Januari 27, 2014

Bukan Keinginanku...

     Cahaya lampu-lampu jalan itu membuatku sedikit terusik, padahal kemarin lampu jalan itu tidak menyala sama sekali dan sekarang tiba-tiba saja nyala makin terang. Kardus kecil tempatku berlindung ku tutup makin rapat menutupi seluruh kepalaku. Yah, jika di lihat aku akan tampak seperti badut kardus yang begitu memprihatinkan. Hanya jika orang-orang mau menolehkan wajahnya ke arahku. Kenalkan, namaku Jannah. Yah aku seorang perempuan berusia 15 tahun. Aku suka arti namaku, SURGA... sebuah tempat yang terlalu indah yang sering aku dengar di malam - malam pengantar tidur.
     Jangan kira aku seorang anak jalanan yang tidak memiliki rumah dan kerjanya minta-minta. Hari ini aku hanya terlalu lelah untuk segera meluncur pulang. Ini kali ketiga Ayahku akan marah jika aku tiba di rumah. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa ku tinggalkan yang mengharuskan aku pulang di atas jam 5 sore. Lantas, karena biaya yang terlalu mahal, aku lebih memilih tinggal di jalan semalaman daripada menginap di sebuah penginapan, toh tidak akan ada yang berani berbuat jahat padaku.
     Ku dengar suara koin yang di lempar tepat di depanku. Mungkin seribuan atau justru lima ratusan. Aku terlalu lelah untuk memikirkan jumlah koin itu. Makin lama orang-orang melangkah, makin terdengar suara bisikan "Kasihan". Rasanya ingin membuka kardus yang menutupi kepala ini lantas meneriaki mereka kembali "Kalian yang terlihat kasihan!!" Orang-orang kadang terlalu naif, simpati yang begitu berlebihan. Padahal mereka tidak bersimpati dengan diri mereka yang sebenarnya jauh terlihat kasihan.
     ***
     Matahari akhirnya muncul hari ini, benar-benar ajaib. Kembali ku kayuh sebuah sepeda pemberian ayah dengan tanganku. Oh iya, Aku Jannah. Seorang perempuan yang terlahir cacat (Tanpa kaki). Ada sih tapi kakiku lebih menyerupai sebuah ekor kucing. Dalam penglihatan, aku juga kurang. Setiap hari Sabtu aku mengayuh sepeda dari kejauhan. Diumurku sekarang, aku bisa bekerja. Aku mengajar di salah satu sekolah luar biasa, sekolah tempat anak-anak cacat. Awalnya aku menolak, umurku masih tergolong umur seorang pelajar namun karena pihak sekolah yang kagum dengan artikel "Seorang perempuan cacat berhasil mengalahkan anak SMA dalam olimpiade fisika." Itu artikel tentang aku, seingatku. Aku bukan seseorang yang gampang mengingat sesuatu, makanya hampir setiap hari buku-buku yang menggantung di leherku di ganti sama ayah.
     "Aku pulang." Ucapku begitu tiba di rumah. Adik-adikku langsung berlarian ke arahku begitu mendengar suaraku. Ku biarkan mereka memelukku sembari melindungi ekorku (Baca : Kaki). Dari dalam terlihat sudah wajah tua itu, kacamata yang telah retak. Aku berniat mengganti kacamata itu tanpa sepengetahuannya begitu aku gajian bulan ini. Rasa cukup itu yang bisa ku lakukan untuk membalas jasanya terhadapku.
     "Bagaimana mengajarmu nak?" Katanya membantuku turun dari sepeda kecil itu.
    "Luar biasa capek. Hahaha.... Ayah turunkan, adik-adik sedang melihatnya." Yah, jujur saja aku tidak begitu suka di gendong terlalu lama. 
     "Tadi ada telepon dari seseorang yang mengaku ibu kandungmu."
     Aku diam. Sejak menangnya aku di olimpiade fisika, makin banyak saja yang menelpon ke panti asuhan kami. Setahuku, ibuku tidak akan pernah mencariku. Aku masih ingat jelas isi suratnya yang berhasil ku baca di usiaku yang keempat tahun. Waktu itu aku tidak tahu kalau ibu membuangku, ku pikir hanya menitipkanku sementara. Barulah sekarang aku mengerti isi surat itu.
     "Dia bukan ibuku ayah. Disinilah keluargaku, kamu ayahku. Itu saja cukup."
     Dia mengangguk. sembari mencium keningku lalu berucap, "Ayah bangga."

Jangan mencari saya, dia bukan lagi anak saya sejak saya simpan dia di depan rumah anda. Keluarga saya malu punya cucuk tidak sempurna seperti itu. Katakan padanya untuk tidak bertanya tentang ibunya ketika dia besar. Ibunya sudah mati, dan dia sebatang kara. Kalau anda tidak sanggup merawatnya atau jijik terhadapnya, buang saja lagi! Sudah menjadi hak anda.

     Isi surat itu yang selalu membuat Jannah merasa sakit hati. Ibu macam apa yang tega membuang anaknya hanya karena anaknya tidak memiliki kaki layaknya anak normal. Hanya karena matanya tidak normal. Jika boleh meminta sebelum lahir, Jannah pun ingin punya kaki. Dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya berlari, bagaimana rasanya menendang. Bukan keinginan Jannah juga dia terlahir seperti ini, mungkin ibunya yang memang tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini.
    Sekarang Janna yang malu memiliki seorang ibu seperti itu. Karena ini juga Jannah belajar mati-matian untuk terus berjuang, jika tubuhnya tidak sempurna, maka ia hanya perlu menyempurnakan otak dan tindakannya agar mencapai hasil yang sempurna. Seperti sekarang, di umur 15 tahun dia berhasil mengumpulkan hampir 100 piagam penghargaan. Karena tidak di butuhkan tubuh yang sempurna untuk melakukan hal yang sempurna.
   

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar