, di bukanya twitter. Senyumnya kembali muncul begitu melihat timelinenya ada tweet Adit disana.
Begitu puas membaca timelinenya, Leanis bergegas ke mushollah lagi. Dzuhur. Waktunya menghadap Sang Pencipta. Sesibuk apapun manusia sudah sepantasnya dia meluangkan waktu ketika suara adzan terdengar.
***
Jam setengah empat lewat, kerjaan Leanis seolah tidak ada habisnya. Ponselnya yang dari tadi berbunyi dia acuhkan, pikirannya fokus pada kertas kerja yang ada di hadapannya. Namun seketika tingkahnya berubah ketika tiba-tiba Adit muncul di pikirannya. Hatinya gelisah, mencoba mencari tahu kenapa dia begitu gelisah tiba-tiba. Tangannya berhenti menekan angka-angka di keyboar, pikirannya masih melayang dengan pertanyaan “kenapa saya tiba-tiba mikirin dia? Semoga gak ada yang buruk-buruk terjadi.”
Sebelum perasaannya makin gelisah Leanis bergegas mengambil air wudhu, sholat ashar mungkin akan mengurangi rasa gelisahnya tentang Adit. Dan tentu saja itu hanya bereaksi sebentar. Adit masih gentayangan di kepala Leanis. Dan rasa gelisahnya masih juga ada. Mungkin ada baiknya kalau Leanis mencoba mencari tahu, secara Adit beda dengan Rendi. Rendi mungkin tidak akan membalas ketika Leanis menanyakan kabarnya, tapi kalau Adit mungkin dia akan membalasnya.
Leanis kembali meraih ponselnya, dia lihatnya aplikasi chat yang biasa dia gunakan untuk komunikasi dengan Adit. Leanis menulis beberapa kata, lalu dikirmkan. Gak berapa lama balasan dari Adit datang. Kali ini Leanis berusaha tidak membuat rasa canggung itu kembali hadir. Beberapa menit Leanis ngobrol, akhirnya dia sedikit tenang.
***
Begitu tiba di rumah lagi-lagi ponsel Leanis berdering, Beni. Leanis menatapnya tanpa berniat untuk menjawab teleponnya. Dia membiarkan teleponnya berdering, begitu leanis bosan mendengarkannya Leanis menutup ponselnya dengan bantal. Semenit kemudian ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi Beni. Mau tidak mau Leanis dengan malas meraih ponselnya.
“Ya...” sahut Leanis datar.
“Saya ganggu ya?” Beni merasa tidak enak.
“Eh enggak kok, tenang aja. Gak ganggu kok, hahahah” Leanis berusaha menetralkan suaranya. “Ada apa?”
“Gak ada apa-apa sih, cuma mau ngobrol.”
“Ummm, mau ngobrolin apa?? Soal Naruto ya? Atau detektif conan? Atau one piece mungkin? Atau ngobrolin soal buku?” Leanis ngoceh panjang lebar.
“Bukan. Bukan itu. Gimana kalau ngomongin kita?”
“KITA?” Ucap Leanis terkejut, “Tidak ada yang bagus dibahas soal kita. Mending bahas tentang potret hidup orang pinggriran saja, saya lagi exicted banget mau nulis tentang rakyat nih.”
“Kamu tuh kapan sih bisa coba buka hati kamu?” Nada bicara Beni tiba-tiba berubah.
“Kapan-kapan saja kalau kunci gemboknya ketemu, hahahaha” balas Leanis bercanda.
“Saya serius Nis. Kenapa kita gak coba jalanin aja, mungkin kamu bisa suka sama saya suatu hari nanti.”
“Mungkin? Kamu mau kalau jadi mainan saya? Kamu mau kalau saya jalan sama kamu tapi hati dan pikiran saya gak buat kamu? Kamu mau diperlakukan sebagai rumah persinggahan sementara?”
Kali ini Beni yang diam, ada jeda yang lumayan lama diantara obrolan mereka. Leanis masih menunggu Beni berbicara, sementara Beni sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaan beruntun yang ditanyakan Leanis.
“Saya bisa kok buat kamu suka sama saya” balas Beni yang membuat Leanis mangap.
“You don’t even know me. Saya itu sangat susah suka sama org, sekalinya suka cuma orang itu yang akan terus saya suka sampai Tuhan kasih tahu saya kapan waktunya saya harus berhenti suka sama orang itu. Kamu tahu Ben, I’m nerd. Not like another girls. Kenapa kita gak berteman saja. Itu jauh lebih mengasyikkan, saya bisa ledekin kamu terus-terusan, gangguin kamu, sorakin kamu. Itu kan lebih menyenangkan.” Leanis kembali berusaha menetralkan kondisi diantara dia dan Beni.
“Kamu suka sama orang lain ya?” Pertanyaan Beni barusan bagaikan jarum suntik yang siap menusuk tubuh Leanis. Tidak mungkin Leanis menceritakan tentang orang yang dia sukai, apalagi pada Beni. Satu-satunya orang yang tahu hati Leanis hanya Pia sahabat karibnya.
“Iya. Saya suka sama seseorang.” Ucap Leanis tegas, “Dan saya pikir sekarang sudah waktunya saya istirahat. Maaf Ben, mungkin besok kita bisa lanjutin obrolan kita. Friends always?” Leanis tersenyum ramah seolah Beni sedang berdiri di hadapannya. Tidak ada jawaban dari Beni, hanya suara telepon terputus yang terdengar.
Leanis kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kali ini dia tidak menatap deretan bintang di langit-langit kamarnya. Matanya tertuju pada sebuah gambar yang di kerjakan beberapa minggu yang lalu. Semenit dia menatap gambar itu, lalu dia buru-buru menghilangkan gambar itu dari pandangannya.
Ku pejamkan mata ini
Ku tertidur tanpa lelap
Tapi ku bermimpi kau jadi milikku

Suaramu tetap bernyanyi
Walau sadar ku kian tak ada
Namun ku bahagia lagumu milikku
Indah senyumanmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi
Apapun yang kau ciptakan
Ku akan berjuang dapatkan
Jika kau bahagia aku semakin bahagia
Indahnya wajahmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi
Indah senyumanmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari itu cinta yang tak mungkin jadi
Meski ku tak bisa memiliki dirimu
Takkan ku berpaling pergi (berpaling pergi)
Makin ku mencintai ku lepas kau kekasih
Biar terbang tinggi cinta yang tak mungkin
Terbang tinggi
            Leanis buru-buru mematikan ponselnya, kali ini kedua ponselnya dia matikan. Pintu kamar dia kunci, lagu barusan juga sudah di matikan. Lagu yang membuatnya sadar, ada saatnya seberapa berusahanya dia melakukan sesuatu IMPOSIBLE itu selalu ada. Karena ini juga Leanis ingin melupakan semuanya, biar rasa canggung itu tidak lagi muncul. Juga rasa bersalah itu bisa pergi sejauh mungkin. [ ]
            Manusia hidup sekali, jatuh cinta sekali, nikah sekali, dan mati sekali. Cinta pertama dengan pacar pertama itu beda jauh. Ibarat bumi dan langit. Cinta pertama ibarat langitnya dimana selalu mata mencari meski tidak terlihat apa-apa. Dan pacar pertama itu ibarat buminya, dimana kaki pernah berpijak. Saya pernah berpijak dibumi yang salah, juga masih sering mencari yang tidak terlihat di langit. Sekarang Bumi dan Langit yang kuinginkan bukan lagi Bumi dan langit yang dulu. Saya ingin Bumi dimana saya bisa terus berpijak disana, juga ingin langit dimana saya tidak mencari yang tak nampak. Ketika saya menoleh dia ada disana dengan senyum tulusnya. Ketika kaki tak mampu menahan beban yang berat dia juga ada disana dengan senyum tulusnya. Ku peluk kamu dengan doaku, ku sapa kamu dengan doaku, seperti sepenggal bait diatas “Jika kamu bahagia, aku semakin bahagia.” Memilikimu dalam mimpi cukup bagiku, sangat cukup.
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar