Lagi-lagi mata enggan menutup malam ini. Terlalu banyak yang berkeliaran di pikiran, terlalu banyak kesedihan di hati. Ada ratusan, oh tidak mungkin ribuan hal-hal yang begitu menganggu sedang berkeliling. Dia meminta untuk di perhatikan, dia meminta untuk terus diselesaikan. Teduh tidak langsung untuk mulai meneruskan semuanya. Rasanya ingin menghilang jauh, sangat jauh. Apa yang teduh harapkan cuma satu, dia tidak pernah dipertemukan pada hujan. Pada hujan yang selalu senang ketika turun, pada hujan yang selalu membuat rindu juga pada hujan yang selalu bersikap dingin pada teduh.
Kembali surat digital itu dia baca, hampir ratusan kali dia membaca surat itu tapi juga tidak mengerti apa yang hendak hujan katakan. Hanya dengan membaca surat itu teduh akan kembali tersenyum. Seolah surat itu mengatakan untuk menunggu hujan yang nyatanya tidak sama sekali. Selalu seperti itu, teduh selalu ingin memiliki sesuatu yang seharusnya tidak pernah dia harapkan. Karena semakin banyak dia berharap semakin Tuhan menentang semua harapannya. Baik untuk Teduh, agar dia tidak lagi terluka dan melakukan hal-hal bodoh seperti dulu.
Setelah puas dengan surat digital itu, Teduh kembali berkunjung ke rumah Hujan. Satu-satunya tempat dimana Teduh bisa tahu apa yang dilakukan atau sekedar tahu apa yang terjadi hari ini atau hari kedepannya. Tapi rumah itu tampak kosong, hanya ada beberapa kata sambutan yang telah ratusan kali Teduh baca. Bahkan dia hafal beberapa kalimat disana. Dia juga tahu beberapa hal yang tidak disukai Hujan. Sadar atau tidak ketika kamu jatuh hati pada seseorang kamu akan mengingat dengan sendirinya apa yang disukai dan tidak disukainya.
Puas bermain di rumah tak bertuan itu kembali Teduh berkunjung ke tempat-tempat persinggahan sementara Hujan. Tempat dimana dia selalu menyejukkan, tidak dingin. Tempat dimana Teduh merasa semua bukan untuknya, tempat dimana dia akhirnya sadar pada satu rindu yang tidak pernah dia miliki. Yah, rindu-rindu itu yang membuatnya selalu bertanya, kepada siapa rindu itu di tujukan. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah dia tahu jawabannya, bahkan dalam surat digital yang Hujan tuliskan. Dia tidak mendapat jawabannya. Sikap Hujan juga semua hal-hal yang menyangkutnya. Apakah Jingga si pemilik rindu itu ataukan senja yang lain yang selalu membuat Hujan merasa rindu?
Tentang botol minuman itu, tentang tanaman yang masih hidup Teduh selalu senang mendengarnya. Bahwa Hujan pernah memikirnya sekali. Itu cukup untuk membuatnya senyum selama beberapa hari. Tapi layaknya katanya, salah satu telah menyerah hanya karena belum mapan hati dan uang. Jika saja Hujan tahu Teduh tidak pernah mempermasalahkan uang, namun untuk masalah hati mungkin bukan untuk Teduh. Lantas, menunggu hingga ia mapan bukanlah suatu masalah yang besar bagi Teduh, jika saja Hujan memberi isyarat.
Lalu, sepertinya kata Hujan, "Jangan terlalu mebesar-besarkan. Mencintai sewajarnya saja". Mungkin lebih baik seperti ini. Teduh tidak pernah mencintai lebih dari dia mencintai Tuhannya. Jika Hujan ingin demikian, Teduh akan berusaha melakukannya. Menjadi asing kembali. Mungkin sebaiknya teduh menjauh, menjauh dari kemungkinan-kemungkinan dia akan melihat Hujan lagi. Menjauh dari kemungkinan lainnya. Satu hal yang tidak lagi membuat Teduh ingin tinggal di kota ini, Hujan tidak lagi menjadi alasannya untuk terus menetap di kota ini. Hujan akan menemukan tuan dari rindunya. Dan pasti dia orang yang baik hati, sama seperti Hujan.
Teduh menutup bukunya, didalam buku itu ada beberapa wajah Hujan. Dia sedang serius, tersenyum, tertawa, dan bahkan terlihat begitu sedih. Hanya beberapa diantara tidak begitu mirip. Sampai sekarang Teduh begitu suka menggambar walau hasilnya sangat jauh dari objek gambarnya. Bagi Teduh, menjaga hujan bukan masalah yang begitu berat. Dalam setiap sujud, akan selalu ada namanya untuk penjagaan. Dalam setiap doa, akan selalu ada namanya. Lima ditambah beberapa sunnah. Karena tidak akan cukup doa lima kali sehari hanya untuk berbicara pada-Nya tentang Hujan.
Seperti kata Hujan, "Sukseslah di belahan Bumi yang lain."
Teduh memilih hujan, membuat sebuah pilihan-pilihan yang baik. Namun jika Tuhan dan Hujan punya pendapat yang sama perihal ketidaksukaannya pada Teduh, maka teduh akan pergi. Hanya jika Jingga yang Hujan tunggu datang. Sampai saat itu, Teduh hanya akan memperhatikan dari kejauhan. Cukup dari jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar