Hari ini gue gak bakal cerita
tentang Leanis yang jatuh cinta pada Adit. Leanis yang cintanya bertepuk
sebelah tangan. Gue gak lagi mood nulis tentang dua makhluk itu. Hari ini gue
cuma mau nulis beberapa kejadian yang membuat gue seharian mensyukuri gue
terlahir sebagai Arini.
Bagaimana gue mesti memulai cerita
singkat gue yang menurut gue sedikit tidak mengenakkan. Nulis itu ternyata gak
mudah kawan, harus mencari kata-kata pas biar cerita yang dibuat hidup. Bernyawa.
Dan sekarang gue pusing, bagaimana itu tulisan yang bernyawa? Apakah dia akan
hidup begitu gue tulis the end lalu berkata “Kenapa lo nulis akhirnya kayak
gini?”. Ahh sudahlah, kalian yang membaca ini mungkin bakalan nyangka gue gila,
padahal gue sedang berkhayal saja.
Baiklah. Gue mulai cerita singkat
gue.
Nama gue Arini, yah mungkin kalian
sudah tahu. Gue terlahir sebagai anak rumahan, itu gue jelaskan dalam salah
satu naskah gue yang di tolak mentah-mentah setelah di gantungin selama empat
bulan (Sedih bentar). Tapi tenang saja bukan Arini namanya kalau sekali di
tolak langsung nyerah.
Back
to our main topic, menjadi orang yang tidak tahu apa-apa benar-benar suatu
anugrah yang Tuhan kasih ke gue. Gue juga gak pernah menyangka kalau ternyata
menjadi anak rumahan itu adalah hal langka yang dimiliki anak remaja jaman
sekarang. Bahkan di kampung halaman tempat gue besar gue juga di juluki anak
rumahan sama teman-teman. Dan begitu gue hijrah ke Makassar julukan itu justru
makin membuah gue terlihat Cute (Baca : Freak).
Oke gue bukan anak yang doyan
bepergian kalau gak penting-penting banget. Gue lebih suka tinggal di kamar
gue, menyalakan kipas angin lalu mengambil sebuah buku di lemari buku gue untuk
menemani gue di kala weekend. Gue gak begitu suka jalan-jalan ke mall kecuali
ada tawaran MAKAN GRATIS. Gue gak begitu suka ketika di telpon “Yuk,
jalan-jalan.” Kecuali temen gue bilang, “Makan-makan yuk. Gue yang TRAKTIR.”
Yaa, gue suka gratisan. Entah kenapa
semua makanan yang gratisan itu terasa begitu... begitu... begitu... LEZAT.
Tapi karena sekarang gue udah kerja, udah bisa menghasilkan duit yang lumayan
di pake buat makan sebulan, teman-teman gue jadi jarang mentraktir gue. Padahal
ada kalanya gue bener-bener rindu mereka. Sangat rindu dengan ajakan makan
gratis dari mereka.
Oke balik lagi. Langsung saja gue
inti dari judul tulisan gue. Sometimes gue gak mengerti apa ada yang salah
dengan diri gue. Gue tipikal orang yang susah mengingat sesuatu terkecuali gue
terlampau sering melihat sesuatu itu. Oke buat kalian yang gak ngerti gue kasih
contoh. Misalnya kayak gini, gue susah hafal nama orang-orang tapi kalau lihat
facenya mungkin gue bisa ingat, sedikit. Sama halnya jalan dan rute-rute yang
ada di kota Makassar ini. Gue gak pernah bisa hafal.
Yah, gue akui tiga tahun lebih
tinggal di Makassar seharusnya gue bisa sedikit banyak tahu jalan-jalan yang
ada di makassar. Atau paling enggak Rute-rute jalan untuk ke suatu tempat, juga
beberapa tempat di makassar. Tapi nyatanya TIDAK. Gue masih menjadi Arini si
Anak Rumahan.
Gue masih menjadi Arini yang ketika
di tanya, “Lo tahu dunia kartun dimana?” dengan cepatnya gue jawab “TIDAK.” Atau
ketika gue mendapat undangan pernikahan dari seorang teman, gue tanpa malu
langsung bertanya, “Ini tempatnya di mana? Dijalan mana?”. Atau ketika gue
janjian dengan teman kampus gue di lokasi yang tidak gue tahu maka dengan tanpa
ada rasa malu gue langsung bilang “Itu di bagian mana?” Bahkan saking gak
pernahnya gue nonton di XXI gue bahkan bertanya “XXI di bagian mana? Padahal jelas-jelas
XXI ada di lantai 3 mall.
Dan terlebih lagi gue rada sebel
sama tingkah teman-teman gue yang setiap kali gue nanya, “Ini dimana? Itu dekat
mana ya? SMP itu dimana? SMA itu dimana?” dengan tampang tanpa berdoanya mereka
terkejut seolah apa yang baru gue katakan adalah “Besok Jung Yong Hwa mau
nikahin gue.”Kemudian mereka berkata "SUMPEH LO!!", Seperti ini...
| APA??? SUMPEH LO!! |
Jujur setiap kali gue ngeliat
tampang mereka-mereka yang aneh kayak gitu gue selalu pengen ngelempar sesuatu
ke muka mereka. Tapi balik lagi, gue anak baik, gak begitu suka marah, kalau
marah paling cuma semenit abis itu ELO GUE SAMA. Dan terlebih lagi, dari apa
yang gue lakukan itu mereka tertawa. Ya, mereka TERTAWA. Itu artinya gue sukses
membuat mereka senang. Dan tahukah kalian, untuk membuat orang lain senang
kepada kita salah satu cara yang paling ampuh adalah “BUAT MEREKA TERTAWA”.
Simple bukan?
Sometimes,
being stupid is good. Tidak ada salahnya menjadi bodoh untuk menyenangkan
orang lain bukan, asal jangan di buat-buat saja karena sesuatu yang dibuat-buat
itu kesannya gak baik. Kalau kata Rendi, “Kamu itu polos banget” dan mungkin
kata orang-orang “Lo itu bego atau apa sih?”. Ya, intinya sih jadi diri sendiri
saja lah. Tidak masalah kamu itu bloon, polos atau bego. Karena orang-orang
bukan menilai kamu dari sifat melainkan hati. Oke cukup, takutnya gue lupa
kalau gue lagi nulis sesingkat mungkin. Gue pamit. Semoga menghibur ya reader
:D.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar