Pagi ini langit tidak mendung, juga tidak begitu terik. Suasana pagi ini sama seperti suasana hati Nis. Tenang dan damai. Semalam kembali Nis habiskan sedikit waktunya untuk ngobrol dengan Adit. Teman baru yang juga pria yang membuatnya kembali merasa hidup.
Tidak ada yang special yang
dikatakan Adit selama ngobrol. Semuanya hanya omongan-omongan tidak penting.
Malam itu serasa Nis memiliki Adit walau pada kenyataannya hanya Nis yang
menyukai Adit.
Kembali Leanis melihat sejauh mana
hasil tulisannya, kali ini Nis menulis cukup banyak. Cerita fiktif yang dia
ciptakan kini hampir sampai pada titik puncaknya. Pagi ini lumayan sibuk,
sebentar lagi lebaran tiba. Rasanya Nis selalu ingin berada di bulan ramadhan,
ada hal-hal tertentu yang pasti bisa dia lakukan untuk bisa tetap berhubungan
dengan Adit di bulan Ramadhan.
Dari kejauhan Nis menatap ponselnya
yang dari tadi berdering. Disana tertera satu nama, Nis melihat siapa yang
menelpon. Orang yang telah begitu lama hilang tiba-tiba muncul di layar ponsel
Nis. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menunggu teleponnya kembali
berdering, namun harapan tidak selalu terjadi seperti apa yang diinginkan.
Ponselnya tidak lagi berdering.
Si kuning, begitu Nis memanggil
ponsel samsung miliknya. Dia melempar jauh si kuning saking jengkelnya dia pagi
itu. “Kalau cuma mau missed call kenapa cuma sekali? Apa kamu gak tahu seberapa
maunya saya bicara dengan kamu!” omelnya layaknya orang gila.
“Kamu bukannya ada janji sama kakak
kamu?” Tegur abang Nis dari luar kamar. Nis mengubah ekspresi mukanya, dia lupa
kalau hari ini dia janji. Saking sibuknya dia melakukan hal-hal lain di
kamarnya dia sampai lupa harus menemani kakaknya ke pusat perbelanjaan. Segera
Nis ke kamar mandi, mandi kilat agar kakaknya tidak ngomel-ngomel padanya.
***
“Assalamu’alaikum.” Suara cempreng
Nis terdengar. “Ya ampun, kamu belum pakaian toh. Saya kira kamu udah siap
sedia.” Tambahnya.
“Ini tinggal pakaian bawel. Jagain ponakan kamu dulu
sementara saya berpakaian.”
Nis memiliki dua kakak, kakak pertamanya yang
seorang wanita telah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki yang artinya
Nis sekarang telah menjadi tante. Tapi karena si Nis emang rada aneh anaknya,
dia paling malas di panggil tante. Setiap kali ngajak ngomong ponakannya pasti
dia menyebut dirinya Kakak.
“Ayo berangkat biar gak kesorean pulangnya.”
“Tapi nanti mampir sebentar di Gramedia ya.”
“Mau ngapain?” Tanya kakak Leanis.
“Mau beli buku buat teman.” Sahutnya sambil
malu-malu. “Ehh, kamu puasa?” sambung Nis.
“Gak, lagi halangan. Kamu?”
“Puasa doong. Padahal gak bangun sahur, mana kemarin
malam gak makan juga. Di rumah gak ada yang sahur juga, ahhh gara-gara kecapean
jalan-jalan nih.” Celoteh Nis.
“Udah hayukkk, ceritanya kapan-kapan saja.”
***
Kondisi jalanan di kota Makassar
terbilang cukup padat siang ini, di tambah terik matahari yang begitu menyengat
menambah rasa sesak juga rasa haus. Jika hari itu Nis tidak berkata demikian
mungkin sekarang Nis udah sampe rumah, tidur siang sambil menghidupkan
ceritanya. Tapi karena dia sangat ingin mendapatkan buku itu untuk seorang yang
dia sukai, siang itu dia bela-belain untuk mencari buku yang dia inginkan.
Padahal Adit sendiri justru mungkin
tidak begitu menginginkan buku itu. Hanya saja Nis yang terlampau menyukai Adit
dan bertingkah seolah-olah apa yang dikatakan Adit adalah perintah untuknya.
“Kamu cari buku apaan sih? Gak lama
kan!” Tanya kakak Leanis.
“Novelnya Dee, perahu kertas. Tenang
cuma lima menit doang, abis dari sini kita langsung pulang ya. Capek banget.”
“Hey, katanya mau nemenin ke
Rabbani!” protes kakak Leanis.
“Ya ampun, yang tadi masih belum
cukup gitu belanjanya?” kembali Nis memperlihatkan ekspresi anehnya.
Obrolan Nis dan Adit kemarin malam
memang hanya seputar perahu kertas. Dan sangat kebetulan ketika Nis menawari
Adit sebuah buku Adit mengiyakan untuk menerima pemberian Nis. Dan tentu saja
itu yang membuat Nis semangat menembus panasnya matahari di tengah kondisi
macet.
“Udah nih. Hayuk pulang!” Ajak Nis.
***
Dikamar novel perahu kertas yang dia
beli di pandangnya terus menerus, ada secercah harapan dari buku yang Nis
pegang. Harapan pertama, Nis ingin suatu saat hasil tulisannya juga bisa di
terbitkan. Harapan kedua, tentu saja setelah memberikan buku ini pada Adit, Nis
bisa membahas isi buku itu bersama dengan Adit.
Selama ini Nis selalu ingin punya
seseorang yang bisa membantunya dalam meningkatkan kualitasnya. Nis selalu
ingin membagi setiap tulisan yang telah selesai kepada seseorang. Dulu ia
sempat hampir memperlihatkan tulisannya pada Arya namun, karena Arya tidak
begitu suka dengan tulisan fiktif juga dongeng-dongeng yang tidak masuk akal
maka Nis enggan memperlihatkannya.
Yang sekarang Nis hanya ingin suatu
saat nanti Adit bisa membaca hasil tulisannya, mengomentarinya dan bersama-sama
membahas bagian-bagian yang bisa di kembangkan. Atau bersama-sama mengembangkan
imajinasinya. Duduk di sebuah meja, sambil membayangkan tokoh-tokoh yang Nis
ceritakan dan bersama-sama menghidupkan karakter dalam cerita itu.
Yah, impian....
Akan selalu indah ketika hanya
menjadi impian, dan akan jauh lebih indah jika bisa menjadi nyata. Namun ada
kalanya menyakitkan ketika impian itu hanya tinggal impian semata.
Siapapun kita
pasti punya seseorang yang kita suka diam-diam. Saat kita mengingat orang itu,
kita akan merasa sesak di dada, tetapi entah kenapa kita terus menyukainya.
Walaupun aku tidak tahu dimana dia sekarang, bagaimana kabarnya, dan apakah dia
juga menyukaiku atau tidak. Tapi dialah yang membuatku seperti ini, membuatku
melupakan masa laluku dan kembali merasa hidup ini tidak selalu harus membuat
kita bersedih. Hal kecil yang disebut CINTA.
_Leanis_
Nis membuka foto profile Adit,
melihatnya dalam seraya berucap dalam hati “Aku menyukainya, di hadapannya aku
ingin menjadi diriku sendiri seperti bintang Al Shira yang selalu menerangi
langit lebih terang di banding bintang lainnya. Dia pun begitu, membuatku
tenang oleh senyum manisnya. Membuatku lupa oleh luka dimasa laluku, sampai aku
tak bisa katakan apa-apa padanya bahkan untuk sekedar bilang rindu atau butuh.”
Nis menutup buku catatan kecil miliknya yang kini mulai ia isi dengan seorang
yang bernama A D I T.
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar