Hujan lagi-lagi menyapa malu-malu, kadang is berkunjung lalu pulang begitu cepat, kadang ia enggan untuk pulang. Cerita tentang hujan tidak akan pernah ada lagi, terlalu banyak hal tentang hujan yang sulit di katakan bahkan jika tertuliskan ia enggan untuk mengerti. Bukankah, hujan tidak pernah angkuh? Namun, hujanku disini cukup cuek untuk melihat.
"Kalau saya bisa mati muda pasti menyenangkan, menunggu seseorang di surga yang Tuhan tunjukkan. Bukan yang kita tunjuk!"
Kata seseorang yang berdiri di depan Teduh, mati muda baginya menyenangkan. Bukan karena dia punya segudang masalah di dunia, bukan pula karena dia begitu miskin, atau punya penyakit yang mematikan. Namun, karena dia ingin hidup tanpa menangis. Aneh memang, namun begitulah dia menyebut dirinya. Seseorang yang terlalu aneh untuk bertahan hidup di dunia Realitas.
"Menjadi tua itu takdir, namun menjadi bijaksana itu sebuah pilihan. Pilihan yang ada di kehidupan saya cuma satu, mati dalam keadaan khusul khatimah. Diakhir sholat, dalam kondisi bersujud."
Sama halnya yang lain dia juga ingin bertambah tua, bertambah umur. Melihat kerutan-kerutan di wajahnya yang membuatnya memikirkan "Apa yang telah dia lakukan selama dia hidup?". Melihat anak cucunya yang juga mengikutinya sebagai seseorang yang membawa sebuah kebaikan untuk orang lain. Kerutan-kerutan itu nantinya akan mengingatkan dia bahwa setiap kerutan itu adalah buah pikirannya untuk setiap solusi masalah dalam kehidupannya. Bagaimana dia menyelesaikan satu dan lainnya.
"Kamu pun akan kesana Duh! Hanya masalah waktu. Hanya masalah kamu siap atau tidak?"
Setiap dari kami memang akan kesana, perihal siap tidak ada yang akan berkata belum siap. Terkecuali dia terlalu menjadi pengecut untuk bertatap muka langsung dengan Penciptanya. Kembali Teduh bertanya dalam hatinya, "Siapkah saya? Cukupkah bekalku untuk sampai di surga Adn' atau surga Fidaus?" Pertanyaan itu kembali terulang. Beberapa kali. Cukup berhasil membuat Teduh sadar bahwa seseorang yang berdiri di hadapannya tersenyum menunggu jawaban yang keluar dari mulut teduh.
"Siap atau tidak bukan kita menentukannya. Allah tahu setiap umat-Nya kapan ia siap. Tidak mungkin DIA memanggil kita tanpa persiapan terlebih dahulu kan?"
Senyum itu kembali terukir, lantas pertanaan baru kembali terlontar, "Kamu tahu menurutku ada 3 alasan kenapa Tuhan memanggil kita untuk segera menghadap ke dirinya."
"Pertama, orang yang baik : Allah memanggilnya agar dia tidak berubah menjadi jahat jika diberi waktu lebih lama untuk hidup. Kedua, orang yang jahat : Allah memanggilnya agar dia tidak melakukan kejahatan lebih besar lagi. Lantas yang ketiga itu yaitu karena waktu mereka telah habis."
Teduh tertawa pelan, dia suka pilihan yang ketiga. Hingga waktunya habis. Seseorang itu ikutan tertawa melihat wajah Teduh. Dia tersenyum seolah baru saja dia mendapat kabar gembira bahwa hujan akan segera menikah. Kembali dia mengatakan tentang kematian. Sebuah kalimat yang sebenarnya tidak ingin Teduh katakan. Bukankah ada sabda Nabi yang berkata, "Janganlah engkau menghadap-Ku dalam keadaan bujang." Lalu celoteh Teduh kembali terdengar, "Kalau kamu meninggal sekarang dan belum nikah, apa tidak malu kamu sama Allah?"
"Kamu tidak pernah belajar rupanya Teduh. Melakukan hal-hal yang baik untuk anak-anak tidak juga mengajarkanmu akan beberapa hal rupanya. Adapun wanita yang telah meninggal sebelum bersuami, maka dia akan dinikahkan oleh Allah di sorga dari seorang laki-laki dunia yang Allah kehendaki, berdasarkan hadits Nabi :“Dan tidaklah di dalam surga itu ada seorang yang bujang.” (HR. Muslim, 5062)
Syaikh ibn ‘Utsaimin berkata:
“Jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di sorga. Maka kenikmatan sorga tidaklah terbatas hanya pada kaum laki-laki, akan tetapi diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Dan di antara bentuk kenikmatan sorga adalah pernikahan.”
Kutipan itu dia perlihatkan, sebuah hal baru yang teduh dapatkan. Seseorang itu kembali menatap lama dirinya yang terdiam. Wajah Teduh spontan berubah. Seolah seseorang ini baru saja menamparnya tiga kali di wajah. Malu ia mengangkat wajahnya mendengar sebuah nasehat perihal kematian dengan orang yang seusia dia. Teduh kembali melihat wajah itu, wajah sangat dia kenali. Senyum yang selalu terlihat tulus dengan sorot mata penuh kehangatan. Dia memperhatikan wajah itu lama, hingga dia sadar masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan.
"Kita semua pernah terluka Teduh. Pernah. Kita pernah gagal, oh bukan pernah tapi sering. Kita juga pernah berharap lebih akan sesuatu hal, yang ini pasti sering kamu lakukan. Kita juga pernah menangis untuk hal-hal kecil yang tidak berguna. Kita bahkan pernah tidak beriman. Kita pernah ingkar, pernah salah, juga khilaf. Tapi Allah memaafkan semuanya. Tanpa terkecuali!"
Ada bulir air mata yang jatuh di pipi Teduh. Hujan lalu menyambut bulir-bulir air mata itu. Menyambut rasa yang Teduh rasakan. Seseorang itu kembali menatapnya lama, kali ini mereka bertatap muka cukup lama. Seseorang itu tahu betul apa yang Teduh pikirkan sekarang. Beberapa hari dia kurang tidur, sakit, muntah-muntah hampit setiap malam, menunggu semalaman, memperhatikan dari kejauhan. Dan merasa cemburu ketika bertemu.
"Coba pikirkan lagi apa yang telah kamu lakukan Teduh. Kamu mendapat manfaat dari semua yang kamu lakukan? Ada manfaat dari kamu menunggui hujan semalaman? Ada manfaat dari kamu menangisinya? Ada manfaat dari kamu melihatnya?"Teduh menggeleng. Seseorang itu lantas kembali mendekat ke arah Teduh. Jarak mereka hanya 10cm. Mata coklat itu, mata teduh itu saling menatap satu sama lainnya.
"Let Allah decide it. Kun fayakun ukhti. Kun fayakun. Jika Allah berkehendak maka itu yang akan terjadi. Kamu cukup berdoa saja, mohon sama Allah. Dan ingat, persiapkan dirimu untuk kematian. Dia kadang tidak perlu diundang untuk menghampirimu."
Teduh tersenyum puas. Lantas satu pertanyaan kembali membuatnya penasarannya akan jawabannya. Tapi enggan dia tanyakan, jika dia tahu jawabannya hari ini. Obralan perihal kematian akan selesai dengan cepat. Masih ada waktu untuk kembali bertemu, bertemu dengan seseorang yang harusnya mengingatkannya akan mati.
Cermin itu dia tutup bersama suara hujan yang kian deras. Rasa kantuk akibat tidur tiga jam membuatnya ingin segera tertidur. Mati bukan berarti akhir dari segalanya, tapi ia adalah awal untuk hal baru yang lebih baik.
Setiap manusia yang lahir ke dunia punya perannya masing-masing. Dan selalu ada manfaat yang dia bawa untuk orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar