Hari ini tgl 23 sama seperti umur
Nis yang kini sudah 23 tahun. Seorang gadis yang berumur 23 kini terjebak
dengan satu masalah HATI. Masih seputar persoalan yang di hadapinya beberapa
hari yang lalu. Hari ini Leanis kembali memulai hari kerja setelah ramadhan
pergi.
Rasa malas itu masih bersarang di
pikiran Nis, tubuh kurusnya enggan beranjak dari kasur empuknya dari selimut
yang menghangatkan tubuhnya. Samar-samar Nis membuka matanya melihat sosok
ibunya yang tertidur dengan pulas. Begitu jam di ponsel Nis menunjukkan pukul 6
tepat Nis beranjak dengan malas dan mulai melakukan ritual paginya yang lumayan
membuat kedinginan.
Pukul setengah tujuh Nis selesai
berpakaian, sama seperti Nis yang dulu. Ketika keluar rumah dia akan
menggunakan Rok, kemeja, dan jilbab. Pagi ini hatinya sedikit terhibur karena
beberapa sms semalam. Mood Nis pagi ini benar-benar baik karena Adit. Walaupun
isi smsnya tidak begitu penting namun entah kenapa Nis malah senyum sepagi ini
dan mungkin juga seharian.
Bahkan sebelum Nis berangkat ke
kantor dia masih sempat membuka satu persatu sms Adit, membacanya berulang kali
sambil senyum-senyum sendirian. Begitu ia sampai pada sms terakhir Nis kembali
membaca sms pertama lagi dan kembali senyum seraya berkata, “Aku menyukai
Tuhan. Bolehkah aku berjodoh dengannya?”
“Kamu itu S2-nya sudah semester
berapa toh nak?” tanya mama Nis begitu Nis ikut bergabung di pagi hari.
“Baru semester satu. Masih lama, Ma.
Masih ada beberapa puluh bulan lagi.” Balasnya dengan senyum sumringah.
“Kamu kalau selesai kuliah S2-nya
langsung nikah saja. Bapak suruh laki-laki yang suka sama kamu itu nunggu saja.”
Sahut papa Nis tiba-tiba.
“HAH?” Nis mengap setengah lingkaran.
“Bapak apaan sih? Nis gak mau nikah buru-buru. Nis masih 23 tahun, masih mau
ngelakuin hal-hal yang lain.” Nis sedikit jengkel.
“Perempuan itu kalau menikah di umur
yang sudah tua gak baik. Semakin cepat kamu nikah kan semakin baik. Lagian anak
yang mau mama jodohkan sama kamu juga baik.” Timpal mama Nis.
“Nis gak mau ma. Nis juga gak mau
nikah terlalu buru-buru, nanti juga akan ada saatnya kok Nis nikah.”
“Pokoknya begitu bapak suruh tuh
anak nunggu kamu saja. Selesai kuliah kamu nikah.”
“Nis gak mau pa. Nis GAK MAU!” Sahut
Nis lagi. “Nis berangkat Ma, pa. Assalamu’alaikum”
Hal terbaik yang bisa Nis lakukan
ketika terjadi perdebatan macam ini hanya mengalah dan pergi. Walaupun dalam
hatinya ia selalu meminta maaf atas ucapannya yang tdk baik pada orang tuanya.
Nis hanya tidak ingin sampai sejauh ini hidupnya terus diatur oleh orang
tuanya.
***
Kata orang ketika seseorang ingin
melupakan orang yang disukainya hal pertama yang dilakukan adalah mencari
kesibukan. Pagi ini Nis menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di kantor.
Walaupun belum begitu banyak kerjaan setelah libur lebaran, namun Nis berusaha
agar hari ini seharian ini kepalanya tidak diiisi dengan Adit maupun masalah
perjodohan yang Mamanya inginkan.
Nis menyukai Adit, sangat
menyukainya. Namun yang bisa dia lakukan hanya menyukainya secara diam.
Andaikan posisi mereka bertukar, Nis seorang pria dan Adit seorang wanita,
sudah dari jauh hari Nis mengatakan suka ke Adit. Ya, kembali lagi wanita itu
selalu banyak kendalanya di banding pria.
Siang itu karena sedang tak ada
kerjaan, Nis habiskan waktunya untuk sekedar ngobrol dengan teman barunya di
kantor. Namanya Zalia, panjangnya Azalia. Dia memang karyawan baru di kantor
tempat Nis bekerja, baru beberapa minggu Zalia bergabung namun Nis dan Zalia
sudah mulai akrab. Bagi Nis, Zalia adalah seorang adik yang enak diajak
ngobrol.
“Kamu berteman dengan Ziya? Satu
angkatan ya?” tanya Nis tiba-tiba membuat Zalia berbalik dan menatapnya dengan
tatapan curiga.
“Iya. Kak Ziya itu baikkk banget.
Kami cukup dekat, dia tempat saya curhat. Dan lagi Kak Ziya anaknya imuttt
banget.” Zalia mengungkapkan dengan berbinar.
“Dia kelahiran berapa?” tanya Nis
lagi tanpa memandang wajah Zalia.
“Kelahiran 88 kak. Kenapa?” Tanya
Zalia tiba-tiba.
“Ahhh tidak apa-apa. Hanya ingin
tahu saja, hehehehe” Nis salah tingkah. “Dia dewasa ya orangnya. Cantik juga.”
Sambung Nis lagi begitu Zalia memperlihatkan foto Ziya padanya.
“Iya, kak Ziya memang cantik. Dia
dewasa mungkin karena umur kali ya kak. Tapi kakak juga cantik kok. Kenapa?
Gebetan kakak suka ya dengan kak Ziya?” Zalia langsung to the point.
“Gebetan apaan? Teman.”
“Ahh gak mungkin. Kalau kakak nanya kayak gini
tentang seseorang wanita, pasti ada kaitannya dengan seorang cowok. Hayooo
gebetan kakak pernah dekat sama kak Ziya ya?” Tungkas Zalia.
“Tidak kok. Tidak. Kamu ini.” Nis mencubit pinggang
Zalia.
“Tenang aja kak, kak Ziya tidak suka kok rebutan
cowok sama orang lain.”
“Hahahaha, siapa juga yang rebutan cowok? Kalaupun
si Adit suka sama Ziya saya mah senang karena wanita yang dia suka ternyata
sebaik itu.” Nis kembali sibuk dengan komputernya.
Sore itu kembali mood Nis berubah menjadi jelek
lagi. Ibarat tadi pagi Nis mogok bicara, kini moodnya membuatnya ingin nangis.
Hanya saja kondisi yang sedang tidak memungkinnya untuk menangis.
***
Hari ini benar-benar melelahkan bagi
Nis. Rasa ingin menangis itu menjadi-jadi, salah satu cara biar orang tuanya
gak nanya macam-macam ketika dia nangis ya cuma nangis dalam sholat. Itulah hal
terbaik yang bisa membuatnya sedikit merasa baikan.
“Bahkan
di umur segini mama tetap mengaturku. Begitu pula ayah, dia yang menentukan
segalanya. Kupikir dengan aku mengikuti semua keinginan orang tuaku mengenai
pekerjaan mereka akan berhenti untuk mengaturku. Bukan aku membantah apa yang
mama dan ayah katakan, hanya saja aku juga ingin mencari kebahagiaanku sendiri.”
Batin Nis.
Nis melangkah menuju ke depan
cermin, mengunci kamarnya dan mulai menatap pantulan dirinya di cermin. Nis
menatap lama dirinya seolah yang di tatapnya bukanlah dia.
“Apa aku juga bisa bahagia Tuhan?
Seperti teman-temanku yang lain yang bersama-sama dengan orang yang dia
sayangi? Aku hanya ingin bisa kembali seperti dulu, aku hanya ingin menjadi
Leanis yang bisa menjadi dirinya sendiri. Kalau jodoh bahkan juga mama yang mengatur,
seumur hidup mungkin aku akan merasakan kesedihan. Bukan karena mama salah
memilihkanku calon, namun karena aku tidak pernah mearasakan bagaimana memiliki
orang yang aku cintai.” Air mata Nis sontak jatuh. Buru-buru dia menghapusnya
sebelum mamanya melihatnya dan kembali bertanya.
Hati
itu tidak bisa di paksakan mama, ada kalanya dia memang ingin ini dan itu. Hati
setiap orang itu tidak sama, aku memang menyayangi kalian namun mengertilah
kalau hati ini juga menginginkan sosok lain. Andai saja bisa ma, aku sudah
membawanya ke hadapan mama. Namun belum ku lakukan karena hati ini masih
bimbang, apakah dia menyukaiku atau tidak. Ini tentang hati manusia, kemana pun
mereka melangkah siapapun yang mereka temani, hati akan berlabuh pada satu
tempat yang menurutnya cocok. Bukan karena dipaksakan cocok.
_Leanis_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar