Pagi ini matahari kembali bersinar
sangat cerah, panasnya seolah balasan atas doa-doa ibu-ibu yang jemurannya gak
kering-kering. Cahaya terang matahari pagi ini tidak seperti cahaya cerah yang
seperti Nis rasakan. Pagi ini rasa pilu juga sesak di dada kembali mampir kala
mengingat perasaannya yang tidak terbalas.
“HAAAHHH! KENAPA TUHAN HARUS
MENCIPTAKAN MANUSIA BERPASANGAN?” Omel Nis begitu melihat akun twitternya.
Hal pertama yang tiap pagi ketika
Nis bangun dari tidur panjangnya adalah mengintip timeline twitternya. Di pagi
hari banyak tweet yang mungkin bisa memotivasi dirinya agar tidak begitu sering
mengingat orang yang dia sukai. Selain itu Nis juga sering stalking di timeline
Adit, sekedar membaca apa yang di lakukan sosok pujaan hatinya itu.
“Kamu ini sebenarnya sudah ada di
makassar atau masih ada di kampung halaman kamu sih?” Sekali lagi Nis mengomel
sendiri. Tingkahnya pagi ini sudah tampak orang gila yang baru saja sembuh.
“Kamu itu ngomong sama siapa nak?
Siapa yang sudah ke makassar?” Tegur mama Nis tiba-tiba. Nis hanya cengengesan,
spontan ia bangun dari posisi tidurnya, mengikat rambutnya, dan mengenakan
sarung balinya sebagai penutup kepalanya.
Oh iya, Nis gadis berjilbab. Sudah
sejak SMP Nis mengenakan jilbab namun baru sekitar setahun dia benar-benar
mengenakan jilbab yang syar’i. Baginya yang pantas melihat rambutnya hanya
orang tuanya, kakak-kakaknya, adik-adiknya, juga suaminya kelak. Apa yang
membuatnya sadar, tentu saja karena Cinta. Menurutnya ketika dirinya baik
menjaga tubuhnya maka Tuhan juga akan memberikan seorang pria yang baik.
Leanis yang dulu sama sekarang
memang begitu berbeda, dari penampilan saja sudah begitu berbeda. Leanis yang
dulu begitu update untuk masalah fashion sementara leanis yang sekarang,
pakaian yang nyaman menurutnya adalah fashionnya. Leanis yang dulu suka
berhijab ala hijabers kini lebih suka menggunakan jilbab yang syar’i, tak
jarang ketika bertemu dengan orang baru dia sedikit minder.
“Ma, hari ini ada rencana
jalan-jalan kan?” Sahut Nis sebelum meninggalkan kasur empuknya.
“Iya, katanya bapakmu mau ke harapan
baru. Sana mandi!”
***
Berjalan-jalan dengan keluarga
adalah hal yang menyenangkan setelah tidur siang menurut Nis. Hari ini kondisi
pusat perbelanjaan mungkin tidak seramai hari lebaran, dan ini juga
mengasyikkan. Tidak perlu berdesak-desakan dengan orang lain, juga tidak perlu
merasakan pusing melihat beribu orang memenuhi satu ruangan dengan penuh sesak.
“Singgah makan ya. Laperrrr!” Sahut
Nis begitu motor adiknya melaju cepat di jalanan yang lumayan sepi.
“Mau makan apa?”
“Mau makan nasi.”
“Lah dirumah kan ada ketupat. Tadi
gak makan kamu?”
“Gak. Itu bedaaaa....” teriak Nis.
“Beda apanya? Sama-sama dari beras
juga bego!”
“Ya bedalah. Nasi tuh kehambur,
kalau ketupat padat.”
Begitu tiba di di pusat
perbelanjaan, Nis memeriksa ponselnya. Disana ada beberapa BBM dari temannya.
Di lihatnya satu persatu, begitu tidak teramat penting Nis akan langsung
mengakhirinya.
“Kantor pos buka nggak ya hari ini?”
tanya Nis lagi berusaha mengikuti langkah Adiknya.
“Gak tahu. Kenapa?”
“Mau kirim paket. Tapi bentar deh,
saya tanya teman dulu apa ia sudah di makassar atau masih di kampung halaman.”
Jemari kecil Nis begitu lincah
bergerak menekan huruf demi huruf dan merangkainya menjadi sebuah kalimat
tanya. Tidak beberapa lama, Nis sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya.
Kali ini niatnya untuk mengirimkan buku di tunda dulu. Orang yang di tuju belum
kembali dari kampung halamannya, jadi mungkin lebih baik jika buku di kirim
begitu si pemilik rumah ada di tempat. Dari obrolan singkat itu Nis tahu hal.
Si Adit yang dia kenal melalui dunia maya ternyata .... ya begitulah.
“Apa sekarang saya harus menyerah?
Mana mungkin dia menyukai wanita sepertiku.” Gumam Nis begitu melihat pantulan
dirinya di depan cermin. Nis kembali membuka obrolannya dengan Pia beberapa
hari yang lalu.

***
“Hahhhhh... kembali menyukai
seseorang secara sepihak! Apa aku sebegitu bodohnya? Hey Leanis Astari, kenapa
kau bisa menyukainya hanya karena senyumnya membuatmu senang? Apa kau
benar-benar gila?” Ucap Nis pada pantulan dirinya di cermin.
Aku
benci jatuh cinta. Aku benci menunggu kamu muncul di timelineku, menunggu kamu
menyapaku, seolah seharian hanya kamu yang penting. Aku benci jatuh cinta,
terutama kepadamu.
_Leanis_.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar