Agustus 20, 2012

JATUH CINTA LAGI


            Pagi ini langit tidak mendung, juga tidak begitu terik. Suasana pagi ini sama seperti suasana hati Nis. Tenang dan damai. Semalam kembali Nis habiskan sedikit waktunya untuk ngobrol dengan Adit. Teman baru yang juga pria yang membuatnya kembali merasa hidup.
            Tidak ada yang special yang dikatakan Adit selama ngobrol. Semuanya hanya omongan-omongan tidak penting. Malam itu serasa Nis memiliki Adit walau pada kenyataannya hanya Nis yang menyukai Adit.
            Kembali Leanis melihat sejauh mana hasil tulisannya, kali ini Nis menulis cukup banyak. Cerita fiktif yang dia ciptakan kini hampir sampai pada titik puncaknya. Pagi ini lumayan sibuk, sebentar lagi lebaran tiba. Rasanya Nis selalu ingin berada di bulan ramadhan, ada hal-hal tertentu yang pasti bisa dia lakukan untuk bisa tetap berhubungan dengan Adit di bulan Ramadhan.
            Dari kejauhan Nis menatap ponselnya yang dari tadi berdering. Disana tertera satu nama, Nis melihat siapa yang menelpon. Orang yang telah begitu lama hilang tiba-tiba muncul di layar ponsel Nis. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menunggu teleponnya kembali berdering, namun harapan tidak selalu terjadi seperti apa yang diinginkan. Ponselnya tidak lagi berdering.
            Si kuning, begitu Nis memanggil ponsel samsung miliknya. Dia melempar jauh si kuning saking jengkelnya dia pagi itu. “Kalau cuma mau missed call kenapa cuma sekali? Apa kamu gak tahu seberapa maunya saya bicara dengan kamu!” omelnya layaknya orang gila.
            “Kamu bukannya ada janji sama kakak kamu?” Tegur abang Nis dari luar kamar. Nis mengubah ekspresi mukanya, dia lupa kalau hari ini dia janji. Saking sibuknya dia melakukan hal-hal lain di kamarnya dia sampai lupa harus menemani kakaknya ke pusat perbelanjaan. Segera Nis ke kamar mandi, mandi kilat agar kakaknya tidak ngomel-ngomel padanya.
***
            “Assalamu’alaikum.” Suara cempreng Nis terdengar. “Ya ampun, kamu belum pakaian toh. Saya kira kamu udah siap sedia.” Tambahnya.
“Ini tinggal pakaian bawel. Jagain ponakan kamu dulu sementara saya berpakaian.”
Nis memiliki dua kakak, kakak pertamanya yang seorang wanita telah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki yang artinya Nis sekarang telah menjadi tante. Tapi karena si Nis emang rada aneh anaknya, dia paling malas di panggil tante. Setiap kali ngajak ngomong ponakannya pasti dia menyebut dirinya Kakak.
“Ayo berangkat biar gak kesorean pulangnya.”
“Tapi nanti mampir sebentar di Gramedia ya.”
“Mau ngapain?” Tanya kakak Leanis.
“Mau beli buku buat teman.” Sahutnya sambil malu-malu. “Ehh, kamu puasa?” sambung Nis.
“Gak, lagi halangan. Kamu?”
“Puasa doong. Padahal gak bangun sahur, mana kemarin malam gak makan juga. Di rumah gak ada yang sahur juga, ahhh gara-gara kecapean jalan-jalan nih.” Celoteh Nis.
“Udah hayukkk, ceritanya kapan-kapan saja.”
***
            Kondisi jalanan di kota Makassar terbilang cukup padat siang ini, di tambah terik matahari yang begitu menyengat menambah rasa sesak juga rasa haus. Jika hari itu Nis tidak berkata demikian mungkin sekarang Nis udah sampe rumah, tidur siang sambil menghidupkan ceritanya. Tapi karena dia sangat ingin mendapatkan buku itu untuk seorang yang dia sukai, siang itu dia bela-belain untuk mencari buku yang dia inginkan.
            Padahal Adit sendiri justru mungkin tidak begitu menginginkan buku itu. Hanya saja Nis yang terlampau menyukai Adit dan bertingkah seolah-olah apa yang dikatakan Adit adalah perintah untuknya.
            “Kamu cari buku apaan sih? Gak lama kan!” Tanya kakak Leanis.
            “Novelnya Dee, perahu kertas. Tenang cuma lima menit doang, abis dari sini kita langsung pulang ya. Capek banget.”
            “Hey, katanya mau nemenin ke Rabbani!” protes kakak Leanis.
            “Ya ampun, yang tadi masih belum cukup gitu belanjanya?” kembali Nis memperlihatkan ekspresi anehnya.
            Obrolan Nis dan Adit kemarin malam memang hanya seputar perahu kertas. Dan sangat kebetulan ketika Nis menawari Adit sebuah buku Adit mengiyakan untuk menerima pemberian Nis. Dan tentu saja itu yang membuat Nis semangat menembus panasnya matahari di tengah kondisi macet.
            “Udah nih. Hayuk pulang!” Ajak Nis.
***
            Dikamar novel perahu kertas yang dia beli di pandangnya terus menerus, ada secercah harapan dari buku yang Nis pegang. Harapan pertama, Nis ingin suatu saat hasil tulisannya juga bisa di terbitkan. Harapan kedua, tentu saja setelah memberikan buku ini pada Adit, Nis bisa membahas isi buku itu bersama dengan Adit.
            Selama ini Nis selalu ingin punya seseorang yang bisa membantunya dalam meningkatkan kualitasnya. Nis selalu ingin membagi setiap tulisan yang telah selesai kepada seseorang. Dulu ia sempat hampir memperlihatkan tulisannya pada Arya namun, karena Arya tidak begitu suka dengan tulisan fiktif juga dongeng-dongeng yang tidak masuk akal maka Nis enggan memperlihatkannya.
            Yang sekarang Nis hanya ingin suatu saat nanti Adit bisa membaca hasil tulisannya, mengomentarinya dan bersama-sama membahas bagian-bagian yang bisa di kembangkan. Atau bersama-sama mengembangkan imajinasinya. Duduk di sebuah meja, sambil membayangkan tokoh-tokoh yang Nis ceritakan dan bersama-sama menghidupkan karakter dalam cerita itu.
            Yah, impian....
            Akan selalu indah ketika hanya menjadi impian, dan akan jauh lebih indah jika bisa menjadi nyata. Namun ada kalanya menyakitkan ketika impian itu hanya tinggal impian semata.

Siapapun kita pasti punya seseorang yang kita suka diam-diam. Saat kita mengingat orang itu, kita akan merasa sesak di dada, tetapi entah kenapa kita terus menyukainya. Walaupun aku tidak tahu dimana dia sekarang, bagaimana kabarnya, dan apakah dia juga menyukaiku atau tidak. Tapi dialah yang membuatku seperti ini, membuatku melupakan masa laluku dan kembali merasa hidup ini tidak selalu harus membuat kita bersedih. Hal kecil yang disebut CINTA.
_Leanis_
          
  Nis membuka foto profile Adit, melihatnya dalam seraya berucap dalam hati “Aku menyukainya, di hadapannya aku ingin menjadi diriku sendiri seperti bintang Al Shira yang selalu menerangi langit lebih terang di banding bintang lainnya. Dia pun begitu, membuatku tenang oleh senyum manisnya. Membuatku lupa oleh luka dimasa laluku, sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya bahkan untuk sekedar bilang rindu atau butuh.” Nis menutup buku catatan kecil miliknya yang kini mulai ia isi dengan seorang yang bernama A D I T.

To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar