Langit siang ini masih begitu
terlihat gelap, hujan mengguyur kota Makassar kala itu. Di sebuah bilik kamar
yang tidak begitu besar tengah duduk seorang perempuan yang sedang menutup
telinga di bawah selimut putih. Suara petir dan guntur yang begitu menggelegar
membuatnya takut untuk memperlihatkan wajahnya. Samar-samar dia mengucapkan, “Maafin
Leanis Tuhan. Leanis janji tidak akan nakal lagi! Leanis janji tidak bandel
lagi.” Begitu mantra yang Leanis ucapkan setiap kali petir menyambar dan
memperlihatkan seolah Tuhan sedang marah padanya.
Namanya Leanis, seorang mahasiswi
yang lebih banyak gak tahu di banding tahu. Leanis atau paling sering di
panggil Nis adalah gadis yang sangat menyukai hujan, bukan hujan yang deras
melainkan gerimis. Nis juga suka dengan Bintang dan kembang api, diantara
saudaranya hanya Nis yang selalu menunjukkan tingkah aneh. Nis punya impian
punya buku yang bisa membuat orang lain tertawa atau setidaknya bisa membuat
orang lain berubah dengan apa yang di tulisnya.
Setiap malam ketika insomnia
menghampiri Nis akan menghabiskan malam dengan menulis di temani secangkir kopi
atau cappucino. Minuman favoritnya juga musuh bebuyutannya. Suara petir
perlahan mulai tidak terdengar lagi, Nis menyingkap selimut yang menutupi tubuh
kurusnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah petir adalah mini bus yang
siap menabraknya.
“Ahhh... Tuhan, jika Kamu marah
padaku jangan disaat aku sendirian. Kamu tahu kan aku begitu tidak suka
mendengar suara kemarahan-Mu.” Celotehnya sambil mengikat rambutnya yang
terurai.
Beberapa minggu terakhir ini Nis
telampau sering di tinggal sendiri di rumah. Kedua kakaknya sibuk sementara
adiknya juga memiliki kehidupan yang mungkin jauh lebih penting di banding
dirinya. Nis kembali melanjutkan aktivitasnya, di tatapnya sebuah kertas putih
yang berisi sketsa kamar impiannya. Disana dia menggambar sebuah jendela tepat
di depan meja belajarnya. Nis selalu ingin punya kamar dengan sebuah jendela
kecil dimana dia bisa menatap langit ketika malam, melihat bintang disaat
dirinya menunggu balasan pesan seseorang, atau sekedar menghitung bintang untuk
membuang waktunya. Kelak ketika ayahnya punya cukup uang untuk meronovasi
rumahnya, Nis akan memperlihatkan kamar impiannya ini lengkap dengan warna dan
pernak-pernik yang menghiasi kamarnya.
Pukul 09.00 PM, Nis menutup kertas
gambarnya dan mulai melanjutkan menulis cerita yang tengah begitu lama dia
kerjakan “Rachel and the death control”.
Sebuah kisah fiktif yang dia ciptakan dari berkhayal. Nis memang suka
mengkhayal, baginya dengan berkhayal akan banyak ide yang datang ke otaknya.
Bahkan disaat sedang tidak melakukan apa-apa dia akan lebih memilih tidur
sambil menghidupkan karakter Rachel dalam imajinasinya.
***
“Hey, dia muncul!” Teriak Nis begitu
melihat orang yang disukai diam-diam muncul di salah satu jejaring sosial.
“Kali ini kamu akan bercerita apa?
Setiap hari aku makin tertarik padamu, bagaimana sosokmu yang nyata juga
bagaimana sifatmu yang nyata? Ahhh... Adit kenapa baru sekarang aku ngerasa
suka sama kamu.”
Adit, pria ketiga yang muncul di
kehidupan Nis setelah Arya dan Rendi. Kata Nis, Adit memiliki senyum yang
membuatnya bisa tertawa ketika kehidupan tidak memihak padanya. Kenal dengan
Adit hanya seperti biasa saja, selalu dari dunia maya. Jika di lihat Adit
adalah sosok pria yang ramah lingkungan menurut Nis. Kenapa? Karena Adit selalu
memiliki senyum yang bisa membuat orang lain ikut tersenyum.
Nis dan Adit memiliki satu bakat
yang sama, yaitu menulis. Bedanya Nis sangat suka dengan menulis hal-hal yang
berbau komedy dan Fiksi, juga kisah kehidupannya yang di tulis dengan gayanya
sendiri. Sementara Adit, mungkin bisa di bilang dia adalah penerus Kahlil
Gibran versi detektif Conan. Setiap tulisannya begitu susah di mengerti, ada
kalanya dia berteka-teki ada kalanya dia bermain dengan kata. Pernah sekali Nis
mencoba menjawab satu kalimat yang dia tulis di jejaring sosial miliknya, semalaman
Nis tidak tidur dibuatnya. Satu pertanyaan yang melayang di pikirannya adalah, “Apakah
ada seorang wanita yang disukai Adit?”
***
Malam itu entah kenapa rasa cemburu
Nis tiba-tiba datang. Cemburu pada seseorang yang bukan menjadi hak kita adalah
tindakan paling bodoh yang jarang dia lakukan setelah nyasar di kota yang telah
lama dia tinggali. Malam itu sebelum memulai menulis cerita Fiktifnya, Nis iseng-iseng
membuka salah satu akunnya di dunia maya. Dan tepat disanalah dia melihat
seorang teman dari Adit turut mendukung kala Adit dan seorang lagi yang bernama
Ziya sedang bercakap.
“Kalau kamu merasa sesak di dada
karena melihat orang yang kamu suka dengan orang lain itu artinya apa?” tanya
Nis pada sahabatnya.
“Itu artinya kamu lagi gak enak badan.”
“Seriusan Piaaaaaaaa....!” Teriak
Nis dari seberang telepon.
“Hahaha, itu artinya kamu lagi jatuh
cinta. Lagian siapa sih orang tidak beruntung yang di jatuh cintai sama kamu.”
Ledek Pia. Nis menutup telepon, pikirannya kacau. Tulisannya dia hentikan untuk
malam ini.
Malam itu dia tahu, orang yang telah
beberapa bulan memenangkan hatinya telah memiliki wanita idaman lain. “Jangan
lagi Tuhan. Aku sudah cukup merasakan sakit ketika Arya menipuku.”
***
Namanya
masa lalu tapi lebih sering kupanggil Re. Dia yang banyak merubahku, namun dia
juga yang banyak menyakitiku. Biarlah Adit yang menghapusnya dan membuatku lupa
bahwa aku pernah menyukai Re.
_Leanis_
Rendi, tidak banyak yang Leanis
tulis mengenai Rendi. Beberapa tulisan tentang Rendi telah dia hapus. Baginya
Rendi adalah masa lalu yang tidak pernah berakhir dengan kebahagiaan.
Mengingatnya pun hanya menambah luka di hati, apalagi mengingat perlakuannya di
saat Nis masih berharap mereka bisa seperti dulu.
***
“Aku ingin bertemu dengannya. Tapi
jika bertemu pasti aku akan gugup setengah mati, bisa-bisa begitu aku berdiri
di hadapannya yang ada malah nampak aku ini seperti Arca Loro Jongrang.” Keluh
Nis pada Pia.
“Ya bawa santai saja. Seperti biasa
ketika kamu bertemu dengan seorang teman lama.” Balas Pia mencoba menyakinkan.
“Tidak bisaaaaaaa Piaaaa. In this
case, kasusnya berbedaaaaaa!”
“Bisa tidak sih kamu ini ngomongnya
gak sambil teriak?” Protes Pia.
“Heheh maaf. Iya nih emang Nis kalau lagi salah
tingkah panikan kayak gini.”
“Lalu bagaimana?” Pia mengalihkan pembicaraan tak
penting dari Nis.
“Ya sebisa mungkin gak usah ketemu. Lagiannn minder
tauuuu....” Kembali Nis berteriak. “Wanita yang dia sukai jauh lebih cantik. Tubuhnya
bagus, lah aku kurus begini. Senyumnya indah lah aku begitu senyum semua kecoa
kabur. Penampilannya juga menarik lah aku ndeso begini.”
“Iya sih kamu emang ndeso, ditambah lagi kamu ini
agak bloon. Mana makannya banyak tapi gak gemuk-gemuk. Tapi satu hal there’s
something in your self hmmm... apa ya sambungannya....” Pia tampak berfikir. “Hmmm...
pokoknya pede saja, di balik semua kekurangan kamu ada satu kelebihan kamu yang
tidak di miliki orang lain. Jadi jangan berkecil hati. Udah atur ulang saja,
kalian ketemu!”
“GAK. POKOKNYA GAK MAU! Udah ahhh mau tidur siang
dulu, siang ini Rachel bakalan ngelawan pamannya sendiri.”
To
be Continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar