Januari 07, 2014

Rindu, Lalu Kamu..

     Jam 2.00 am, masih sibuk jemarinya bermain di atas papan keyboard laptop tuanya. Dia mengetik huruf demi huruf, membalas semua pesan juga notifikasi dari teman dunia mayanya. Setelah menunggu lama senja muncul, kantuk pun hilang. Dia muncul tepat jam 12 malam, atau biasa dia sebut pagi. Beberapa hari ini selalu saja mata tertutup di kala jam 2 pagi atau bahkan 2.30 pagi. Tidur yang tidak teratur lagi. Terulang lagi, jika seperti ini itu artinya teduh sedang setres-stressnya. Banyak hal buruk yang mendekatinya beberapa hari ini, membuatnya selalu ingin kabur, jauh dari kehidupannya yang sekarang.
     Sesekali teduh tersenyum menanggapi pesan seorang teman yang mendarat di inbox media sosialnya. Dia kembali menikmati malam-malam kala dia menyebut dirinya "zombie". Kondisi yang begitu dia rindukan sebenarnya. Namun, karena sesuatu hal dia tidak lagi mengerjakannya. Hujan, akhirnya menyapa. Senyum itu kembali terlihat, entah hujan yang berhasil membuatnya tersenyum atau justru pesan dari temannya. Hari ini teduh tidak ingin memikirkan keduanya.
      "Kalau dulu jam segini si Andy akan senang menelponmu, menunggu mu tertidur atau sebaliknya." Kata hati seketika. Yah, malam selalu bisa membuat hati rindu akan sesuatu hal, sesuatu hal yang telah lama hilang.
     "Iya. Jadi gak bakalan begadang. Jam 10 pasti udah bunyi aja tuh hape. Hahahaha..." Sahut logika kemudian.
     "Iya. Kadang hingga pulsa habis, atau salah satu jatuh tertidur dan hanya suara nafas yang terdengar." Lanjut hati berusaha kuat.
      "Hahaha, rindu lo yee~" Ledek  Logika. "Udeeeh jadi suami orang, haram lo rinduin."
Karena tak kala hati hendak melakukan salah, Logika selalu bisa membuatnya berfikir jernih. Untuk tidak terlalu menghiraukan perasaan singkat hanya karena rindu datang menyapa. Teduh masih sama, dia terlalu menggunakan perasaan.
***
     Jam istirahat selalu jadi bagian menyenangkan. Kumpul dalam satu meja makan, membahas hal-hal lucu atau bahkan sesuatu yang tidak masuk akal, adalah cara mereka menghilangkan penat. Tertawa memang selalu jadi bagian terbaik untuk membuang stress. Kami, senang melakukannya. Berisik, saling melirik, lalu tertawa seolah disana hanya kami.
     "Ihh... liat saja followernya cewek semua. Mana cowok cuma beberapa!" Ucap seorang teman.
     "Iya. Masa iya dia juga berteman dengan temanku lalu setiap status temanku dia suka." Sambung seorang teman lagi.
     "Tidak apa-apa kan. Setiap orang berhak punya banyak teman, mau itu teman pria atau wanita." Jawab teduh berusaha membuatnya terlihat baik. Di luar mungkin teduh bisa membelanya, dengan senyum untuk mengelabui perasaan cemburunya. Lagi-lagi hujan yang menjadi obrolan siang itu. Tentang dia dan beberapa teman wanitanya. 
     "Bukannya memang cuma kamu doang yang suka!" Kali ini pendapat lain yang muncul. "Dia suka sama kamu emang?"
     Teduh tertawa menanggapinya. "Kasihan, cinta sepihak!!" Sambungnya lagi tanpa memikirkan perasaan orang di hadapannya. Teduh selalu bisa tertawa setiap kali dia katain begitu. Sudah terlalu sering dia jadi bulan-bulanan teman-temannya. Entah kisah cintanya yang selalu sepihak, atau masa lalunya yang di tinggal nikah. Orang-orang menertawakannya, namun tidak pernah teduh menganggapnya serius.
     "Katanya nanti kalau dia sudah mapan hati sama mapan duit." Teduh mencoba membela hujan, ketika orang-orang secara halus menganggapnya sok kegantengan atau apalah yang membuat hujan cukup terlihat buruk siang itu.
     "Ya kalau sama kamu. Kalau mapan hatinya sama orang lain gimana? Gigit jari lagi?"
     Belakangan seringkali terlintas, 'apa sekarang ini orang-orang tidak lagi memperhatikan omongannya.' Lagi-lagi teduh tertawa seraya menjawab, "Ya kalau sama orang lain artinya gak jodoh." Untuk kesekian kali, mulutnya berkata lain dari yang hatinya katakan.
     Hujan... senja... perumpaan yang selalu dia gunakan. Teduh senang duduk tertawa dengan orang-orang hebat ini, tapi tidak untuk setiap lelucon yang mereka lontarkan ke hujan. Bagaimanapun derasnya hujan, bagaimanapun hujan membawa bencana kecil, teduh selalu senang membalikkannya menjadi baik. Tidak ada yang buruk dari hujan. Dia selalu terlihat menawan...

Hujan dan Senja selamanya akan selalu terlihat mengagumkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar