Selamat malam para pembaca setia Arini Aris, yang senang menertawakan juga mengejek setiap tulisan saya. Berhubung otak lagi bener nih yah, malam hari ini saya hendak nulis lagi. Kali ini kisah lengkap seputar drama percintaan saya (Yang jelas gak penting banget ya untuk di baca, well silahkan shutdown komputer anda) dan sedikit menyinggung kalian yang sedang patah hati mungkin.
Well, perempuan... Makhluk paling peka perasaannya. Paling gampang GR, paling banyak maunya, paling susah di tebak, paling bawel untuk setiap hal kecil, dan paling gampang nangis. Sama seperti kebanyakan perempuan, kita semua tanpa terkecuali pasti pernah merasakan yang namanya "Jatuh cinta" atau mungkin "Pacaran". Yah, saya pun demikian waktu belum insaf. Kisah ini tidak saya karang, juga bukan fiksi. Ini kisah saya dan mereka yang sempat hadir dan membuat saya bertingkah sangat bodoh. Tolong jangan ambil tissue dulu, ini gak sedih kok. Seriusan!!
Jadi, kisah cinta pertama saya di mulai dari salah satu jejaring sosial. Yah, waktu itu NIMBUZZ masih jadi solusi terbaik menghilangkan rasa bosan juga penat yang ada di kepala. Kala dosen gak masuk, nah si Nimbuzz ini mampu mengusir rasa marah dan sebal. Saya kenal dengan seseorang nan jauh disana, nama lengkapnya "Reynaldi Achmad Gumilang" biasa saya panggil Raldi atau Rey. Dia kuliah di Jakarta jurusan Matematika. Pertama kenal dia pakai nama Mr. Lolipop. Kita kenal tahun 2008.
Saya gak akan bercerita bagaimana isi chatingan kami ya, terlalu panjang dan membosankan. Intinya, saya jatuh cinta sama orang ini karena dia satu-satunya yang paling sering negur saya kalau pasang foto gak pakai jilbab. Pernah sekali dia bilang gini, "Kamu tuh sebenarnya pakai kerudung apa gak sih?" JLEB.... Dan saya jawab "Ya gitu deh..." Mulai hari ini saya suka sama orang ini, memang saya rada aneh, gak pernah ketemu justru suka. Padahal gak tahu kan wajah aslinya gimana. Tapi tenang, saya akhirnya tahu dia itu fisiknya gimana. Raldi tingginya 182cm, panjang kaki 42cm, dia suka basket, mobil, motor, browsing, juga kegiatan bermalas-malasan lainnya. Saya tahu sedikit banyak tentang dia. Itu saja, sampai akhirnya karena suatu alasan, kita lose contact. Yah... gak komunikasi lagi.
Lalu, kembali Tuhan mempertemukan saya dengan seseorang. Namanya Muhammad Aryandi. Kali ini pacar pertama saya. Well, jadiannya pun melalui jejaring sosial. Saya jadian di penghujung 2008, layaknya anak-anak muda yang lagi jatuh cinta, kita sama-sama alay waktu itu. Ngelakuin ini dan itu seperti ABG pada umumnya (Padahal gak ABG lagi). Hampir semuanya saya sharing ke Andy, apa yang saya suka, apa yang dia suka. Yang kami gak suka pun kami saling tahu. Tiap malam kerjaan kami ngabisin pulsa, kalau malam ini saya yang telepon, besok giliran dia. Begitu cara kami menjaga hubungan yang berjarak. Andy beda jauh sama Raldi. Dari segi fisik, tapi tidak pernah saya mempermasalahkannya. Andy yang saya kenal gendut, tingginya 160cm lebih tinggi saya, doyan makan dan tidur. Perihal wajah saya tidak pernah menilai seseorang dari situ, kalau saya nyaman sok atuh...
Kami hampir empat tahun bersama. Hampir yah, hampir!!! Tapi tepatnya seminggu sebelum hari jadi saya, sempat shock waktu dapat sms "Tgl 28 saya nikah. Maaf..." Nah, itu sms paling menyakitkan yang pernah saya terima. Gimana gak menyakitkan coba. Semua rencana masa depan selalu kami bahas tiap malam di telepon. Nikahnya tanggal berapa, tahun berapa, mau punya anak berapa, nanti tinggal di rumah seperti apa. Pengen punya anak cowok/cewek berapa, setelah nikah masih boleh kerja saya atau tidak, mau bisnis juga. Pokoknya hampir semua perihal masa depan kami bahas setiap malam, sampai salah satu diantara kami terlelap dan yang lain mengaminkan di ujung telepon. Lantas pertemuan terakhir kami sekali, sekedar mengucapkan selamat tinggal dan memberikan barang-barang yang terkumpul untuknya. Sekali doang, dan hari itu saya ingat betul bagaimana raut wajah itu.
Setelah Andy tidak lagi-lagi saya mau jatuh cinta. atau pacaran. sekali cukup. Takdir Tuhan berkata lain di garis kehidupan kami. Saya pun sama dengan wanita pada umumnya, awalnya patah hati. Nangis hampir seminggu, makan jarang banget, sampai pernah sakit. Bahkan pernah kepikiran bodoh (Mau nunggu si Andy cerai sama istrinya). Tapi saya kembali berfikir, Tuhan merencanakan semuanya dengan baik. Pasti akan ada yang baik juga di balik ini.
Dari tulisan ini sebenarnya cuma mau ngasih tahu satu hal, "Bagaimanapun seseorang menyakitimu, jangan pernah putuskan tali silaturahim dengan orang itu. Kita di pertemukan baik-baik sama Allah, pisah pun harusnya baik-baik kan?" Yang pacaran 12 tahun lebih pasti ngomong gini, "Kamu mah gak ngerasa gimana rasanya putus setelah 12 tahun sama-sama."
Apa bedanya saya sama kalian yang pacaran hampir puluhan tahun lalu pisah? Kita sama-sama sakit, tapi bukan berarti enggan untuk bertemu kan, kalau seandainya saya di kasih kesempatan ketemu lagi dengan si Andy ini, saya mau banget bahkan. Mau lihat anaknya, mau lihat istrinya, ngobrol sama-sama seputar bagaimana membangun keluarga yang baik. Toh kehidupan itu seperti sebuah roda, terus berputar. Kalau kita terus terjebak dengan perasaan sakit hati karena pisah dari pasangan, kapan majunya?
Saya pun pernah mengalami perasaan "Tidak suka melihat orang yang kalian suka dekat dengan wanita lain". Tapi coba di pikir deh, apa hak kita? Belum jadi mahram kita saja sudah cemburu gak jelas gitu. Dia kan miliknya Allah, bukan milik kita. Dia dekat dengan siapapun, itu hak dia. Boncengan dengan siapapun itu juga hak dia. Kalaupun cemburu, ingat Allah saja. Tidak sepantasnya kita mengklaim milik Allah milik kita. Lantas kalian yang bilang, "Lo mah enak gak ketemu sama mantan lo. lah gue, hampir setiap hari ketemu."
Media sosial kami masih berteman, apa kabar hati saya yang melihat dia dengan wanita lain? sedih? tidak. Justru senang, setidaknya ada yang ngurusin dia lagi kan. Tahu gak, ketemu sama mantan itu melatih tingkat kesabaran juga loh, juga rasa ikhlas. Tahu kan, ilmu ikhlas itu ilmu yang paling susah kita tekuni. Lantas kenapa tidak belajar dari persoalan cinta.
Menangis, sakit hati, kita semua pernah rasa kok. Sama-sama gak enak. Coba gini deh, kalau lihat mantan boncengan sama yg bukan muhrimnya coba didoakan saja 'Ya Allah, tegur dia jika dia salah. Ingat dia agar tidak khilaf.' Justru begini lebih baik dibanding terus menghindar. Atau kalau tidak sengaja ketemu, senyum saja. Saling melempar senyum tidak akan melukai kan? Justru ibadah. Saya banyak belajar dari pacar pertama loh, hingga akhirnya mutusin untuk tidak lagi pacaran. Ikhlas pun belajar dari pacar pertama.
Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang berbeda setiap harinya agar kita belajar. Lantas memisahkan kita dengan orang yang kita sukai karena dia mempersiapkan takdir yang baik untuk kita. Percaya, takdir Allah lebih baik.
Jangan jadi wanita yang cengeng dan selalu bersembunyi. Allah menyukai umat-Nya yang berani belajar dari rasa sakit. Yang berani berkata "Saya ikhlas karena-Mu, dan ridho karena-Mu." Menjaga cinta Allah jauh lebih sulit loh... Itu saja sedikit pelajaran dari saya, so kalian yang baru saja putus atau di tinggal nikah mantan, well tetap jaga silaturahim. Man shabara shafira...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar