Agustus 19, 2012

AKU, KAMU, DIA, & DIA


            Langit siang ini masih begitu terlihat gelap, hujan mengguyur kota Makassar kala itu. Di sebuah bilik kamar yang tidak begitu besar tengah duduk seorang perempuan yang sedang menutup telinga di bawah selimut putih. Suara petir dan guntur yang begitu menggelegar membuatnya takut untuk memperlihatkan wajahnya. Samar-samar dia mengucapkan, “Maafin Leanis Tuhan. Leanis janji tidak akan nakal lagi! Leanis janji tidak bandel lagi.” Begitu mantra yang Leanis ucapkan setiap kali petir menyambar dan memperlihatkan seolah Tuhan sedang marah padanya.
            Namanya Leanis, seorang mahasiswi yang lebih banyak gak tahu di banding tahu. Leanis atau paling sering di panggil Nis adalah gadis yang sangat menyukai hujan, bukan hujan yang deras melainkan gerimis. Nis juga suka dengan Bintang dan kembang api, diantara saudaranya hanya Nis yang selalu menunjukkan tingkah aneh. Nis punya impian punya buku yang bisa membuat orang lain tertawa atau setidaknya bisa membuat orang lain berubah dengan apa yang di tulisnya.
            Setiap malam ketika insomnia menghampiri Nis akan menghabiskan malam dengan menulis di temani secangkir kopi atau cappucino. Minuman favoritnya juga musuh bebuyutannya. Suara petir perlahan mulai tidak terdengar lagi, Nis menyingkap selimut yang menutupi tubuh kurusnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah petir adalah mini bus yang siap menabraknya.
            “Ahhh... Tuhan, jika Kamu marah padaku jangan disaat aku sendirian. Kamu tahu kan aku begitu tidak suka mendengar suara kemarahan-Mu.” Celotehnya sambil mengikat rambutnya yang terurai.
            Beberapa minggu terakhir ini Nis telampau sering di tinggal sendiri di rumah. Kedua kakaknya sibuk sementara adiknya juga memiliki kehidupan yang mungkin jauh lebih penting di banding dirinya. Nis kembali melanjutkan aktivitasnya, di tatapnya sebuah kertas putih yang berisi sketsa kamar impiannya. Disana dia menggambar sebuah jendela tepat di depan meja belajarnya. Nis selalu ingin punya kamar dengan sebuah jendela kecil dimana dia bisa menatap langit ketika malam, melihat bintang disaat dirinya menunggu balasan pesan seseorang, atau sekedar menghitung bintang untuk membuang waktunya. Kelak ketika ayahnya punya cukup uang untuk meronovasi rumahnya, Nis akan memperlihatkan kamar impiannya ini lengkap dengan warna dan pernak-pernik yang menghiasi kamarnya.
            Pukul 09.00 PM, Nis menutup kertas gambarnya dan mulai melanjutkan menulis cerita yang tengah begitu lama dia kerjakan “Rachel and the death control”. Sebuah kisah fiktif yang dia ciptakan dari berkhayal. Nis memang suka mengkhayal, baginya dengan berkhayal akan banyak ide yang datang ke otaknya. Bahkan disaat sedang tidak melakukan apa-apa dia akan lebih memilih tidur sambil menghidupkan karakter Rachel dalam imajinasinya.
***
            “Hey, dia muncul!” Teriak Nis begitu melihat orang yang disukai diam-diam muncul di salah satu jejaring sosial.
            “Kali ini kamu akan bercerita apa? Setiap hari aku makin tertarik padamu, bagaimana sosokmu yang nyata juga bagaimana sifatmu yang nyata? Ahhh... Adit kenapa baru sekarang aku ngerasa suka sama kamu.”
            Adit, pria ketiga yang muncul di kehidupan Nis setelah Arya dan Rendi. Kata Nis, Adit memiliki senyum yang membuatnya bisa tertawa ketika kehidupan tidak memihak padanya. Kenal dengan Adit hanya seperti biasa saja, selalu dari dunia maya. Jika di lihat Adit adalah sosok pria yang ramah lingkungan menurut Nis. Kenapa? Karena Adit selalu memiliki senyum yang bisa membuat orang lain ikut tersenyum.
            Nis dan Adit memiliki satu bakat yang sama, yaitu menulis. Bedanya Nis sangat suka dengan menulis hal-hal yang berbau komedy dan Fiksi, juga kisah kehidupannya yang di tulis dengan gayanya sendiri. Sementara Adit, mungkin bisa di bilang dia adalah penerus Kahlil Gibran versi detektif Conan. Setiap tulisannya begitu susah di mengerti, ada kalanya dia berteka-teki ada kalanya dia bermain dengan kata. Pernah sekali Nis mencoba menjawab satu kalimat yang dia tulis di jejaring sosial miliknya, semalaman Nis tidak tidur dibuatnya. Satu pertanyaan yang melayang di pikirannya adalah, “Apakah ada seorang wanita yang disukai Adit?”
***
            Malam itu entah kenapa rasa cemburu Nis tiba-tiba datang. Cemburu pada seseorang yang bukan menjadi hak kita adalah tindakan paling bodoh yang jarang dia lakukan setelah nyasar di kota yang telah lama dia tinggali. Malam itu sebelum memulai menulis cerita Fiktifnya, Nis iseng-iseng membuka salah satu akunnya di dunia maya. Dan tepat disanalah dia melihat seorang teman dari Adit turut mendukung kala Adit dan seorang lagi yang bernama Ziya sedang bercakap.
            “Kalau kamu merasa sesak di dada karena melihat orang yang kamu suka dengan orang lain itu artinya apa?” tanya Nis pada sahabatnya.
            “Itu artinya kamu lagi gak enak badan.”
            “Seriusan Piaaaaaaaa....!” Teriak Nis dari seberang telepon.
            “Hahaha, itu artinya kamu lagi jatuh cinta. Lagian siapa sih orang tidak beruntung yang di jatuh cintai sama kamu.” Ledek Pia. Nis menutup telepon, pikirannya kacau. Tulisannya dia hentikan untuk malam ini.
            Malam itu dia tahu, orang yang telah beberapa bulan memenangkan hatinya telah memiliki wanita idaman lain. “Jangan lagi Tuhan. Aku sudah cukup merasakan sakit ketika Arya menipuku.”
***
            Namanya masa lalu tapi lebih sering kupanggil Re. Dia yang banyak merubahku, namun dia juga yang banyak menyakitiku. Biarlah Adit yang menghapusnya dan membuatku lupa bahwa aku pernah menyukai Re.
_Leanis_
            Rendi, tidak banyak yang Leanis tulis mengenai Rendi. Beberapa tulisan tentang Rendi telah dia hapus. Baginya Rendi adalah masa lalu yang tidak pernah berakhir dengan kebahagiaan. Mengingatnya pun hanya menambah luka di hati, apalagi mengingat perlakuannya di saat Nis masih berharap mereka bisa seperti dulu.
***
            “Aku ingin bertemu dengannya. Tapi jika bertemu pasti aku akan gugup setengah mati, bisa-bisa begitu aku berdiri di hadapannya yang ada malah nampak aku ini seperti Arca Loro Jongrang.” Keluh Nis pada Pia.
            “Ya bawa santai saja. Seperti biasa ketika kamu bertemu dengan seorang teman lama.” Balas Pia mencoba menyakinkan.
            “Tidak bisaaaaaaa Piaaaa. In this case, kasusnya berbedaaaaaa!”
            “Bisa tidak sih kamu ini ngomongnya gak sambil teriak?” Protes Pia.
“Heheh maaf. Iya nih emang Nis kalau lagi salah tingkah panikan kayak gini.”
“Lalu bagaimana?” Pia mengalihkan pembicaraan tak penting dari Nis.
“Ya sebisa mungkin gak usah ketemu. Lagiannn minder tauuuu....” Kembali Nis berteriak. “Wanita yang dia sukai jauh lebih cantik. Tubuhnya bagus, lah aku kurus begini. Senyumnya indah lah aku begitu senyum semua kecoa kabur. Penampilannya juga menarik lah aku ndeso begini.”
“Iya sih kamu emang ndeso, ditambah lagi kamu ini agak bloon. Mana makannya banyak tapi gak gemuk-gemuk. Tapi satu hal there’s something in your self hmmm... apa ya sambungannya....” Pia tampak berfikir. “Hmmm... pokoknya pede saja, di balik semua kekurangan kamu ada satu kelebihan kamu yang tidak di miliki orang lain. Jadi jangan berkecil hati. Udah atur ulang saja, kalian ketemu!”
“GAK. POKOKNYA GAK MAU! Udah ahhh mau tidur siang dulu, siang ini Rachel bakalan ngelawan pamannya sendiri.”
To be Continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar