Agustus 20, 2012

SHOULD I GIVE UP?

            Pagi ini matahari kembali bersinar sangat cerah, panasnya seolah balasan atas doa-doa ibu-ibu yang jemurannya gak kering-kering. Cahaya terang matahari pagi ini tidak seperti cahaya cerah yang seperti Nis rasakan. Pagi ini rasa pilu juga sesak di dada kembali mampir kala mengingat perasaannya yang tidak terbalas.
            “HAAAHHH! KENAPA TUHAN HARUS MENCIPTAKAN MANUSIA BERPASANGAN?” Omel Nis begitu melihat akun twitternya.
            Hal pertama yang tiap pagi ketika Nis bangun dari tidur panjangnya adalah mengintip timeline twitternya. Di pagi hari banyak tweet yang mungkin bisa memotivasi dirinya agar tidak begitu sering mengingat orang yang dia sukai. Selain itu Nis juga sering stalking di timeline Adit, sekedar membaca apa yang di lakukan sosok pujaan hatinya itu.
            “Kamu ini sebenarnya sudah ada di makassar atau masih ada di kampung halaman kamu sih?” Sekali lagi Nis mengomel sendiri. Tingkahnya pagi ini sudah tampak orang gila yang baru saja sembuh.
            “Kamu itu ngomong sama siapa nak? Siapa yang sudah ke makassar?” Tegur mama Nis tiba-tiba. Nis hanya cengengesan, spontan ia bangun dari posisi tidurnya, mengikat rambutnya, dan mengenakan sarung balinya sebagai penutup kepalanya.
            Oh iya, Nis gadis berjilbab. Sudah sejak SMP Nis mengenakan jilbab namun baru sekitar setahun dia benar-benar mengenakan jilbab yang syar’i. Baginya yang pantas melihat rambutnya hanya orang tuanya, kakak-kakaknya, adik-adiknya, juga suaminya kelak. Apa yang membuatnya sadar, tentu saja karena Cinta. Menurutnya ketika dirinya baik menjaga tubuhnya maka Tuhan juga akan memberikan seorang pria yang baik.
            Leanis yang dulu sama sekarang memang begitu berbeda, dari penampilan saja sudah begitu berbeda. Leanis yang dulu begitu update untuk masalah fashion sementara leanis yang sekarang, pakaian yang nyaman menurutnya adalah fashionnya. Leanis yang dulu suka berhijab ala hijabers kini lebih suka menggunakan jilbab yang syar’i, tak jarang ketika bertemu dengan orang baru dia sedikit minder.
            “Ma, hari ini ada rencana jalan-jalan kan?” Sahut Nis sebelum meninggalkan kasur empuknya.
            “Iya, katanya bapakmu mau ke harapan baru. Sana mandi!”
***
            Berjalan-jalan dengan keluarga adalah hal yang menyenangkan setelah tidur siang menurut Nis. Hari ini kondisi pusat perbelanjaan mungkin tidak seramai hari lebaran, dan ini juga mengasyikkan. Tidak perlu berdesak-desakan dengan orang lain, juga tidak perlu merasakan pusing melihat beribu orang memenuhi satu ruangan dengan penuh sesak.
            “Singgah makan ya. Laperrrr!” Sahut Nis begitu motor adiknya melaju cepat di jalanan yang lumayan sepi.
            “Mau makan apa?”
            “Mau makan nasi.”
            “Lah dirumah kan ada ketupat. Tadi gak makan kamu?”
            “Gak. Itu bedaaaa....” teriak Nis.
            “Beda apanya? Sama-sama dari beras juga bego!”
            “Ya bedalah. Nasi tuh kehambur, kalau ketupat padat.”
            Begitu tiba di di pusat perbelanjaan, Nis memeriksa ponselnya. Disana ada beberapa BBM dari temannya. Di lihatnya satu persatu, begitu tidak teramat penting Nis akan langsung mengakhirinya.
            “Kantor pos buka nggak ya hari ini?” tanya Nis lagi berusaha mengikuti langkah Adiknya.
            “Gak tahu. Kenapa?”
            “Mau kirim paket. Tapi bentar deh, saya tanya teman dulu apa ia sudah di makassar atau masih di kampung halaman.”
            Jemari kecil Nis begitu lincah bergerak menekan huruf demi huruf dan merangkainya menjadi sebuah kalimat tanya. Tidak beberapa lama, Nis sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya. Kali ini niatnya untuk mengirimkan buku di tunda dulu. Orang yang di tuju belum kembali dari kampung halamannya, jadi mungkin lebih baik jika buku di kirim begitu si pemilik rumah ada di tempat. Dari obrolan singkat itu Nis tahu hal. Si Adit yang dia kenal melalui dunia maya ternyata .... ya begitulah.
            “Apa sekarang saya harus menyerah? Mana mungkin dia menyukai wanita sepertiku.” Gumam Nis begitu melihat pantulan dirinya di depan cermin. Nis kembali membuka obrolannya dengan Pia beberapa hari yang lalu.
Text Box: Leanis_ Nis : “Ya, saya nyerah Pia. Mana mungkin dia suka dengan wanita seperti saya.”
Appi_Pia : “Ihh kamu mah nyerah sebelum berjuang. Mana Leanis yang saya kenal??”
Leanis_Nis: “Hehehe, saya nyerah saja deh. Menyukainya dalam diam sudah cukup bagiku. Hehehe”
***
            “Hahhhhh... kembali menyukai seseorang secara sepihak! Apa aku sebegitu bodohnya? Hey Leanis Astari, kenapa kau bisa menyukainya hanya karena senyumnya membuatmu senang? Apa kau benar-benar gila?” Ucap Nis pada pantulan dirinya di cermin.
            Aku benci jatuh cinta. Aku benci menunggu kamu muncul di timelineku, menunggu kamu menyapaku, seolah seharian hanya kamu yang penting. Aku benci jatuh cinta, terutama kepadamu.
_Leanis_.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar