Januari 14, 2014

Allah sayang kita, lebih dari yang kita perlu...

     Hujan, lagi-lagi hari ini hujan turun. Semakin hari makin sering saja hujan datang berkunjung. Entah sekedar menyapa atau malah terus-terusan ada hingga rindu terlampiaskan. Teduh memperhatikan deret-deret motor yang tersusun rapi di bawah pohon. Angka yang sepertinya dia kenali namun ternyata salah, ternyata rindu membuatnya berhalusinasi di pagi hari. Langit seolah tidak mendukung hari ini, namun Teduh selalu percaya jika yang di turunkan Allah hari ini akan bernilai manfaat.
     Ada yang berlari, ada pula yang menikmati hujan kala itu. Mereka selalu punya persepsi sendiri tentang hujan. Bisa saja mereka berpendapat, hujan bisa membuat sakit. Atau hujan kotor. Atau lainnya yang menurut mereka tidak baik. Namun selalu ada satu orang selalu suka dengan hujan, "Hujan selalu memberi cerita. Dia lucu, dan kadang menyebalkan." 
     Matanya tak henti menatap setiap orang yang membuat beberapa barang di tangan mereka. Teduh selalu tidak pernah cocok dengan Rumah Sakit, setiap kali berada di tempat ini selalu dia ingin muntah, pusing, dan buru-buru pulang. Namun hari ini dia membuat semuanya terlihat normal. Hanya untuk melihat seseorang yang semalam membuatnya menangis.
     Disana ada tiga orang perempuan. Satu masih balita, satu masih terlihat seperti mahasiswa, dan satu lagi wanita paruh baya. Salah satu diantara mereka tertidur dengan selang infus di tangan dan selang untuk membantu pernafasan di hidung (Mungkin). Teduh memperhatikan semuanya, ada rasa iba yang dia rasakan. Seketika semua dialog yang dia rencanakan buyar, hilang entah kemana. Semuanya hilang tepat ketika melihat Balita yang begitu kurus terbaring lemah dengan dua selang kecil yang menempel di tubuhnya. Anak sekecil itu menanggung sakit yang luar biasa.
    "Bagaimana caranya dia bisa bertahan?"
    "Apa yang harus saya buat?"
    "Bisakah anak ini sembuh?"
    Tiga pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Hanya satu yang berhasil dia jawab, "Insya Allah bisa." Doa, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Memohon kepada pencipta untuk segera menolong balita ini. Karena ketika jemari mereka bersentuhan, seolah ada sebuah tanda yang Teduh lihat. Sebuah tanda yang masih samar, namun enggan dia bilang. Tidaklah seorang manusia mampu melampaui kehendak Tuhannya.
     Tidak jauh dari balita itu baring ada satu anak lagi yang tidak kalah cerianya. Dia berlari kesana kemari, memperhatikan setiap orang yang ada di ruangan. Kadang tertawa, kadang menatap sinis, kadang pula dia terlihat takut dengan orang-orang itu. Lama Teduh di dalam, barulah dia tahu. Anak yang sedari tadi lincah ternyata juga menderita sakit yang luar biasa. Kanker getah bening.
     Rambut anak itu tidak lagi banyak. Hampir botak bahkan. Namun dia masih bisa tertawa tanpa tahu seberapa berbahaya penyakitnya. Atau untuk sekedar tahu apa itu kanker. Bocah itu hanya tahu bermain, berlari. Seorang yang Teduh kenal berkata, "Kamu tidak lihat video anak itu ketika kemoterapi? Astagfirullah, iba saya. Dia membaca Al-Fatiha dengan raut wajah menahan sakit yang luar biasa."

     Bukankah Allah sayang pada mereka?
     Bukankah Allah memberi suatu penyakit pada umat-Nya agar umat-Nya belajar?

Pernah sempat teduh bercita-cita meninggal diusia muda, dengan penyakit kanker. Apapun itu. Ketika di tanya kenapa ingin seperti itu, teduh menjawab "Agar saya tahu mana yang benar-benar peduli dan mana yang palsu!!" Sebuah jawaban yang terdengar begitu tidak masuk akal. Mana mungkin seorang ingin diberi penyakit hanya untuk tahu mana teman mana musuh. 

Kematian bisa datang kapan saja. Bisa sekarang, besok, atau lusa. Dimana saja dia bisa datang. Kapan saja dia bisa datang. Sensasi dingin dan hangat tadi yang teduh rasakan, tidak serta merta membuat dia mengambil kesimpulan seseorang bertahan atau justru pergi. Baginya, setiap kali dia melihat anak-anak yang menderita penyakit yang susah untuk disembuhkan bahkan ketika melakukan segala macam pengobatan. Teduh tahu, Allah begitu sayang pada umat-Nya itu hingga dia ingin segera memeluknya. Dan ketika Allah membiarkannya melewati cobaan yang diterimannya, itu petanda bahwa Allah ingin melihat bagaimana umat-Nya membuat satu kesempatan itu menjadi baik untuk dirinya maupun orang lain.

Teduh menuruni anak-anak tangga itu dengan harapan, "Allah memberi sebuah kesempatan untuk membuat kesempatan itu menjadi baik untuk dirinya dan untuk orang lain." 10 tahun dari sekarang, waktu yang ia tukarkan dengan kesempatan akan menjadi bagian dari kehidupannya untuk melihat kebaikan itu. Penyakit mematikan bukan petanda Allah tidak sayang akan kita, melainkan Allah sayang kita lebih dari yang kita perlu...

Keajaiban dalam hidup itu ada pada doa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar