Agustus 23, 2012

HATI


            Hari ini tgl 23 sama seperti umur Nis yang kini sudah 23 tahun. Seorang gadis yang berumur 23 kini terjebak dengan satu masalah HATI. Masih seputar persoalan yang di hadapinya beberapa hari yang lalu. Hari ini Leanis kembali memulai hari kerja setelah ramadhan pergi.
            Rasa malas itu masih bersarang di pikiran Nis, tubuh kurusnya enggan beranjak dari kasur empuknya dari selimut yang menghangatkan tubuhnya. Samar-samar Nis membuka matanya melihat sosok ibunya yang tertidur dengan pulas. Begitu jam di ponsel Nis menunjukkan pukul 6 tepat Nis beranjak dengan malas dan mulai melakukan ritual paginya yang lumayan membuat kedinginan.
            Pukul setengah tujuh Nis selesai berpakaian, sama seperti Nis yang dulu. Ketika keluar rumah dia akan menggunakan Rok, kemeja, dan jilbab. Pagi ini hatinya sedikit terhibur karena beberapa sms semalam. Mood Nis pagi ini benar-benar baik karena Adit. Walaupun isi smsnya tidak begitu penting namun entah kenapa Nis malah senyum sepagi ini dan mungkin juga seharian.
            Bahkan sebelum Nis berangkat ke kantor dia masih sempat membuka satu persatu sms Adit, membacanya berulang kali sambil senyum-senyum sendirian. Begitu ia sampai pada sms terakhir Nis kembali membaca sms pertama lagi dan kembali senyum seraya berkata, “Aku menyukai Tuhan. Bolehkah aku berjodoh dengannya?”
            “Kamu itu S2-nya sudah semester berapa toh nak?” tanya mama Nis begitu Nis ikut bergabung di pagi hari.
            “Baru semester satu. Masih lama, Ma. Masih ada beberapa puluh bulan lagi.” Balasnya dengan senyum sumringah.
            “Kamu kalau selesai kuliah S2-nya langsung nikah saja. Bapak suruh laki-laki yang suka sama kamu itu nunggu saja.” Sahut papa Nis tiba-tiba.
            “HAH?” Nis mengap setengah lingkaran. “Bapak apaan sih? Nis gak mau nikah buru-buru. Nis masih 23 tahun, masih mau ngelakuin hal-hal yang lain.” Nis sedikit jengkel.
            “Perempuan itu kalau menikah di umur yang sudah tua gak baik. Semakin cepat kamu nikah kan semakin baik. Lagian anak yang mau mama jodohkan sama kamu juga baik.” Timpal mama Nis.
            “Nis gak mau ma. Nis juga gak mau nikah terlalu buru-buru, nanti juga akan ada saatnya kok Nis nikah.”
            “Pokoknya begitu bapak suruh tuh anak nunggu kamu saja. Selesai kuliah kamu nikah.”
            “Nis gak mau pa. Nis GAK MAU!” Sahut Nis lagi. “Nis berangkat Ma, pa. Assalamu’alaikum”
            Hal terbaik yang bisa Nis lakukan ketika terjadi perdebatan macam ini hanya mengalah dan pergi. Walaupun dalam hatinya ia selalu meminta maaf atas ucapannya yang tdk baik pada orang tuanya. Nis hanya tidak ingin sampai sejauh ini hidupnya terus diatur oleh orang tuanya.
***
            Kata orang ketika seseorang ingin melupakan orang yang disukainya hal pertama yang dilakukan adalah mencari kesibukan. Pagi ini Nis menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di kantor. Walaupun belum begitu banyak kerjaan setelah libur lebaran, namun Nis berusaha agar hari ini seharian ini kepalanya tidak diiisi dengan Adit maupun masalah perjodohan yang Mamanya inginkan.
            Nis menyukai Adit, sangat menyukainya. Namun yang bisa dia lakukan hanya menyukainya secara diam. Andaikan posisi mereka bertukar, Nis seorang pria dan Adit seorang wanita, sudah dari jauh hari Nis mengatakan suka ke Adit. Ya, kembali lagi wanita itu selalu banyak kendalanya di banding pria.
            Siang itu karena sedang tak ada kerjaan, Nis habiskan waktunya untuk sekedar ngobrol dengan teman barunya di kantor. Namanya Zalia, panjangnya Azalia. Dia memang karyawan baru di kantor tempat Nis bekerja, baru beberapa minggu Zalia bergabung namun Nis dan Zalia sudah mulai akrab. Bagi Nis, Zalia adalah seorang adik yang enak diajak ngobrol.
            “Kamu berteman dengan Ziya? Satu angkatan ya?” tanya Nis tiba-tiba membuat Zalia berbalik dan menatapnya dengan tatapan curiga.
            “Iya. Kak Ziya itu baikkk banget. Kami cukup dekat, dia tempat saya curhat. Dan lagi Kak Ziya anaknya imuttt banget.” Zalia mengungkapkan dengan berbinar.
            “Dia kelahiran berapa?” tanya Nis lagi tanpa memandang wajah Zalia.
            “Kelahiran 88 kak. Kenapa?” Tanya Zalia tiba-tiba.
            “Ahhh tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja, hehehehe” Nis salah tingkah. “Dia dewasa ya orangnya. Cantik juga.” Sambung Nis lagi begitu Zalia memperlihatkan foto Ziya padanya.
            “Iya, kak Ziya memang cantik. Dia dewasa mungkin karena umur kali ya kak. Tapi kakak juga cantik kok. Kenapa? Gebetan kakak suka ya dengan kak Ziya?” Zalia langsung to the point.
“Gebetan apaan? Teman.”
“Ahh gak mungkin. Kalau kakak nanya kayak gini tentang seseorang wanita, pasti ada kaitannya dengan seorang cowok. Hayooo gebetan kakak pernah dekat sama kak Ziya ya?” Tungkas Zalia.
“Tidak kok. Tidak. Kamu ini.” Nis mencubit pinggang Zalia.
“Tenang aja kak, kak Ziya tidak suka kok rebutan cowok sama orang lain.”
“Hahahaha, siapa juga yang rebutan cowok? Kalaupun si Adit suka sama Ziya saya mah senang karena wanita yang dia suka ternyata sebaik itu.” Nis kembali sibuk dengan komputernya.
Sore itu kembali mood Nis berubah menjadi jelek lagi. Ibarat tadi pagi Nis mogok bicara, kini moodnya membuatnya ingin nangis. Hanya saja kondisi yang sedang tidak memungkinnya untuk menangis.
***
            Hari ini benar-benar melelahkan bagi Nis. Rasa ingin menangis itu menjadi-jadi, salah satu cara biar orang tuanya gak nanya macam-macam ketika dia nangis ya cuma nangis dalam sholat. Itulah hal terbaik yang bisa membuatnya sedikit merasa baikan.
            “Bahkan di umur segini mama tetap mengaturku. Begitu pula ayah, dia yang menentukan segalanya. Kupikir dengan aku mengikuti semua keinginan orang tuaku mengenai pekerjaan mereka akan berhenti untuk mengaturku. Bukan aku membantah apa yang mama dan ayah katakan, hanya saja aku juga ingin mencari kebahagiaanku sendiri.” Batin Nis.
            Nis melangkah menuju ke depan cermin, mengunci kamarnya dan mulai menatap pantulan dirinya di cermin. Nis menatap lama dirinya seolah yang di tatapnya bukanlah dia.
            “Apa aku juga bisa bahagia Tuhan? Seperti teman-temanku yang lain yang bersama-sama dengan orang yang dia sayangi? Aku hanya ingin bisa kembali seperti dulu, aku hanya ingin menjadi Leanis yang bisa menjadi dirinya sendiri. Kalau jodoh bahkan juga mama yang mengatur, seumur hidup mungkin aku akan merasakan kesedihan. Bukan karena mama salah memilihkanku calon, namun karena aku tidak pernah mearasakan bagaimana memiliki orang yang aku cintai.” Air mata Nis sontak jatuh. Buru-buru dia menghapusnya sebelum mamanya melihatnya dan kembali bertanya.
            Hati itu tidak bisa di paksakan mama, ada kalanya dia memang ingin ini dan itu. Hati setiap orang itu tidak sama, aku memang menyayangi kalian namun mengertilah kalau hati ini juga menginginkan sosok lain. Andai saja bisa ma, aku sudah membawanya ke hadapan mama. Namun belum ku lakukan karena hati ini masih bimbang, apakah dia menyukaiku atau tidak. Ini tentang hati manusia, kemana pun mereka melangkah siapapun yang mereka temani, hati akan berlabuh pada satu tempat yang menurutnya cocok. Bukan karena dipaksakan cocok.
_Leanis_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar